CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Kesedihan


__ADS_3

Pak Candra langsung pergi meninggalkan Ririn dan mengajak jeremi pergi bersamanya. Sedangkan Ririn terlihat mengepalkan tangannya, saat pak Candra pergi. "Sudah habis kesabaranku menghadapi kalian, aku sudah berusaha untuk menjadi Riana tapi kalian tidak pernah menganggapku ada!" Gumam Ririn sambil menggeretkan giginya.


Di kamar...


Terlihat Jerry membantu Laras untuk duduk di samping ranjang, dia tak bisa memalingkan pandangannya dari wajah Laras. Dia menghapus air mata Laras yang masih menetes. "Kamu tidak perlu menangis lagi, sekarang kamu aman!" Ucap Jerry sambil tersenyum.


Laras menundukkan kepalanya dan meneteskan air matanya kembali. "Mas, aku minta maaf! Karena aku kalian jadi bertengkar da..." Ucap Laras terhenti.


Sambil menghalangi dengan jarinya. "Ssssstttt, hentikan omong kosongmu! Aku tidak mau mendengarnya, sekarang lebih baik kamu istirahat dan jangan pikirkan apapun," ucap Jerry.


Laras menganggukan kepalanya dan langsung berbaring, dia memalingkan wajahnya agar tidak terlihat oleh Jerry. Jerry pun langsung pergi meninggalkan Laras sendiri.


Di tempat lain...


Terlihat sindy tengah berada di restoran dan memainkan minumannya. "Kemana mamah sih, lama banget!" Gumam Sindy sambil memonyongkan bibirnya.


Dari kejauhan terlihat seorang wanita yang berbody seksi, dengan tubuh yang gemulai menghampiri sindy sambil tersenyum. "Sindy!" Ucap wanita itu.

__ADS_1


Sindy pun langsung menoleh dan tersenyum lebar. "Mamah!" Ucap Sindy sambil memeluknya.


Wanita itu pun membalas pelukannya dan tersenyum. "Sayang, mamah senang bisa ketemu sama kamu!" Ucap wanita itu.


"Iya, mah aku juga!" Ucap sindy sambil melepaskan pelukannya.


Mereka pun duduk dan bercengkrama bersama, terlihat wanita itu memberikan tatapan tajam dengan senyum sinis. "Bagaimana, apakah semuanya sudah beres?" Tanya wanita itu.


Sindy pun menggelengkan kepalanya dan menatap kearah wanita itu. "Maaf mah!" Ucap sindy.


Wanita itu langsung berdiri dan melayangkan tangan kanannya ke pipi sindy. "Bodoh, tugas semudah itu tidak bisa kamu selesaikan!" Ucap wanita itu dengan nada tinggi.


"Anak tidak tahu diri, kenapa bertanya seperti itu! Hidup ini keras, kita harus selalu diatas kalau kita mau hidup bahagia!" Ucap wanita itu dengan nada di tekan.


"Mah, kita memang membutuhkan uang tapi aku juga membutuhkan kasih sayang. Aku ingin seperti anak-anak lain, yang selalu di sayangi mamah dan papahnya," ucap sindy sambil menangis.


"Cukup! Aku kesini ingin mengecek pekerjaan kamu. Tapi ternyata kamu tidak pantas untuk di berikan kasih sayang!" Ucap wanita itu sambil mencengkram dagu sindy dan melenggang pergi.

__ADS_1


Sindy nampak terus memandangi tubuh wanita itu dengan tatapan sendu. "Kenapa mamah tidak pernah mencintaiku? Kenapa dia selalu membuat aku terlibat akan masalah yang besar, sedangkan dia hanya tersenyum puas dengan hasilnya." Gumam Sindy sambil menangis.


Sindy pun mengambil handphonenya di dalam tas, dia mencari kontak yang bernama Siska. Dia langsung memanggilnya dan terdengar suara yang tak pernah dia kenal.


"Hallo, selamat siang!"


"Siang, ini sama siapa? Kenapa handphone teman sama ada di anda!"


"Oh, ternyata mbak temannya! Saya mau memberitahu kalau yang punya handphone ini sedang di rawat di rumah sakit dan keadaannya kritis."


"Masya Alloh, kenapa ini terjadi. Saya akan segera kesana, tolong searlok lokasinya."


"Iya mbak!"


Sindy langsung mematikan teleponnya dan segera pergi ke alamat yang di berikan suster tersebut. Sindy langsung mencari taksi dan langsung pergi menuju tempat tersebut. "Siska, kamu harus baik-baik saja! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku hidup tanpa kamu." Gumam Sindy sambil meneteskan air matanya.


30 menit kemudian...

__ADS_1


Akhirnya sindy sampai di depan rumah sakit, sindy membayar ongkosnya dan langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit. Sindy langsung mencari ruangan Siska setelah menanyakan ke salah satu suster.


Sindy nampak tercengang, saat melihat Siska yang di balut dengan perban. "Siska!" Ucap sindy sambil mengintip dari balik kaca pintu.


__ADS_2