CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Di kurung


__ADS_3

Tangan Regina terus di tarik tanpa ampun, Irwan membawanya ke ruangan rahasia yang ada di dalam tanah. "Kamu lihat semua ini!" Ucap Irwan.


Irwan melepaskan tangan regina dan dia nampak syok melihat sekeliling kamar tersebut. "Kenapa semua fotoku ada di sini?" Tanyanya.


Irwan tersenyum dan menyalakan lampu kamar tersebut. Regina menggelengkan kepalanya melihat semua barang-barang yang ada di tempat itu, semuanya ada fotonya.


Foto di saat Riana kecil, remaja sampai dewasa ada di sana. Termasuk foto saat Riana menangis, tersenyum dan bahagia pun ada. Regina tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. "Apa maksudnya ini semua?" Tanya Regina kembali sambil menoleh.


Irwan tersenyum dan duduk manis di hadapan Regina. "Lihat aku! Aku disini selalu menanti, kami masih ingat aku adalah lelaki yang dulu kamu tolak dan lebih memilih bodyguard kamu. Aku juga lelaki yang sama, disaat kamu melemparkan surat cinta yang ku tulis tepat di hadapanku." Jawab Irwan.


Regina termenung dan dia mencoba mengingat masa lalunya. "Mungkinkah kamu si cupu!" Ucapnya.


Irwan tersenyum dan melebarkan tangannya. "Iya, ini aku sayang! Selama ini aku selalu menunggumu, aku sangat mencintaimu." Ucapnya sambil mendekati Regina.


"Hentikan! Aku minta maaf, saat itu mungkin aku masih labil." Teriaknya.

__ADS_1


"Baik! Aku akan maafkan kamu, tapi kita mulai semuanya dari awal lagi." Ujar Irwan kembali.


Regina menggelengkan kepalanya dan berjalan mundur. "Tidak, aku tidak pernah mencintaimu! Aku hanya mencintai Jeremi."


Irwan berjalan dan terus mendekati Regina. Hingga langkah Regina terhenti oleh tembok dan dia nampak panik. Irwan tersenyum dan memegangi kedua tangan Regina dan menghimpitnya ke tembok. "Apa ruginya sih? Aku lelaki dan Jeremi lelaki! Aku punya burung dan dua juga punya burung. Mungkin punya ku lebih besar dan lebih kuat dari pada milik Jeremi." Ucapnya dengan senyum ketir.


"Aku mohon sadarlah, kita bisa bicara baik-baik!" Bujuk Regina.


Irwan menggelengkan kepalanya dan mendekati leher Regina. Dua nampak menyusuri bagian leher Regina yang putih dan mulus.


Irwan semakin bernafsu dan meninggalkan tanda kepemilikan di leher Regina. Tak lupa Irwan mendekati bibir regina dan dia langsung menciumnya dengan buas. Karena geram, regina langsung menggigit bibir Irwan dengan cukup keras. "Awww...!" Teriak Irwan.


"Brengsek!" Ucapnya sambil menyeka darah yang ada di bibirnya.


Irwan langsung melayangkan tamparan di pipi mulus Regina. Tanpa ampun, Irwan terus menamparnya sampai keluar darah dari bibirnya. "Kamu memang wanita yang tidak tahu di untung, seharusnya kamu bersyukur aku mau menampung mu selama ini." Teriak Irwan.

__ADS_1


Regina tak menjawab, tubuhnya lemas dan terjatuh ke lantai. Dia tak menyangka semuanya akan seperti ini. Semua aksi balas dendam nya harus mendapatkan batu sandungan yang bisa membuatnya menderita.


Regina menangis dan Irwan meninggalkan ruangan tersebut. "Seharusnya dulu aku menemui Jeremi dan membicarakan semuanya!" Ucapnya dengan penuh penyesalan.


Sementara di tempat lain, Rama terus mencari keberadaan Regina. Melihat Irwan keluar dari ruangan bawah tanah, Rama bersembunyi.


Setelah Irwan pergi, Rama langsung berjalan menuju ruangan tersebut. "Mah, mah!" Panggil Rama.


"Iya sayang, mamah disini! Tolong keluarin mamah." Jawabnya sambil menggedor pintu.


"Mamah tenang, jangan berteriak lagi. Aku akan mencari cara untuk membebaskan mamah!" Ucap Rama seraya menenangkan.


Rama mencoba mendobrak pintu tapi sayang usahanya sia-sia. Sudah banyak usaha yang dua lakukan tapi tetap pintunya tidak terbuka. "Sepertinya ada kunci rahasia yang bisa membuka pintu ini!" Batinnya.


Sambil menunggu Rama membuka pintu, Regina berjalan dan mendekati meja. Banyak album foto dan buku diary miliknya. "Sepertinya Irwan benar-benar terobsesi!" Ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2