CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Isi surat


__ADS_3

"Badai pasti akan cepat berlalu, setelah gelap pasti akan terbit terang! Perpisahan bukan akhir dari segalanya, perpisahan ini adalah awal untuk kebahagiaan kita. Janganlah salahkan dirimu sendiri, aku bangga bisa mencintaimu. Aku bangga, kamu menjadi ayah dari anak-anakku.


"Jagalah mereka untukku, aku janji kita pasti akan segera bertemu. Jagalah dirimu baik-baik, ingatlah janganlah percaya dengan paras dan wajah yang persis seperti diriku karena sesungguhnya itu bukan diriku!"


Tertanda cintamu



Riana


Begitulah isi surat yang ada di gumpalan kertas tersebut. Jerry yang membacanya nampak terharu, dia tak menyangka cinta kedua orang tuanya begitu dalam. Sedangkan Jeremi langsung merampas surat itu dan membaca kembali. Dia langsung memeluk erat surat tersebut di dadanya. "Ini benar-benar tulisan Riana, Riana masih hidup!" Ucapnya sambil meneteskan air mata.


Jeremi bangkit dan mencari keberadaan Riana. Bahkan Jeremi menyuruh Jerry untuk mencari lebih jauh. Jerry berlari dan mencari keberadaan Riana. "Mamah!" Teriak Jerry sambil melihat sekeliling.


Jeremi terus memperhatikan sekeliling dan terlihat seorang wanita berlari menggunakan pakaian serba hitam. Jeremi langsung mengejar dan berlari sekuat tenaga. "Tunggu!" Teriak Jeremi sambil berlari.


Jeremi terus berlari mengejar wanita tersebut, tapi sayang batu nisan menjadi batu sandungan untuknya. Jeremi terjatuh sat kakinya mengenai batu nisan tersebut dan terlihat darah mengalir cukup deras dari kakinya. "Riana!" Teriak Jeremi.

__ADS_1


Jerry dan Laras langsung berlari menghampirinya, dan mereka mulai panik melihat kaki Jeremi yang berlumuran darah. "Pah, tenanglah! Kita harus pergi, papah terluka." Ucap Jerry.


"Tidak Jerry, papah baik-baik saja! Carilah mamahmu, jangan pedulikan papah!" Ucap Jeremi sambil mendorong tubuh Jerry.


"Pah!" Teriak Jerry dengan cukup keras.


Jeremi tersadar dan langsung memeluk Jerry dengan erat. "Pah, kalau mamah lihat papah seperti ini mungkin hatinya akan sedih. Coba papah pikir, kepergian mamah pasti ada alasannya." Ucap Jerry menenangkan.


Laras langsung memeluk mereka erat. "Kalian harus kuat! Aku yakin setelah penderitaan, ini kita bisa berkumpul lagi menjadi keluarga yang paling bahagia." Ucap Laras yang nampak terharu.


Jeremi menghapus air matanya. "Kalian adalah kekuatanku!" Ucap Jeremi sambil tersenyum.


Laras langsung menelpon Jenny dan menyuruhnya untuk ke rumah sakit yang akan mereka tuju. Jerry dengan kecepatan penuh mengendarai mobil karena sudah tidak tega melihat Jeremi yang nampak menahan sakitnya.


Setelah 20 menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di depan rumah sakit dan terlihat jenny tengah bersiap dan membawa perawat untuk melakukan pertolongan secepatnya.


Jerimi langsung di bawa ke ruang UGD untuk melakukan perawatan intensif. Jenny, Jerry dan Laras menunggunya di luar. "Kak, apa yang terjadi dengan papah?" Tanya Jenny dengan panik.

__ADS_1


Jerry nampak kelelahan dan duduk. Bajunya nampak kotor karena banyak bercak-bercak darah. "Papah tersandung di nisan yang tajam!" Jawab Jerry.


"Memangnya, kenapa bisa terjadi?" Tanya Jenny kembali.


"Papah mengejar wanita yang memberikan surat, dan papah yakin kalau itu adalah mamah." Ucap Laras menyela pembicaraan.


Jenny yang mendengar semua itu nampak terkejut. "Bukannya mamah sudah meninggal dan aku pernah menemui makamnya!" Ucap Jenny kembali dengan nada tak percaya.


Jerry menyerahkan video yang ada di handphonenya. "Lihat saja sendiri!" Ucap Jerry.


Jenny mengambil handphonenya dan duduk di samping Laras. Matanya nampak membulat melihat semua kenyataan itu. "Jadi mamah masih hidup, tapi kenapa dia tidak kembali!" Ucap Jenny sambil meneteskan air mata.


"Itulah yang menjadi masalahnya, cukup kita yang tahu dan kamu tidak boleh memberitahu semua ini kepada keluarga yang ada di rumah." Ucap Jerry sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Iya kak, aku mengerti!" Ucap Jenny sambil mengangguk dengan raut wajah yang serius.


Terlihat dari kejauhan, seorang wanita tengah memperhatikan mereka. Dengan raut wajah sedih dan tatapan pilu dia memandanginya. "Anak-anakku!" Ucapnya dengan penuh kerinduan.

__ADS_1


"Tunggulah mamah! Secepatnya mamah akan menghancurkan benalu di kelurga kita dan secepatnya pula mamah akan bisa memeluk kalian." Ucapnya sambil meneteskan air mata.


__ADS_2