CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Kebahagiaan


__ADS_3

Jeremi menyunggingkan senyumnya. "Kamu belum mengenal Riana dan itu pun juga karena kamu baru mendengar namanya." Jawab Jeremi dengan raut wajah sedih.


Regina bangkit dan dengan seketika dia nampak marah. "Aku lebih mengenalnya dari pada kamu. Kamu hanya suaminya, sedangkan ak..." Ujar Regina terhenti.


"Kamu kenapa..?" Tanya Jeremi dengan raut wajah penasaran.


Regina nampak terdiam, dia tak melanjutkan perkataannya lagi. "Sudahlah, aku masih ada urusan. Kamu jaga diri baik-baik dan ingat jangan pernah putus asa." Ujar Regina sambil melenggang pergi.


Jeremi tersenyum melihat tingkah regina yang sedikit mencurigakan. "Aku tahu sayang, dimana kamu berada sekarang!" Ujarnya.


Disaat jeremi tersenyum bahagia, terlihat seorang wanita datang menghampiri dan tersungkur di kakinya. "Mas, aku minta maaf!" Ucapnya.


Jeremi tertegun melihat Nadia yang ada di hadapannya. "Kenapa Nadia, apa yang terjadi?" Tanya Jeremi dengan raut wajah heran.


"Mas, kamu lihat aku! Aku adalah Riana, cintamu. Lihatlah wajahku ini!" Ucapnya sambil menatap wajah Jeremi.


Jeremi tertegun, dia benar-benar tak mengerti dengan apa yang di bicarakan. "Sudahlah, kamu jangan ngawur!" Jawab Jeremi ketus.


Nadia bangkit dan duduk di samping Jeremi. Tak lupa dia menggenggam tangannya. "Apakah kamu bisa merasakannya? Tangan ini adalah tangan yang dulu yang selalu menggenggam tanganmu. Dan kamu lihat wajah ini, wajah yang selama ini kamu rindukan." Ujarnya dengan tatapan mata serius.


Jeremi tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya. Dia meraih tongkatnya dan pergi. "Kamu jangan asal bicara, Riana sudah lama meninggal. Dan wajah kamu bisa saja mirip dengan Riana, tapi itu bukan berarti kamu adalah Riana." Ucapnya sambil melenggang pergi.


Nadia nampak mengepalkan tangannya, melihat Jeremi yang semakin menjauh. Wajahnya yang semula polos berubah menjadi wanita yang garang. "Mengapa sulit untuk mendapatkan mu? Aku telah menjadi orang yang kamu cintai, tapi kamu tidak perlu menoleh ku sedikit pun." Gerutu Nadia dengan raut wajah kesal.


Di perjalanan...

__ADS_1


Terlihat Jeremi menikmati langkahnya, setiap berjalan dua selalu tersenyum. Kesedihan yang selama ini dia rasakan, akhirnya hilang dengan mudahnya. "Ternyata surat itu memang benar, mirip bukan berarti sama. Riana kamu memang cerdas, tapi aku tidak akan pernah bisa melupakanmu meskipun kamu berganti wajah." Batinnya.


Akhirnya Jeremi sampai di rumah dan terlihat Jerry dan Laras tengah duduk di sofa sambil memegang kertas putih. "Pah, pah!" Teriak Jerry.


Jeremi menghampiri dan duduk di sampingnya. "Ada apa sayang? Sepertinya kamu sedang ketimpa durian runtuh!" Tanyanya.


"Iya pah, coba papah lihat ini!" Ucap Jerry sambil menyodorkan kertas tersebut.


Jeremi membuka kertas tersebut dan membacanya. Terlihat senyuman nampak jelas di wajah Jeremi dengan mata yang berkaca-kaca. "Jadi sebentar lagi aku akan jadi kakek!" Ucap jeremi dengan nada bahagia.


Jerry dan Laras menganggukkan kepalanya. Jeremi langsung memeluk anak dan menantu kesayangannya. "Selamat yah sayang, papah turut bahagia mendengarnya!" Ujar Jeremi.


"Terima kasih pah!" Jawab Laras.


"Iya pah, aku pasti akan menjaga Laras dengan baik." Jawab Jerry.


"Dan sayang kamu harus ingat, kalau kamu ngidam bilang saja sama suamimu. Jangan di pendam, nanti cucu papah ileran." Ujar Jeremi sambil tersenyum.


Laras menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Akhirnya dia melihat keluarganya bahagia, apalagi dengan Jeremi. "Semoga saja, dengan lahirnya anak ini menjadi awal dari kebahagiaan keluarga kita." Ucap Laras


"Amin..!" Jawab Jerry dan Jeremi.


Disaat mereka berbincang, Jenny datang menghampiri dan memeluk leher Jeremi. "Pah..!" Ucap Jenny dengan nada manja.


"Apa sayang?" Tanya Jeremi sambil mengelus rambutnya.

__ADS_1


"Kak Jerry dan kak Laras sudah lengkap. Apa papah tidak ingin melihat aku mempunyai keluarga yang lengkap." Ucap Jenny sambil memainkan jarinya.


Jerry dan Jeremi tersenyum mendengar ucapan Jenny yang terdengar sedikit malu-malu. "Tidak usah pah, biarkan Jenny jadi perawan tua." Canda Jerry sambil tersenyum.


"Ah kakak, kok ngomongnya gitu sih!" Jawab Jenny sambil menghampiri Jerry.


Jenny nampak memukul Jerry dan menggelitik pinggangnya. Mereka terlihat seperti kucing dan anjing. Tapi Jerry masih terus menyebut jenny agar menjadi perawat tua sambil tersenyum. Jenny semakin marah dan terus memukul Jerry.


Jeremi dan Laras hanya tersenyum melihat keduanya bercanda. Meskipun mereka sempat terpisah, tapi ikatan batin mereka kuat. "Sudah-sudah! Jerry jangan ngomong seperti itu terus. Pamali, kasihan adikmu!" Ucap Jeremi dengan penuh kelembutan.


"Iya nih pah, kak Jerry jahat. Aku doain kamu, kalau kak Laras tidak cinta lagi sama kamu. Dan kamu hanya nangis di ujung tembok." Ucap Jenny sambil memonyongkan bibirnya.


"Eh, kok doain yang enggak-enggak. Amit-amit....!" Jawab Jerry sambil mengetuk meja.


"Sudah jangan bertengkar lagi! Ayo sini, memangnya kamu sudah siap untuk menikah?" Tanya Jeremi.


Jenny memeluk Jeremi dan menganggukkan kepalanya. "Iya pah, hatiku sudah kepentok sama Rama." Ucap Jenny.


Jeremi tersenyum. "Ya sudah, kalau begitu suruh Rama datang kesini. Kalau dua memang serius, kita bisa melakukan pernikahan ini secepatnya." Ucap Jeremi.


"Papah serius!" Ucap Jenny.


Jeremi menganggukkan kepalanya. "Tentu saja papah serius, jika kamu bahagia papah juga ikut bahagia." Jawab Jeremi.


"Terima kasih pah!" Jawab Jenny sambil memeluk erat.

__ADS_1


__ADS_2