CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Kekecewaan jeremi


__ADS_3

Jeremi nampak menggelengkan kepalanya, mendengar ucapan Irwan sahabatnya, yang tak sesuai dengan kenyataan. "Ternyata persahabatan kita harus hancur karena wanita." Batinnya sambil menyunggingkan senyumnya.


Regina yang percaya akan ucapan Irwan langsung bangkit dan melihat kearah Jeremi. "Aku kecewa sama kamu! Kamu sekarang pasti sudah tahu siapa aku?" Ucapnya.


"Iya, aku sudah tahu siapa kamu? Terserah kamu mau percaya sama aku atau Irwan suami palsu mu. Kalau kamu memang benar Riana cintaku, kamu tentu tahu dengan diriku." Jawab Jeremi sambil melenggang pergi.


Hati Jeremi nampak merasa sakit dan perih, karena wanita yang selama ini dia tunggu lebih percaya dengan Irwan. Iya, memang benar! Irwan lah yang telah menyelamatkan Riana tapi dengan pernikahan mereka menjadi ragu akan cintanya.


Regina yang melihat kepergian Jeremi hanya bisa menyesali ucapnya. Dia tentu tahu betul dengan sifat Jeremi sang suami. Tapi dia tak bisa berkata apapun, Regina langsung bangkit dan membantu Irwan duduk di sofa. "Buatku obati lukamu!" Ucapnya ketus.


"Tunggu!" Ucap Irwan sambil memegang tangan Regina.


Regina menoleh dan duduk kembali. Irwan langsung memeluknya dengan erat. "Aku sangat mencintaimu, tolong jangan tinggalkan aku untuk Jeremi. Dia sudah banyak membuatmu menderita, hanya aku yang bisa membuatmu bahagia." Ucapnya.


"Cukup mas! Aku mohon, jangan memberiku kesulitan seperti ini. Dari awal kita sudah komitmen, pernikahan kita hanya pura-pura dan itu pun juga hanya sementara." Jawab Regina sambil melepaskan pelukan Irwan.

__ADS_1


Irwan nampak mengepalkan tangannya, menatap kepergian Regina. Hatinya benar-benar tak terima dengan perlakuan Regina terhadapnya. "Tidak ada pernikahan pura-pura, surat nikah kita asli dan aku tidak akan pernah melepaskan mu." Batinnya sambil tersenyum.


Setelah beberapa menit berlalu, Regina kembali dengan membawa kotak obat P3K. Dia langsung mengobati luka di wajahnya Irwan dengan hati-hati dan perlahan. "Aw..!" Rintihnya.


Regina menatap tanpa berkata. Dia nampak meniup sambil mengobati lukanya. Irwan nampak tersenyum dan merasa puas. Dia terus menatap wajah Regina dengan penuh cinta.


Regina menatap wajah Irwan dan tersenyum. "Bolehkah aku minta sesuatu sana kamu?" Tanyanya.


"Apa itu?" Jawabnya.


"Oke, tak masalah. Asalkan kamu bahagia, aku juga ikut bahagia." Ujar Irwan.


Regina tersenyum kecil dan melenggang pergi. Dia nampak menghela nafas panjang dan melihat kearah Jeremi yang tengah duduk di meja belakang.


"Aku ingin minta nomer kamu, kita harus bicara!" Ucap Regina.

__ADS_1


Jeremi menyerahkan handphonenya. "Masukin saja nomer kamu! Kalau aku sudah siap untuk bertemu dengan mu, aku pasti akan menelpon mu." Jawab Jeremi ketus.


Regina menggelengkan kepalanya dan mengambil handphonenya. Dua langsung membuka handphone Jeremi dan terlihat dikunci. Dia membuka kunci dengan tanggal pernikahan mereka dulu dan handphonenya terbuka. "Ternyata masih sama seperti yang dulu!" Batin Regina.


Dan terlihat di awal pandangannya, foto pernikahan mereka menjadi wallpaper di handphonenya. Air mata Regina nampak menetes dan menatap Jeremi yang tengah melamun. "Apakah aku sudah keterlaluan kepada Jeremi?" Tanyanya dalam hati.


Regina nampak membuang nafas dan duduk di samping Jeremi. "Aku minta maaf, aku tidak pernah membencimu. Ini semua demi kebaikan kita." Ucapnya.


"Aku ngerti, tapi aku tidak tahu harus senang atau sedih melihat kamu ada di sampingku." Jawab jeremi sambil menoleh ke arah Regina.


Mereka nampak saling menatap dengan penuh kerinduan. "Apa maksudmu?" Tanya Regina.


"Kamu sekarang ada di hadapanku, tapi sampai saat ini aku tidak bisa memelukmu. Kamu tahu seberapa aku menderitanya kehilangan kamu dan membesarkan kedua anak kita tanpa sosok seorang istri di sampingku." Ucap Jeremi sambil meneteskan air mata.


Regina nampak menundukkan kepalanya dan tak berani menatap wajah Jeremi. Regina memutuskan untuk pergi tanpa menoleh ke arah Jeremi.

__ADS_1


__ADS_2