
Jeremi nampak Risih dan mendorong tubuh Ririn. "Sudah...! Aku tidak suka jika kamu memelukku seperti ini." Tuturnya.
Ririn menundukkan kepalanya. "Maaf..!" Jawabnya.
Jeremi dan Regina melihat koper yang tengah di bawa Ririn. "Kamu mau kemana?" Tanyanya ketus.
"Aku mau pergi mas! Disini aku bukanlah siapa-siapa lagi. Anakku sudah meninggal dan Mas Benny di penjara." Ucapnya dengan nada melas.
Ririn nampak berpura-pura polos. Padahal hatinya, sedang memohon kepada Jeremi. "Jeremi...! Please tahan aku, aku mohon. Jika kamu ingin aku tetap tinggal, aku pasti akan tinggal." Batinnya penuh harapan.
Harapan Ririn kandas, saat mendengar jawaban dari Jeremi yang membuat hatinya sakit. "Baguslah..! Akhirnya kami tahu diri juga." Ucap Jeremi tanpa menoleh.
Air mata Ririn mulai menetes. Rasa kecewa menyelimuti hatinya. Ririn nampak meremas dadanya yang terasa sakit. "Baiklah, kalau itu yang kamu mau!" Ucapnya mencoba tersenyum.
Ririn berjalan menghampiri Regina dan memeluknya. "Ingatlah...! Aku akan kembali, sebagai nyonya Jeremi. Dan jika saat itu tiba, jangan salahkan aku jika kamu akan mengalami hal yang sama." Bisiknya.
Regina nampak membulatkan matanya dan tersenyum. "Saya tunggu, waktu itu!" Jawabnya.
Ririn kesal dan bergegas pergi. Nadia mengekor dari belakang. Sesampainya di luar, terlihat mobil mewah dengan warna hitam sudah bertengger menunggunya. "Silahkan Nona..!" Ucap supir sambil membuka pintu.
Ririn nampak menoleh ke arah Nadia dan Nadia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ririn dan Nadia masuk ke dalam. Ririn menghela nafas panjang sambil menghapus air matanya. "Ririn kamu harus kuat, semua ini demi cintamu." Batinnya.
Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Nadia hanya tersenyum melihat Ririn yang menekuk wajahnya. "Percayalah...! Badai pasti akan berlalu." Ucap Nadia sambil menggenggam tangan Ririn.
Ririn tersenyum dan berusaha untuk tegar. Akhirnya setelah 30 menit melaju. Mobil terhenti di sebuah gedung pernikahan. Ririn nampak heran dan Nadia hanya mengangguk.
Ririn percaya kepada Nadia dan berjalan ke dalam. Terlihat pengawal membawa mereka ke tempat sebuah ruangan dan ruangan tersebut telah di hias dengan ribuan bunga. Dan terlihat 2 wanita muda tersenyum menyapa kedatangan mereka. "Selamat pagi nona! Izinkan saya untuk merias wajah anda." Tuturnya dengan sopan.
Ririn nampak terkejut dengan apa yang ada di hadapannya. Ia tak menyangka, jika dirinya akan menikah tanpa tahu siapa lelaki tersebut. Ririn menarik tangan Nadia dan menjauh. "Ikut aku...!" Ucapnya dingin.
__ADS_1
Nadia mengekor dan Ririn melepaskan tangannya. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyanya kesal.
Nadia tersenyum dan menggenggam kedua tangan Ririn. "Kamu percayakan sama aku! Lelaki itu, ingin secepatnya menikah sana kamu." Ucap Nadia.
Ririn menghempaskan tangannya. "Kenapa kamu gak bilang sama aku? Bagaimana bisa aku menikah dengan lelaki yang belum aku kenal?" Tanyanya dengan marah.
"Aku hanya ingin kamu bahagia dan tidak ada cara lain. Lelaki itu, tidak mau melakukan perawatan wajah untukmu. Dan jika itu terjadi, kamu harus menikah dulu dengannya." Jawab Nadia.
Ririn bingung dan memojokkan dirinya di sudut ruangan. "Aku ingin pulang..." Ucapnya.
Nadia kesal dan menampar wajahnya. "Kamu lihat aku...! Kamu itu wanita yang cantik, jangan sia-siakan hidupmu untuk Jeremi. Buatlah dua bertekuk lutut di hadapanmu. Dan jika kamu pulang, apa yang akan di katakan Jeremi!" Teriaknya.
Ririn pasrah dan mencoba percaya dengan ucapan Nadia. Ia berjalan menuju perias dan duduk. "Cepatlah...!" Ucapnya.
"Baik Nona!"
...
1 jam telah berlalu...
Ririn akhirnya selesai dengan hiasan dan baju pengantin yang melekat di tubuhnya. Ririn membuka matanya dan menatap dirinya di depan cermin. "Cantik!" Itulah kata yang pertama Ia ucapkan.
Memang benar, riasan di wajahnya benar-benar berbeda. Gaun pengantin berwarna putih dengan manik-manik yang menghiasi. Du tambah, dengan hiasan berlian di kalung dan anting yang menjadi daya tarik tersendiri.
Senyuman nampak terpancar di wajahnya. Ririn benar-benar puas melihat kecantikannya. Tapi sayang, pernikahannya bukan dengan lelaki yang Ia cintai.
Nadia menghampiri dengan bila mata yang membulat. "Wah...! Cantik banget, aku sampai Pangling melihatnya." Pujinya.
Ririn mengurungkan senyumnya. "Jika kamu coba-coba menjebakku! Kamu lihat saja nanti..." Ucapnya dengan tatapan sinis.
__ADS_1
"Percayalah...! Aku sudah menganggap mu saudara." Jawab Nadia.
Akhirnya Ririn mencoba untuk percaya. Dengan ragu Ia melangkah menuju pelaminan. Dari kejauhan, terlihat sesosok lelaki tengah duduk di depan penghulu. Dari belakang, sosoknya terlihat kekar dan gagah.
Ririn berjalan dengan penuh rasa penasaran. Akhirnya Ia sampai dan duduk di sampingnya. Ririn menoleh melihat wajah lelaki yang akan menjadi suaminya. Dan ternyata senyumnya mulai melebar, Ia nampak terpesona dengan wajah lelaki yang akan menjadi suaminya. "Ganteng...! Ternyata Nadya tiday berbohong, setidaknya aku bisa menikmati hidup meskipun tanpa cinta." Batinnya.
Akhirnya mereka melakukan ijab Kabul. Setelah selesai mereka saling menatap dan lelaki itu nampak tersenyum dan mencium kening Ririn. Ririn tersenyum dan sungkem. Tak lupa, mereka memasangkan cincin pernikahan kepada keduanya.
Ririn masih tak bisa memalingkan pandangannya. Ia benar-benar bahagia menikahi lelaki tampan dan kaya. Setelah selesai resepsi, para tamu undangan mulai pergi satu persatu. Begitupun juga dengan Nadia, Ia pamit dan lelaki itu mengedipkan matanya. "Saya tunggu transperan ya." Bisik Nadia.
Lelaki itu tersenyum dan mengangguk. Hari sudah menjelang malam, Ririn di bantu perias untuk melepaskan hiasan di kepalanya. Setelah selesai, Ririn disuruh untuk membersihkan diri dan mereka menyiapkan piyama dewasa yang tipis.
Ririn segera pergi ke kamar mandi dan dengan cepat membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Kepalanya nampak pegal karena sanggul tang besar. Setelah selesai, Ririn keluar dengan menggunakan handuk.
Di kamarnya terlihat 2 wanita tengah menunggu. "Nona berbaringlah! Kami akan memijat seluruh tubuh anda." Tuturnya.
Ririn menganggukkan kepalanya dan berbaring. Ia nampak memejamkan mata dan menikmati setiap sentuhan dari tangan kedua wanita tersebut. Ia benar-benar rileks, ia bagaikan putri yang sedang bahagia.
Setelah selesai, mereka pamit untuk keluar. Ririn mengenakan piyama yang sudah di siapkan. Tak lupa, ia menambah riasan di wajahnya untuk membuat suaminya terkesima.
Cklek...
Knop pintu berbunyi, Ririn menoleh ke arah suara dan tersenyum. "Mas..!" Sapanya.
Lelaki itu juga melepaskan senyuman paling manis. Ririn menghampiri dan mengalungkan tangannya. "Mas...!" Ucapnya dengan mata yang berbinar.
Lelaki itu tersenyum dan memegang dagu Ririn. "Kamu cantik sekali! Saya beruntung, bisa bertemu denganmu." Ucapnya dengan lembut.
"Mas...!" Ucap Ririn tersipu malu.
__ADS_1