
Akhirnya Laras telah pulih, dia di izinkan untuk pulang. Berin langsung membawanya dan meninggalkan rumah sakit. Dia melajukan mobilnya dan Laras nampak terus memandangi pemandangan di sepanjang jalan.
Berin tersenyum dan melihat kearah Laras. "Bagaimana rasanya kamu bisa melihat lagi?" Tanya Berin.
"Aku bahagia mas, terima kasih untuk semuanya!" Ucap Laras.
Berin menggosok rambut Laras dengan tangannya. "Iya sayang!" Ucap Berin dengan nada bahagia.
Beberapa jam kemudian...
Akhirnya mereka sampai di depan rumah yang nampak asing bagi Laras. "Mas, jadi ini rumah yang kita tinggali sebelumya?" Tanya Laras sambil keluar dari mobil.
"Bukan sayang, ini rumah kita yang baru. Kita disini tinggal bersama mamah!" Ucap Berin.
Laras nampak tertegun mendengar ucapan Berin yang membuat benaknya terus bertanya-tanya. "Mamah, bukannya mas Jerry selalu memanggilnya bunda," batin Laras.
__ADS_1
Berin tersenyum sambil menoleh kearah Laras. "Ayo sayang kita masuk, mamah pasti sudah tidak sabar bertemu denganmu!" Ajak Berin sambil menarik tangan Laras.
Laras hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah kaki Berin. Akhirnya mereka sampai di dalam dan terlihat Ririn tengah duduk di ruang tamu. "Mah, aku pulang!" Ucap Berin.
Ririn langsung bangkit dari tempat duduknya dan melihat kearah mereka. Senyuman yang tadinya terpancar dari bibir Ririn berubah saat melihat wajah Laras. Berin yang menyadari sifat mamahnya langsung memberikan isyarat kedipan mata.
Ririn mengerti dengan maksud anaknya, dia langsung merubah raut wajahnya dengan wajah yang bahagia. "Sayang, akhirnya kamu sampai juga." Ucap Ririn sambil menghampiri dan memeluk Laras.
Laras membalas pelukannya dan batinnya terus bertanya-tanya. "Bukannya bunda tidak menyukaiku, sepertinya ada yang aneh dengan mereka." Batin Ririn terus berdumel.
Ririn melepaskan pelukannya dan menatap wajah Laras. "Sayang maafkan mamah karena mamah kurang respek sama kamu. Tapi mamah janji setelah ini, kalian akan menjadi pasangan yang bahagia," ucap Ririn sambil mencubit pipi Laras.
Ririn langsung mengajak mereka untuk makan, karena dia sudah menyiapkan makanan sebelumnya untuk menyambut kedatangan mereka. Laras nampak menikmati makanannya dengan sangat lahap. "Mah, masakannya enak banget!" Ucap Laras sambil tersenyum.
"Tentu saja enak, kamu tinggal makan!" Ucap Ririn keceplosan.
__ADS_1
Berin yang mendengar semua itu langsung memberikan isyaratnya kembali. "Maksud mamah makanan spesial untuk menyambut kedatangan kamu," ucap Ririn mengulangi ucapannya kembali.
Laras nampak tersenyum dengan canggung. "Sepertinya mamah tidak suka sama aku," batin Laras.
Akhirnya mereka selesai dengan acara makannya, Laras langsung membereskan piring bekas dan membawanya ke dapur. Berin langsung mencegahnya dan menahan langkah kaki Laras. "Sayang kamu tidak perlu melakukan ini!" Ucap Berin.
"Tidak apa-apa mas, aku sudah terbiasa!" Ucap Laras sambil tersenyum dan beranjak pergi.
Ririn hanya menyunggingkan bibirnya karena merasa jijik melihat Laras. "Tidak apa-apa sayang, biarkan dia melakukannya. Lagian mamah juga tidak mungkin melayaninya setiap hari." Ucap Ririn dengan nada ketus.
Laras hanya tersenyum dan langsung membawa piring-piring kotor tersebut ke dapur. Berin nampak menghampiri Ririn yang masih duduk di tempatnya. "Mah, ingat kita harus membuat dia percaya. Ini semua demi membalas sakit hati kita kepada kakek dan Jerry." Bisik Berin.
"Iya mamah juga tahu, tapi mamah benar-benar tidak bisa menahan emosi saat melihat wajah gadis itu," ucap Ririn sambil memonyongkan bibirnya.
Berin langsung merubah ekspresi wajahnya, dia menggenggam tangan Ririn. "Mah aku mohon, tolong lakukan Laras dengan baik demi aku dan demi membalaskan sakit hatiku!" Ucap Berin sambil meneteskan air matanya.
__ADS_1
Ririn yang melihat semua itu, merasa tidak tega dan menghapus air mata Berin. "Iya sayang, mamah akan lakukan semua yang kamu mau." Ucap Ririn sambil tersenyum.
Berin langsung memeluk Ririn i sangat erat. "Terima kasih mah, hanya mamah yang mengerti aku!" Ucap Berin.