CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Perlakuan Berin


__ADS_3

Di kediaman Berin...


Waktu sudah menjelang malas, Laras pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang. "Kenapa aku merasa asing dengan mas Jerry, padahal sebelumnya aku bisa melihat mas Jerry sangat aku cintai tapi kenapa rasa itu seakan hilang," batin Laras yang terus bertanya-tanya.


Cklekk...


Suara knok pintu terdengar, Laras langsung menoleh ke arah pintu dan terlihat berin masuk ke dalam dengan senyuman. "Malam sayang!" Sapanya.


Laras langsung bangkit dari tidurnya dan duduk di atas ranjang. "Malam mas, ada apa kamu kesini?" Tanya Laras dengan raut wajah heran.


"Loh, kok ada apa? Inikan kamar kita berdua, jadi aku kesini untuk istirahat dan..." Ucap Berin terhenti sambil mendekati wajah Laras.


Laras langsung mendorong wajah Berin. "Maaf mas, aku tidak bisa. Kita bukan suami istri, jadi aku tidak ingin melakukannya," ucap Laras.


Berin yang mendengar semua itu nampak mengepalkan tangannya dan memberikan tatapan benci kepada Laras. "Jadi kamu menolakku?" Tanya Berin.


Laras menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Berin yang melihat semua itu langsung mencengkram dagu Laras. "Aku telah melakukan semuanya untukmu, apakah ini semua balasanmu?" Tanyanya dengan mata yang merah.

__ADS_1


"Mas sakit!" Rintih Laras sambil meneteskan air matanya.


"Sakit, kamu bilang sakit! Kamu tahu selama ini aku sudah menahan semua beban yang kamu berikan, dan sekarang dengan mudahnya kamu menolakku!" Ucap Berin.


Laras tak bisa menjawab, dia hanya menangis menahan rasa sakitnya. Berin langsung menghempaskan tubuh Laras dan dia langsung terjatuh dari ranjang. "Sebaiknya kamu tidur di bawah, tanpa alas dan juga bantal." Ucap Berin sambil menunjukkan jarinya.


Berin langsung pergi ke atas ranjang, dia membaringkan tubuhnya yang masih terasa lemas karena menahan birahinya yang cukup besar.


Sedangkan Laras hanya menatapnya dengan penuh tatapan ketakutan dan tekadnya semakin bulat jika lelaki yang ada di hadapannya bukanlah kekasihnya yang selalu ingin dia lihat untuk pertama kalinya. Laras pun membaringkan tubuhnya di atas lantai yang dingin tanpa alas dan bantal.


Terlihat Laras membuka matanya, saat cahaya matahari masuk menembus sela-sela jendela. Dia bangkit dari tidurnya dan melihat kearah ranjang, Berin nampak sudah tidak berada di sana.


Laras langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah selesai dia langsung keluar dari kamar dan menuruni anak tangga satu persatu.


Ririn nampak tengah duduk di meja makan, dia memberikan tatapan jijik kepada Laras. "Pagi mah!" Sapa Laras.


Ririn tersenyum sambil menyunggingkan bibirnya. "Pagi kamu bilang, kamu lihat ini sudah jam 09:00." Ucap Ririn sambil melihat kearah jam dinding.

__ADS_1


"Maaf mah, aku kesiangan!" Ucap Laras.


"Kesiangan, memangnya kamu habis ngapain. Ngelayanin anakku saja tidak!" Ucapnya dengan nada ketus.


"Mah, walau bagaimanapun aku punya harga diri. Kita berdua belum menikah, dan itu semua perbuatan dosa," ucap Laras.


"Sudahlah, jam segini kamu sudah ceramah. Dan kamu ngomongin harga diri, itu terdengar lucu," ucap Ririn sambil tersenyum.


"Memangnya kenapa mah?" Tanya Laras.


Ririn bangkit dari duduknya dan langsung berjalan mendekati Laras. "Kamu dengar yah wanita buta, jika kamu menolak dan tidak melayani anakku itu artinya kamu disini hanyalah seorang pembantu. Dan jika kamu tidak bekerja, kamu tidak akan dapat makanan," ucap Ririn memberi ancaman.


"Iya mah, aku juga sadar diri!" Jawab Laras.


"Bagus, kalau begitu kamu segera sapi dan pel semua lantai yang ada di sini dan ingat kamu tidak boleh makan sebelum pekerjaanmu selesai," ucap Ririn sambil melenggang pergi.


Laras langsung mengambil sapu dan alat pel, dia mengerjakan semua tugasnya dengan tenang dan senyuman. "Aku harus menemukan kebenaran, apa yang harus ku lakukan?" Tanyanya dengan pikiran yang terus melayang-layang.

__ADS_1


__ADS_2