CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Hasutan Nadia yang licik


__ADS_3

Hati Ririn mulai dilema, Bisikan dari Nadia serasa teriyang-iyang di telinga. Sambil memeluk guling dengan tempelan wajah Jeremi Ririn memejamkan matanya. "Sayang, mungkinkah dengan cara halus aku tidak bisa mendapatkan mu!" Tuturnya sambil mengelus foto Jeremi yang di tempel di guling.


Ririn terdiam, Ia tersadar jika dirinya hanya bisa membayangkan setiap sentuhan dari Jeremi. Tapi semua itu hanya ada di khayalan dan mimpi. Tangannya mulai mengepal dan dirinya benar-benar telah bertekad. "Baiklah, aku sekarang sudah tidak bisa menunggu. Jika kamu tidak mau menerimaku, maka tidak ada satu wanita yang bisa berada di sampingmu." Batinnya.


Di kamar Regina...


Terlihat Regina tengah duduk di sofa sambil memainkan handphonenya. Jeremi masuk tanpa mengetuk pintu, Regina nampak terkejut tapi hatinya tersenyum. "Ada apa kamu kesini?" Tanyanya.


Jeremi tak menghiraukan pertanyaan dari Regina. Ia membenamkan kepalanya di paha Regina yang tengah duduk di sofa. "Aku merindukanmu!" Tuturnya.


Regina tersenyum dan menyimpan handphonenya. Ia langsung mencium kening Jeremi. "Apa ini cukup?" Tanyanya.


Jeremi menggelengkan kepalanya. "Aku menginginkan lebih dari itu, kamu tahu sudah 20 tahun aku menderita menahan kerinduan." Jawab Jeremi.


Regina mengelus pipi mulus Jeremi. "Bersabarlah! Setelah semua ini berakhir, aku dengan suka rela menyerahkan diri padamu." Ucapnya.


Jeremi mendecikkan bibirnya. "Bagaimana kalau malam ini?" Tanya Jeremi sambil menatap wajah Regina.


"Memangnya kamu yakin, jika aku adalah Riana mu?" Tanya Regina kembali.


Jeremi tersenyum sambil mencubit pipinya. "Pernahkah kamu mendengar penyakit aneh?" Tanya Jeremi.

__ADS_1


"Penyakit apa?"


"Sebenarnya aku terkena penyakit, kamu tahu tidak mudah untuk menaklukkan hatiku. Bukannya aku tidak mau, setiap aku berdekatan dengan mual dengan seketika perutmu mual dan pusing. Hidungku mencium bau yang tidak sedap dari badan mereka." Ucapnya.


"Lah, kalau itu mah bukan penyakit tapi perempuan itu bau badan." Jawab Regina sambil mencubit hidung Jeremi.


Jeremi tersenyum. "Aku yakin kamu tidak akan percaya, tapi saat aku ketemu sama Riana untuk pertama kalinya aku tidak merasakan semua itu. Yang kurasakan hanyalah rasa nyaman. Jadi jika kami bukan Riana, aku tidak percaya karena tubuhku telah menyatu dengan dirinya." Tuturnya.


Regina tersenyum puas, Ia bahagia mendengar jawaban dari bibir Jeremi. Dengan seketika, Regina langsung mencium bibir Jeremi dengan lembut. Jeremi tersenyum dan memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan dari lidah yang saling beradu.


Sementara di balik pintu, terlihat sebuah handphone tengah merekam semua kejadian tersebut. Nadia nampak puas dan mengirimkan Vidio tersebut kepada Ririn. "Semoga kamu tidak menangis melihat semua ini." Batinnya.


Di kamar Ririn...


Bunyi WhatsApp berdering, Ririn meraih handphonenya dan melihat siapa yang mengirim. "Ah.. ternyata si wanita iblis! Malas ah..." Gerutunya.


Tapi dari samar-samar Ririn memperhatikan gambar Video tersebut. "Sepertinya ini regina!" Ucapnya sambil mengunduh video.


Setelah pengunduhan selesai, Ririn langsung menonton video tersebut dari awal sampai akhir. Dan juga melihat ciuman mesra antara keduanya. "Brengsek...! Aku tidak rela, kamu menjadi milik orang lain." Teriaknya sambil melemparkan handphone.


Ririn memeluk lututnya dan menangis. Hatinya serasa tersayat melihat adegan yang masih terbayang di benaknya. "Kenapa kamu tega sama aku? Aku telah melakukan segala cara untuk mendapatkan dirimu, tapi kenapa kamu lebih memilih Regina yang baru kamu kenal." Ucapnya dengan histeris.

__ADS_1


Cklek...


Knop pintu berbunyi dan Nadia tersenyum sambil masuk ke dalam. "Sudahlah, jangan pernah kamu sia-siakan hidupmu hanya untuk Jeremi." Ucapnya sambil menepuk bahu.


"Nadia!" Ucap Ririn sambil menoleh dengan linangan air mata.


"Ssstt, menangis lah aku akan menjadi sandaran di hidupmu yang sulit ini!" Ucap Nafis menenangkan.


Rurin terbawa suasana dan langsung memeluk Nadia. "Kenapa hidupku seperti ini?" Ucapnya sambil terisak.


Nadia mengelus rambut Ririn dengan senyum liciknya. "Itu karena kamu bodoh, coba saja kalau kamu pintar tidak mungkin Jeremi melepaskan wanita secantik dirimu." Ucap Nadia.


Ririn seketika menjadi emosi mendengar ucapan Nadia dan mendorongnya. "Pergi...! Aku pikir kamu akan membantuku dan kamu malah sebaliknya." Teriaknya.


"Kamu harus mendengarkan ucapan ku, ini semua demi kebaikanmu."


"Aku tidak bodoh, aku tidak Sudi bekerja sama dengan wanita yang menjijikkan seperti dirimu." Caci Ririn.


Nadia tersenyum dan menarik tangan Ririn. Ia membawa ke hadapan cermin sambil mencengkram dagunya. "Coba lihat tubuhmu di cermin, masih adakah lelaki yang suka sama kamu!" Ucap Nadia.


Ririn menatap pantulan tubuhnya di cermin, Ia hanya diam dan tak menjawab. "Lihatlah tubuhmu yang ceper ini, buah dada kecil dan pantat rata. Apakah kamu masih pantas di sebut wanita!" Ledeknya.

__ADS_1


Ririn masih terdiam. "Lihatlah tubuhku, seksi! Buah dada besar, wajah cantik, pinggang ramping dan pantat besar. Itulah yang di sebut wanita, tidak akan ada lelaki yang menolak tubuhku ini!" Ucapnya dengan membanggakan diri sendiri.


__ADS_2