CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Perdebatan di meja makan


__ADS_3

Setelah merasa cukup dan puas dengan penampilannya, dia keluar dari kamar dengan menenteng tas. Terlihat berin dan Ririn tengah duduk di meja makan. Mata mereka seakan tak bisa berkedip, melihat penampilan Laras yang terlihat cantik dan mempesona. "Ternyata wanita kampungan itu, bisa cantik juga!" Batin Ririn.


Berin bangkit dari duduknya dan menatap takjub dengan penampilan Laras. "Ras, kamu cantik sekali. Penampilan kamu seperti ini, cocok banget menjadi istri CEO." Puji Berin sambil tersenyum.


Laras nampak tersipu malu dan pipinya memerah. "Ah, mas kamu terlalu banyak memuji." Jawabannya.


Ririn nampak menyinggung bibirnya, dia merasa kesal karena pujian Berin. "Sudahlah sayang, jangan terlalu banyak memuji nanti dia besar kepala, ucap Ririn dengan nada ketus.


Senyuman Laras pun memudar, mendengar ucapan Ririn yang semakin hari semakin pedas. "Iya, mas mamah benar!" Ucap Laras dengan nada lemas.


"Mah, tolong jangan bersikap seperti ini terus! Dia calon istriku, seharusnya mamah perlakuannya dengan baik," ucap Berin.


"Iya, iya mamah minta maaf. Ayo cepat kalian makan, nanti terlambat lagi." Ucap Ririn sambil melihat kearah Laras dengan tatapan tidak suka.

__ADS_1


Laras dan Berin duduk dan memakan makanan yang sudah tertata di meja makan. "Lain kali kamu harus bangun pagi, kamu harus menyiapkan sarapan untuk Berin." Ucap Ririn sambil melihat kearah Laras.


"Cukup mah, jangan terlalu mengekang Laras terus!" Ucap Berin dengan nada kesal.


"Bukannya mamah mengekang, tapi ini memang kewajiban Laras sebagai perempuan. Lagi pula sebentar lagi dia akan menjadi istrimu." Jawab Ririn.


"Iya, ta..." Ucap Berin terhenti.


"Sudahlah mas, jangan berdebat lagi sama mamah. Ucapan mamah juga tidak ada salahnya, aku memang harus belajar melayani kamu." Ucap Laras sambil memegang tangan Berin.


"Tentu saja mas!" Jawab Laras tanpa ragu.


Berin tersenyum dan menggenggam tangan Laras dengan erat. "Kalau begitu menikahlah denganku secepatnya!" Ucap Berin dengan nada serius.

__ADS_1


Laras nampak terbelalak mendengar ucapan berin, dia langsung melepaskan tangan Berin. "Maaf mas, kalau untuk masalah itu aku belum siap. Aku ingin menikah dengan hasil jerih payahku sendiri." Ucap Laras sambil tersenyum.


"Ras, uangku kan uangmu juga. Jadi untuk apa memikirkan biaya untuk pernikahan, apalagi bekerja." Ucap Berin meyakinkan Laras.


"Maaf mas, kamu tahu sendiri aku adalah wanita yang mandiri dan tidak mau terus bergantung padamu, jadi kamu tolong mengerti aku!" Ucap Laras mencoba meyakinkan Berin.


"Baiklah kalau itu kemauan kamu, aku tidak akan memaksa." Ucap Berin sambil tersenyum dan pergi meninggalkan meja makan dengan wajah lesu.


Ririn yang mengerti dengan sikap anaknya langsung menghampiri Laras dan mencengkram dagunya. "Kamu lihat, anakku merasa kecewa dengan jawabanmu!" Ucap Ririn sambil membukakan matanya.


"Aw, mah sakit," rintih Laras.


Ririn tersenyum puas melihat air mata Laras menetes, dia langsung melepaskan cengkeramannya. "Ingat, jika anakku meneteskan air mata maka kamu juga!" Ucap Ririn dengan penuh ancaman.

__ADS_1


Laras menganggukan kepalanya sebagai jawaban dan pergi meninggalkan Laras. "Mana mungkin aku menikah dengan Berin karena dia bukanlah orang ingin aku nikahi selama ini." Batin Laras dengan nada kesal dan tersenyum.


Berin pun menghampiri Laras ke meja makan, dan mengajaknya untuk berangkat. Akhirnya mereka berdua berangkat dan Berin langsung melajukan mobilnya menuju kantornya.


__ADS_2