CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Curahan hati Ririn


__ADS_3

Ririn nampak terkejut dan ia tak percaya. "Coba anda cek sekali lagi!" Ujar Ririn dengan raut wajah cemas.


Pegawai bank menganggukkan kepalanya dan mengeceknya sekali lagi. Tapi hasilnya tetap sama, Ririn masih bersikeras dengan keinginannya. Pegawai bank tersebut nampak kesal dan menghela nafas panjang. "Begini saja mbak, kalau mbak tidak percaya silahkan anda cek ke tempat lain." Ujarnya dengan nada ketus.


Ririn terlihat kesal mendengar ucapan pegawai bank tersebut, dia langsung mengambil cek nya dan pergi meninggalkan bank. Hatinya saat ini merasa kacau, dia kecewa dengan semua pengalaman hidupnya. "Kenapa aku selalu sial? Aku pikir setelah Laras pergi dari rumah kesialan ku akan berkurang!" Gerutu Ririn sambil berjalan.


Ririn melihat cek dan masih tak percaya dengan pegawai bank katakan. Dia melihat ada agen bank dan pergi menuju ke sana. Sesampainya di sana Ririn langsung menyerahkan cek tersebut untuk mengeceknya. Dan ternyata hasilnya sama, Ririn nampak mengepalkan tangannya dan pergi dari sana. "Brengsek, bandot tua itu telah membohongiku! Anakku telah dia pukuli dan aku juga telah dia nodai." Ucap Ririn sambil berderai air mata.


Ririn melangkahkan kakinya dengan lemas, dia merasa kecewa dengan hidupnya sendiri. Dulu dia mendekati Jeremi dan menjadi ibu yang baik untuk Jerry, semua itu dia lakukan untuk mendapatkan simpati dari Jeremi tapi hasilnya nihil.


Ririn bercerai dengan Benny berharap hidupnya bisa lebih baik, tapi kenyataannya malah sebaliknya. Dan sekarang dia harus hidup dengan tidak berkecukupan karena uang yang di berikan Benny sebagai harta gono-gini telah habis.

__ADS_1


Dia menatap Berin dari kaca di balik pintu, tak terasa air matanya jatuh melihat Berin yang tak berdaya. "Maafkan mamah sayang, ini semua gara-gara mamah. Andai saja dulu mamah tidak egois dan menuruti nafsu mamah yang ingin mendapatkan Jeremi, mungkin ini semua tidak akan terjadi padamu. Mamah menyesal sayang, mamah menyesal!" Gumam Ririn sambil meneteskan air mata.


Di tempat lain...


Terlihat Jerry tengah kembali dari Jogja, dia kembali menuju rumahnya dengan membawa Laras kembali. Pak Candra, Jeremi dan Benny menyambut kedatangannya dengan senyuman hangat.


Laras nampak bahagia karena bisa melihat rumah yang dulu dia tempati dan bisa melihat keluarga Jerry. Laras sungkem kepada mereka dan tersenyum.


Pak Candra dan Jeremi langsung membicarakan tentang pernikahan Jerry dan Laras. Mereka tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi kepada Jerry.


"Apa ini semua tidak terlalu cepat?" Tanya Jerry dengan pipi yang merah.

__ADS_1


"Apa pertanyaan kamu tidak salah? Bibir dan pipimu mengatakan berbeda!" Ujar Pak Candra sambil menggoda cucu kesayangannya.


Jerry nampak tersenyum dan memalingkan pandangannya. Pak Candra dan semuanya tersenyum melihat tingkah Jerry. "Nak, papah ingin sekali melihat senyuman kamu! Papah tahu kebahagiaanmu hanya bersama Laras." Ucap Jeremi sambil melihat kearah Jerry.


"Iya pah, aku ingin secepatnya menikahi Laras." Jawab Jerry sambil memegang tangan Laras.


Mereka semua nampak bahagia dan menganggukkan kepalanya. "Ya sudah kalau begitu, kita gelar acara pernikahannya 2 Minggu lagi." Ucap Pak Candra.


"Apa waktunya tidak terlalu cepat?" Tanya Jerry.


"Tidak nak, lebih cepat pastinya akan lebih baik. Dan kakek yakin waktunya cukup untuk mempersiapkan semuanya." Jawab Pak Candra.

__ADS_1


Jerry dan Laras nampak tersenyum dan mereka saling bertatapan muka. "Terima kasih pah, Om dan kakek telah merestui hubungan kami!" Ucap Jerry sambil tersenyum.


__ADS_2