
Di perjalanan tidak ada pembicaraan diantara mereka, Berin nampak menatap wajah Laras yang sedang melamun. Dia merasa bersalah karena perkataan mamahnya yang melukai hati Laras.
Sedangkan Laras tidak dengan sebaliknya, dia melamun karena memikirkan Jerry dan ingin bertemu dengannya. Dia tak mengambil hati ucapan dari Ririn dan sikapnya, yang dus inginkan hanya bertemu dengan Jerry kekasihnya.
30 menit berlalu, Berin memarkirkan mobilnya dan Laras langsung keluar dari mobil. "Aku masuk duluan, aku tidak ingin kalau para karyawan kamu menggunjingkan tentang kita." Ucap Laras dengan nada ketus.
"Biarkanlah mereka berkata, lagi pula kita memang sepasang kekasih," ucap Berin sambil tersenyum dan menghampiri.
Laras menggelengkan kepalanya dan memalingkan pandangannya. "Baiklah, aku tidak akan melakukan itu. Tapi kamu harus ingat, jika nanti di kantor aku bergandengan dengan wanita lain jangan anggap serius." Ucap Berin mengingatkan.
"Oke, kita sepakat!" Ucap Laras sambil menganggukkan kepalanya.
Berin tersenyum dan mengelus pipi Laras, mereka langsung masuk ke dalam tanpa berbarengan. Laras langsung menuju tempatnya yang telah di sediakan sebelumnya. Karyawan lain nampak menghampiri dan berkenalan dengannya.
Laras merasa bahagia, karena teman-teman kerjanya adalah orang yang ramah dan baik. Laras meminta penjelasan untuk pekerjaannya dan memperhatikannya dengan serius.
Setelah merasa cukup mengerti, Laras berterima kasih kepada teman yang ada di sampingnya dan langsung melanjutkan pekerjaan.
Beberapa jam berlalu, Laras tercengang melihat Berin yang sedang menggandeng wanita cantik dengan tubuh yang seksi masuk ke ruangannya. "Ternyata ucapnya memang benar!" Gumam Laras sambil tersenyum jijik.
__ADS_1
"Kamu jangan heran dengan sikap bos kita, dia pecinta wanita. Dan tidak sedikit karyawan cantik di ajak ke ruangannya dan kamu harus berhati-hati." Bisik rekan kerja di sampingnya.
"Iya mbak, terima kasih!" Ucap Laras sambil tersenyum.
"Jangan panggil mbak dong, kesannya aku jadi seakan-akan tua, panggil saja aku Tiwi." Ucap wanita itu sambil tersenyum.
Laras menganggukan kepalanya dan tersenyum. Dia langsung melanjutkan pekerjaannya dan tidak menghiraukan dengan kelakuan Berin.
Jam pun sudah menunjukkan pukul 12:00, para karyawan bergegas untuk pergi beristirahat. Tiwi menghampiri Laras dan mengajaknya pergi ke kantin. Laras mengiyakan ajakannya dan pergi bersama.
Sesampainya di kantin, mereka memesan sesuatu untuk di makan, dan bercengkrama bersama. Meskipun Laras baru mengenal Tiwi, tapi sikapnya yang ramah dan membuatnya nyaman menjadi seakan-akan sudah lama saling mengenal.
Terlihat Jerry tengah memainkan bolpoin di tangannya, hidupnya serasa hampa setelah kepergian Laras. Dia menjadi dingin dan marah-marah tak jelas kepada para karyawannya. Para karyawan enggan untuk menghampirinya ataupun menyapa.
Tok..tok...
Terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan lamunannya. "Siapa sih, mengganggu saja!" Batin Jerry.
"Masuk!" Ucap Jerry dengan nada tinggi.
__ADS_1
Terlihat seorang lelaki dengan postur tubuh yang besar dan menggunakan baju serba hitam menghampirinya. Jerry langsung bangkit dari duduknya dan tersenyum. "Bagaimana, apakah kamu menemukan keberadaan Berin?" Tanya Jerry dengan raut wajah penasaran.
Lelaki itu menganggukan kepalanya, Jerry begitu antusias dan menggoyangkan tubuh lelaki tersebut. "Dimana?" Tanya Jerry dengan begitu bersemangat.
"Di daerah Yogyakarta, dan Berin mempunyai perusahaan di sana. Dan kebetulan kita juga, mempunyai klien penting yang harus kita temui di sana." Ucap lelaki tersebut.
Senyuman lebar terpancar dari wajahnya. "Bagus, kalau begitu siapakah pasport untukku dan kita akan pergi ke sana secepatnya." Ucap Jerry sambil melihat kearah lelaki tersebut.
"Baik pak, saya akan mengurus semuanya." Ucap lelaki itu sambil melenggang pergi.
"Tunggu!" Ucap Jerry menghentikan langkahnya.
Lelaki itu berbalik dan melihat wajah Jerry. "Ada apa pak?" Tanyanya dengan nada sopan.
"Ini bonus untukmu!" Ucap Jerry sambil memberikan amplop coklat yang cukup tebal.
Lelaki itu tersenyum dan bahagia. "Terima kasih pak, semoga uang ini bisa terganti dengan kebahagiaan yang lebih besar." Ucap lelaki itu.
"Amin!" Ucap Jerry sambil tersenyum.
__ADS_1
Lelaki tersebut pergi meninggalkan ruangan Jerry dan terlihat Jerry melihat foto di handphonenya. "Sayang tunggu aku, aku akan menjemputmu!" Ucap Jerry sambil meneteskan air matanya.