CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Jenazah Sarah


__ADS_3

Keesokan harinya...


Jeremi terbangun dan ingatan nya mulai teringat kepada Sarah. "Masya Allah, saking sedihnya aku sampai melupakan jenazah Sarah!" Ujar Jeremi sambil bangkit dari ranjang.


Ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan setelah selesai Ia langsung menggunakan pakaian rapi. Jeremi berjalan dengan tergesa-gesa dan Laras nampak menghentikannya. "Pah, ini masih pagi! Papah mau kemana?" Tanya Laras sambil menghampiri.


"Papah mau ke rumah sakit, jenazah Sarah juga harus di kuburkan secara layak meskipun dua selalu membuat onar. Walau bagaimanapun, papah adalah kakaknya dan saudara satu-satunya." Jawab Jeremi dengan tatapan sendu.


"Iya pah, Laras ngerti! Apa perlu di temani mas Jerry?" Tanya Laras.


"Tidak usah, papah bisa sendiri! Papah tidak mau dengan melihat wajah Sarah, Jerry semakin sedih." Ujar Jeremi.


"Ya sudah, kalau begitu papah hati-hati di jalan dan jangan lupa sarapan." Ucap Laras mengingatkan.


Jeremi tersenyum dan pamit kepada Laras. Setelah pamitan Jeremi langsung pergi dari rumah dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, akhirnya Jeremi sampai dan memarkirkan mobilnya. Jeremi langsung berjalan masuk rumah sakit dan menghampiri sahabatnya. "Ren!" Sapa Jeremi sambil menghampiri.


"Eh, dokter Jeremy! Tumben kemari, ada apa?" Tanya dokter Reno.


Jeremi duduk dan menghela nafas panjang. "Begini, maksud kedatangan ku kemari! Aku ingin mengambil jenazah adikku yang kemarin meninggalkan dan membunuh mertuaku." Ujar Jeremi.


"Eeem, jenazah wanita itu adikmu!" Tanya dokter Reno.


"Iya!" Jawab Jeremi sambil menganggukkan kepalanya.


Dokter Reno tersenyum, dan bangkit dari tempat duduknya. "Kok beda yah!" Ujar dokter Reno.


"Kemarin ada lelaki mungkin usianya tidak jauh darimu, dan dia mengaku suami Sarah. Dan jenazahnya langsung di bawa pergi untuk di makamkan." Ujar Dokter Reno.


"Suami!" Ucap Jeremi dengan nada terkejut.

__ADS_1


"Iya, masa berbohong. Coba saja kamu cari di pemakaman sekitar sini, karena kalau tidak salah alamatnya di KTP nya tidak jauh dari sini." Jawab dokter Reno.


"Sekitar sini, siapa namanya?" Tanya Jeremi penasaran.


"Eem, kalau namanya aku sudah lupa! Karena saat itu aku ada panggilan dari pasien kritis." Jawab dokter Reno kembali.


"Ya sudahlah, aku pergi dulu! Lain kali, kita bertemu lagi." Ucap Jeremi sambil melenggang pergi.


Dokter Reno menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Jeremi, Jeremi! Kamu benar-benar tidak berubah, dari dulu sampai sekarang kamu selalu dingin sama aku." Ucapnya.


Jeremi masuk ke dalam mobil dan menghela nafas panjang. "Siapa suami Sarah? Aku tidak pernah mendengarnya!" Ujar Jeremi.


Jeremi akhirnya melajukan mobilnya menuju tempat pemakaman umum yang tak jauh dari rumah sakit. Dia menanyakan kepada penjaga kuburan dan menanyakan tentang jenazah yang baru saja di kuburkan.


Ternyata hasilnya nihil, penjaga bilang tidak ada yang dikuburkan di tempat ini kemarin dan hari ini. Jeremi pamit dan mencari pemakaman umum berikutnya dan hasilnya pun tetap sama.

__ADS_1


Firasat Jeremi jadi tidak enak, dia merasa ada yang aneh dengan adiknya. "Jangan-jangan Sarah masih hidup dan kemungkinan yang dua suntikan ke tubuhnya bukan suntikan mati, melainkan suntikan agar Nadi, tubuh, dan nafasnya tidak bergerak selama 24 jam." Batin Jeremi.


"Kalau perkiraan ku benar, keluarga ku dalam bahaya! Dan Sarah melakukan ini untuk menghindari hukuman dan mengelabui keluarga ku." Ujar Jeremi dengan nada lemas.


__ADS_2