
Jeremy tersenyum dan pergi meninggalkan mereka. Dia berjalan menuju kamar Pak Candra dan memberikan kabar baik ini. "Pah, akhirnya Jerry mulai berusaha ikhlas dan berlapang dada menerima Berin." Ucap Jeremi sambil duduk di samping Pak Candra.
"Syukurlah, papa bahagia mendengarnya. Semoga keluarga kita kembali seperti dulu lagi, bahagia tanpa ada perang saudara." Ujar Pak Candra sambil meneteskan air mata.
...
Keesokan harinya...
Pak Candra dan jeremi nampak tengah bersiap untuk mengambil hasil tes DNA. Mereka mempunyai harapan yang besar kepada Sindy. Dan terlihat Jerry dan Laras juga bersiap karena penasaran dengan hasilnya.
Setelah selesai bersiap, mereka pergi bersama dalam satu mobil. Di perjalanan terlihat wajah cemas diantara Pak Candra dan Jeremi. Laras melihat kebelakang dan tersenyum. "Pah, opah tenanglah, aku yakin semuanya akan sesuai dengan yang kalian mau!" Ujar Laras menenangkan.
"Ya, semoga saja!" Ucap Jeremi.
__ADS_1
Akhirnya mereka sampai di depan rumah sakit, Jerry memarkirkan mobilnya dan setelah selesai mereka keluar dari mobil. Jerry terlihat masih tidak senang, sedangkan Pak Candra dan Jeremi menghela nafas panjang.
"Ayo, kita masuk!" Ajak Laras sambil menggandeng tangan Jerry.
Mereka berjalan masuk ke dalam rumah sakit dan terlihat sindy dan Rama tengah berada di sana. Sindy nampak tersenyum dan sungkem kepada Pak Candra dan jeremi. "Pagi om, eyang!" Sapanya.
"Pagi nak!" Jawab Jeremi dan Pak Candra sambil tersenyum.
Jerry yang mendengar semua itu nampak menyunggingkan bibirnya. "Eyang, eyang dari mana?" Tanya Jerry sambil mengerutkan keningnya.
Jerry nampak tak senang dan dia memilih untuk diam dan duduk di kursi yang ada di sana. Tanpa di sadari, sepasang bola mata tengah memperhatikan mereka dari kejauhan dan dia adalah mamah nya Sindy.
"Sindy, kamu lihat saja! Aku jamin kami pasti akan kecewa dan tidak akan mendapatkan kepercayaan dari keluarga mu sendiri." Ujarnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Akhirnya dokter pun keluar dan langsung memberikan hasil tes DNA tersebut kepada Pak Candra. Pak Candra langsung mengambilnya dan melihat amplop tersebut.
Amplop berwarna putih dan masih tersegel rapi. Pak Candra menatap kearah Jeremi dan Jeremi mendekatinya dan mengelus bahunya. "Apapun hasilnya, kita harus menerimanya dengan ikhlas." Ujar Jeremi.
Pak Candra menganggukkan kepalanya dan membuka amplop tersebut. Terlihat wajah cemas melengkapi parasnya. Begitu juga dengan Sindy, dia terus menatap amplop tersebut.
Air mata nampak menetes dari kelopak mata Pak Candra. Dia langsung memeluk Jeremi dan menangis di pelukannya. Semua orang yang ada di sana nampak heran dan penasaran dengan hasilnya. Jeremi langsung mengambil amplop tersebut dan membacanya.
Dan terlihat isi dari amplop tersebut mengatakan bahwa darah Sindy cocok dengan Jeremi dan itu artinya sindy memang anaknya. Jeremi menatap wajah sindy dengan linangan air mata. "Kemarilah nak!" Ujar Jeremi sambil melebarkan tangannya.
Sindy menatap kearah Rama dan perlahan berjalan menghampiri Jeremi. Jeremi langsung memeluk Sindy dan Pak Candra dan tak lupa, dia mengecup kening Sindy. "Nak, akhirnya kamu kembali!" Ucap Jeremi.
Sindy pun terkejut dan menangis bahagia. "Jadi aku benar-benar anak Om?" Tanya Sindy dengan nada tak percaya.
__ADS_1
Jeremi menganggukkan kepalanya dan Pak Candra mencium kening Sindy. "Cucuku, akhirnya kamu kembali! Terima kasih ya Allah, karena engkau telah mempertemukan kami." Ucap Pak Candra.
Sindy tersenyum bahagia dan Jerry nampak tak percaya. Dia merebut amplop tersebut dan membacanya. "Tidak mungkin, tidak mungkin kamu adikku!" Ucap Jerry sambil menggelengkan kepalanya.