
Benny nampak tersenyum dan membawa Sarah pergi dari tempat pesta. Mereka pergi ke penginapan yang tak jauh dari gedung pernikahan. Mereka memadu nampak menikmati satu sama lain, dan melupakan semua masalahnya dalam sekejap. Memang buah jatuh tidak jauh dari tangkainya, Benny yang suka dengan perempuan dan mempermainkan mereka menurun jelas kepada berin anaknya.
Di tempat pernikahan...
Banyak orang yang memberikan ucapan selamat dan doa kepada Jerry dan Laras. Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka dengan jelas. Pak Candra nampak melihat sekeliling, dia mencari keberadaan Benny yang tak kunjung datang. "Kemana anak itu?" Tanyanya dengan nada kesal.
Jeremi nampak menyadari raut wajah Pak Candra yang sedang menggerutu. Dia langsung menghampiri dan tersenyum. "Ada apa pah?" Tanya Jeremi dengan lembut.
"Papah cari Benny, dia menghilang bagai di telan bumi!" Ucap Pak Candra.
"Sudahlah Pah, biarkan mas Benny keluar. Mungkin dia lelah setelah mengurus persiapan pernikahan." Ucap Jeremi mencoba menenangkan.
Pak Candra menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya. "Iya, andai saja Benny bisa seperti mu!" Ucap Pak Candra sambil melihat kearah Jeremi.
"Pah, jangan bandingkan aku dengan mas Benny. Kalau dia mendengarnya pasti akan sakit hati dan keberatan." Ujar Jeremi menjelaskan.
"Iya, papah tahu! Tapi papah benar-benar kesal menghadapi sikap anak itu. Apalagi dengan sikap anaknya yang tidak tahu diri." Ujar Pak Candra dengan nada kesal.
__ADS_1
Tanpa di sadari, 2 bola mata tengah memandangi Jeremi dan Pak Candra dari belakang. Matanya mulai memerah sambil menyunggingkan bibirnya. "Ternyata yang Sarah bilang benar, aku harus menghancurkan si tua Bangka itu. Seberapa keras aku berusaha, dimatanya hanya ada ketidakpuasan." Batin Benny sambil mengepalkan tangannya.
Pak Candra melihat kearah belakang dan menyadari keberadaan Benny. "Nak, kamu dari mana saja!" Sapa Pak Candra.
"Aku dari toilet!" Jawab Benny dengan nada ketus.
"Ya sudah, ayo kita foto bersama dengan pengantin." Ajak Pak Candra.
Benny menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecil. "Dasar si muka dua!" Batin Benny kesal.
Mereka langsung melakukan foto bersama sebagai kenang-kenangan. Pak Candra dan Jeremi nampak bahagia di hari itu dan begitupun juga dengan pengantin. Lain dengan Benny, dia nampak kesal dan hatinya sudah bertekad untuk menghancurkan keluarga ini. Dia tidak rela, dirinya tidak di anggap dan Pak Candra lebih menyayangi Jeremi yang hanya sebagai menantunya.
Laras nampak sedang berdiri di depan cermin, dia menatap dirinya dari pantulan cermin. Sesekali dia tersenyum karena tidak menyangka hari ini mereka telah sah menjadi suami istri.
Jerry datang menghampiri dan memeluk Laras dari belakang. "Sayang, kenapa kamu tersenyum sendiri?" Tanya Jerry sambil melihat wajah Laras di balik cermin.
"Tidak mas, hati ini aku bahagia banget. Setelah pahitnya hidup yang kurasa, sekarang akhirnya aku bisa menjadi istrimu dan melihat wajahmu yang tampan ini." Ucap Laras sambil tersenyum.
__ADS_1
Jerry tersenyum dan mengangguk kepalanya. "Sekarang aku bisa menyentuhmu kan?" Tanya Jerry.
Pipi Laras nampak berubah memerah dengan seketika. Detak jantungnya berdegup dengan kencang dan dia menjadi salah tingkah. "Em..em aku mau mandi dulu!" Ucap Laras sambil melepaskan tangan Jerry dari pinggangnya.
Jerry dengan seketika langsung menarik tangan Laras yang hendak berlari. Laras pun terkejut dan langsung jatuh ke atas ranjang. Jerry langsung menindihnya dari atas. "Kamu mau kemana, sekarang kamu tidak bisa menolak lagi." Ucap Jerry sambil menggoda Laras.
"Bu..bukan maksud aku menolak, tap..." Ucap Laras terhenti saat bibir Jerry menyentuh bibirnya.
Di ciumnya bibir Laras dengan lembut, dan tak membutuhkan waktu lama, Laras akhirnya membalas c****n dari Jerry.
C****n yang awalnya hanya biasa pun berubah menjadi lebih agresif, tanpa pikir panjang lagi. Jerry dan Laras langsung memulai malam pertama mereka.
...
Tak terasa waktu pun sudah mulai menjelang pagi. Laras bangun dari tidurnya dengan selimut yang membalut tubuh polos tanpa pakaiannya.
Di lihatnya Jerry yang masih tertidur pulas, sebuah senyuman manis terpancar di wajah Laras saat mengingat kejadian tadi malam.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan membayangkan hal itu lagi. Lebih baik aku segera mandi." Batin Laras sambil pergi menuju kamar mandi.