CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Keinginan Ririn menjadi nyata


__ADS_3

Ririn menatap tubuh Nadia dari atas sampai bawah. Memang benar, tidak di pungkiri kecantikan dan kemolekan tubuh Nadia. Ririn ingin seperti dirinya dan Ia akan melakukan apapun untuk meraih kebahagiaannya bersama dengan Jeremi, lelaki yang selama ini Ia cintai dan kagumi.


"Baiklah, bantu aku untuk menjadi seperti mu!" Ucap Ririn.


Nadia mulai tersenyum, Ia duduk di samping Ririn sambil memainkan rambutnya. "Itu gampang, tapi semuanya tidak gratis. Apalagi dengan semua yang kamu mau, biayanya akan cukup mahal." Tuturnya.


"Biaya!" Ucap Ririn tertegun.


"Ya iya lah, memangnya semua itu bisa dengan mudah kamu dapatkan. Coba kamu perhitungkan dengan melakukan operasi wajah, memperbesar buah dada, merampingkan pinggang dan memperbesar bokong. Berapa kira-kira biaya yang harus kamu bayar?" Tanya Nadia.


Ririn terdiam dan terduduk lemas, Ia sekarang pasrah dengan nasibnya. Nadia mulai tersenyum licik dan menggenggam tangan Ririn. "Kamu percayakan sama aku?" Tanyanya dengan penuh keyakinan.


Ririn menganggukkan kepalanya. "Bagus! Aku punya solusi." Ucap Nadia.


"Apa itu?" Tanya Ririn penasaran.


"Sebenarnya, aku bingung harus mulai dari mana." Ucapnya sambil berjalan mondar-mandir.


"Katakanlah!"

__ADS_1


"Aku punya kenalan, dokter kecantikan. Ia sekarang membutuhkan istri untuknya. Dan itu solusinya!" Ucap Nadia.


"Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti!" Tanya Ririn sambil mengerutkan keningnya.


"Begini...! Untuk meraih hasil terbaik, kamu harus menjadi dokter itu dan Ia akan bersedia melakukan segalanya untukmu." Ucap Nadia.


Ririn nampak terkejut dengan apa yang di dengarnya. "Tidak...! Aku mencintai Jeremi dan kalau aku menikah bagaimana dengan cintaku." Teriaknya berontak.


"Tenang..! Jangan jadi wanita bodoh." Ucap Nadia.


"Kamu pikir aku tidak punya otak, bagaimana mungkin Jeremi mau menerimaku setelah aku menikah!" Caci Ririn.


Nadia tersenyum dan melipat tangannya di dada. "Dengan kecantikan lelaki dengan mudah bisa kita dapatkan dan kalau untuk pernikahan bukannya ada perceraian. Lagi pula, dokter itu bukan tripikal lelaki yang mudah untuk jatuh cinta. Semua yang menikah dengannya, hanya karena saling membutuhkan." Ucap Nadia meyakinkan.


Nadia pergi meninggalkan Ririn yang sedang dilema. Hatinya merasa puas, dengan apa yang telah di capai nya. "Aku yakin, Ririn pasti akan tergoda dengan tawaranku. Dan kalau itu benar, sainganku mulai berkurang." Batinnya.


...


Keesokan harinya...

__ADS_1


Terlihat Ririn berjalan dengan mata panda melingkar di bawah matanya. Ia terus memikirkan semua tawaran Nadia, sampai sulit untuk tidur. Ia berjalan menuju meja makan dan mendapati pemandangan yang merusak moodnya. "Kalian...!" Teriaknya.


Jeremi dan Regina nampak terkejut. Ia menoleh kearah Ririn yang tengah berdiri di sampingnya. "Ada apa?" Tanya Jeremi tanpa merasa bersalah.


"Kenapa kamu melakukan semua ini kepadaku? Aku mencintaimu, tapi kenapa di depan mataku kalian malah berciuman." Teriak Ririn sambil menangis.


Jeremi menghampiri dan meraih tangannya. "Rin, kamu harus tahu! Jika aku tidak pernah mencintaimu dan cintaku hanya untuk Riana." Tuturnya.


"Pembohong, kalau benar kamu memang mencintai Riana tapi kenapa kamu malah berciuman dengan Regina. Kamu harus sadar, Regina bukanlah Riana. Aku.... Hanya aku yang mencintaimu." Ucapnya sambil menggenggam tangan Jeremi.


Jeremi mengibaskan tangannya. "Cukup..! Aku hanya menganggap mu sebagai saudara dan itu semua tidak akan berubah." Ucap Jeremi memperjelas semuanya.


Ririn kecewa dan berlari menuju kamarnya. Di kamar, tak henti-hentinya Ia menangis meratapi nasibnya yang malang. "Aku harus mendapatkan Jeremi, apapun yang terjadi Jeremi harus jatuh kepelukan ku." Ucapnya dengan tekad yang bulat.


Ririn langsung meraih koper dan memasukkan baju-bajunya ke dalam. Dengan air mata yang bercucuran Ia berkemas. Tak lupa, Ia membawa puluhan foto Jeremi yang di rangkainya. "Sayang, tunggulah aku kembali!" Ucapnya.


Ririn membawa koper dan mengajak Nadia untuk pergi. Tak lupa, Ia menghampiri Jeremi untuk salam perpisahan. "Mas..., aku minta waktu kamu." Ucap Ririn.


"Silahkan!"

__ADS_1


"Bolehkah aku memeluk kamu untuk terakhir kalinya!" Ucap Ririn dengan wajah polos.


Jeremy nampak heran dan menoleh ke arah Regina. Regina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Jeremi mengiyakan keinginan Ririn. Ririn dengan senyuman dan air mata langsung memeluk Jeremi dengan erat. "Kehangatan, kehangatan inilah yang selama ini ku rindukan. Dada atletis inilah yang selalu aku harapkan sebagai sandaran." Batin Rutin dengan bahagia.


__ADS_2