
Jeremy terbangun dan dia melihat sekeliling. "Ternyata ini kamarku, syukurlah jadi semua itu adalah mimpi." Batin Jeremy tersenyum.
Terdengar suara riuh di luar, Jeremy heran dan berjalan keluar dari kamar. "Kenapa banyak orang, apa jangan-jangan..!" Ucap Jeremi terhenti.
Dan iya, matanya mulai membulat ternyata semua yang di lalui ini benar-benar nyata. Hatinya hancur dan tak bisa berpikir lagi, dia berjalan menghampiri jenazah Pak Candra yang tengah terbaring.
Jerry menatap Jeremi yang tengah terduduk di depan jenazah tanpa berkata-kata. "Pah, sabarlah! Semua ini adalah cobaan untuk keluar kita." Ujar Jerry sambil memeluk Jeremi.
Jeremi tak membalas pelukannya, pikirannya masih melayang di masa lalu yang mengingat kebahagiaannya bersama Pak Candra dan Riana. Air matanya jatuh dan dia menangis. "Papah harus tegar, semua ini demi aku dan Sindy." Bisik Jerry.
Jeremy menatap wajah Jerry dan merabanya. "Iya, aku harus kuat demi anak-anakku! Jika aku lemah seperti ini, bagaimana dengan anak-anakku." Batin Jeremy.
Dia mengambil nafas panjang dan menghapus air matanya. "Terima kasih nak, kalian adalah kekuatan ku." Ujar Jeremi.
__ADS_1
Jerry menganggukkan kepalanya dan memeluk Jeremi kembali. "Aku tahu, papah saat ini down! Tapi aku harus berusaha kuat menahan semua ini demi papah." Batin Jerry.
"Ya sudah, kita makamkan kakek mu. Hari sudah mulai sore, sebaiknya kita cepat." Ucap Jeremi.
Jerry menganggukkan kepalanya dan menyuruh warga yang ada di sana untuk membawa jenazahnya. Semua keluarga mulai mengikuti keranda dari belakang, kecuali dengan Benny. Dia tidak ada di sini karena sedang bertugas di luar kota dan handphonenya tidak bisa di hubungi.
Akhirnya mereka menguburkan jenazah tanpa Benny. Berin nampak tidak terlihat sedih, wajahnya nampak berseri-seri. Ririn dan Berin tidak ikut bergabung dengan mereka, Jerry beserta keluarga menyaksikan dari dekat jenazah di masukkan ke liang lahat sampai jenazahnya terkubur di tanah.
Pak ustadz memanjatkan doa dan setelah selesai semua warga mulai pergi meninggalkan pemakaman. Sindy dan Jerry menaburkan bunga di atas kuburan nya.
"Pah, ayo kita pulang! Hari sudah menjelang sore." Ujar Sindy sambil meraih tangan Jeremi.
Jeremi menganggukkan kepalanya dan mereka pergi meninggalkan pemakaman. Di perjalanan tak ada yang buka mulut, semuanya nampak masih terpukul dengan kepergian Pak Candra.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, mobil berhenti dan mereka keluar satu persatu. Jeremi membuka pintu dan terlihat Benny tengah duduk di sofa.
Melihat kedatangan mereka, Benny langsung menghampiri. "Ada apa ini, kenapa di sini bau kamper?" Tanya Benny sambil melihat kearah mereka.
Mereka terdiam, Berin dan Ririn langsung menghampiri Benny. "Pah, kakek meninggal!" Ujar Berin.
"Apa?" Tanya Benny dengan nada terkejut sambil membulatkan matanya.
"Iya, mas! Papah meninggalkan dan kami baru saja selesai memakannya." Jawab Ririn.
"Tidak, ini tidak mungkin. Kenapa kalian tidak memberitahuku, aku adalah anak kandungnya dan kalian tidak memberitahuku termasuk kamu Jeremi." Ujarnya sambil menunjukkan jarinya ke arah Jeremi.
Jeremi tersenyum dan menyunggingkan bibirnya. "Seharusnya aku yang bertanya sama kamu! Kenapa handphone kamu tidak bisa di hubungi, kenapa saja kamu ini? Kami terus menghubungimu sampai tidak tahu berapa ratus kali." Jawab Jeremi.
__ADS_1
Benny nampak terdiam, dan tak bisa menjawab pertanyaan Jeremi. "Sudahlah, jangan di bahas lagi. Yang sudah mati biarlah mati, percuma kita berdebat karena kenyataannya papah tidak akan pernah hidup kembali." Ujar Benny sambil melenggang pergi.