CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Penyesalan terbesar


__ADS_3

Di dalam kesunyian dan kegelapan hanya ada Benny yang sedang meratapi kesalahannya. Kematian Berin, menjadi pukulan terbesar untuk hidupnya. Apalagi alasan kematiannya adalah dirinya. "Nak, maafkan papa!" Ucapnya sambil duduk dan memeluk kakinya sendiri.


"Jahat...jahat...!" Suara tanpa ada yang terlihat bergema di dalam ruangan tersebut. Benny terkejut dan memutar kepalanya ke seluruh ruangan tersebut.


"Si...siapa?" Teriaknya dengan gugup.


Hening, tak ada jawaban. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Gelisah dan takut menyelimuti perasaannya. "Tunjukkan dirimu..!" Teriaknya kembali.


Kretek... kretek...


Suara tersebut memecah keheningan, Benny menoleh dan berjalan mendekati suara tersebut. Dan matanya terbelalak, saat melihat genangan darah segar mengalir. "Darah...!" Ucapnya dengan seribu pertanyaan.


"Darah siapa ini?"


Suara itupun datang kembali dan sekarang suara tersebut berasal dari belakang tubuhnya. Dengan perlahan Benny membalikkan badannya dan teriakan pun mulai terdengar.


"Aaaaaahhhhh...." Teriak Benny dengan keras. Dan akhirnya dia mundur dan terjatuh. "Sayang, maafkan papa!"


Iya, Benny berteriak karena melihat wajah Almarhum anaknya yang berlumuran darah. Benny begitu histeris dan menangis.


Petugas yang mendengar semua itu, langsung menghampirinya dan menggedor sel. "Diam, jangan berteriak lagi!" Bentaknya.


Benny langsung menghampiri penjaga dan memohon untuk mengeluarkannya. "Pak, tolong..! Tolong keluarkan saya dari sini, anda mau berapa saya akan memberikannya." Ucapnya.

__ADS_1


Penjaga tersenyum. "Memangnya saya bodoh? Melepaskan penjahat seperti kamu yang dengan tega membunuh anakmu sendiri."


"Pak, percayalah! Semua itu kecelakaan dan saya tidak sengaja. Saya hanya terbawa emosi dan gelap mata." Ucapnya membela dirinya sendiri.


Ha...Ha...


Suara penjaga tersenyum bahagia. "Lucu..lucu sekali. Ada penjahat yang membela dirinya sendiri. Seharusnya kamu merenungi kesalahanmu, bukannya kamu menyogok orang lain. Bertaubatlah, sebelum ajal mu menjemput. " Ucapnya sambil melenggang pergi.


"Pak..pak... tolong dengarkan saya! Pak....!" Teriaknya sambil menggoyangkan jeruji besi.


"Aaahhhh" Teriak Benny kesal pada dirinya sendiri.


Penyesalan tidak ada yang datang duluan, Ia benar-benar kecewa pada dirinya sendiri. "Kenapa hidupku jadi seperti ini?" Teriaknya sambil menjambak rambut sendiri.


Keesokan harinya...


Terlihat Regina tengah menyiapkan sarapan di meja makan. Jeremi datang menghampiri dengan senyuman. "Pagi cantik!" Sapanya.


"Pagi!" Jawab Regina dengan membalas senyuman.


"Sayang, kapan kamu akan menjadi Riana ku yang dulu. Aku sangat merindukanmu!" Ucapnya sambil memegang tangan Regina.


Regina duduk dan tersenyum. "Nanti, setelah semuanya berakhir. Bersabarlah...! Oh iya, bagaimana dengan Benny." Tanyanya.

__ADS_1


"Eem, sepertinya Benny akan menghalalkan segala cara untuk meraih kebebasannya. Tapi aku tidak rela, kita harus memberikan bukti-bukti kejahatannya yang membuat dua tidak bisa berkutik lagi." Jawabnya.


Regina menganggukkan kepalanya. "Benar, tidak mudah untuk membuat Benny di balik jeruji besi seperti ini. Setidaknya, musuh kita berkurang satu persatu. Meskipun bukan kita yang menjebloskannya." Tutur Regina.


"Iya, tapi kamu jangan senang dulu. Melihat dari keadaannya Benny dan Berin hanyalah pion. Kita tidak tahu, siapa dalang dari semua ini." Ucapnya dengan nada serius.


Regina mendengar dengan tatapan tajam, Ia begitu serius memikirkan masalah ini. "Mungkinkah, Nadia dalang dari semua ini?" Tanya Regina sambil menoleh.


"Aku juga tidak tahu, tapi kecurigaan kita sama. Mulai sekarang kita harus berhati-hati terhadap nya, jangan sampai kita mengalami hal yang sama seperti Benny." Jawabnya.


Disaat mereka berbincang, terlihat dua bola mata telah memperhatikan mereka dari kejauhan. Wanita itu nampak mengepalkan tangannya melihat kemesraan mereka. "Aku tidak rela, kalau kamu memilih regina?" Ucapnya.


Tanpa di sadari, wanita lain menepuk bahunya. "Kenapa disini terasa panas sekali yah? Apa mungkin ada sedang di landa api cemburu?" Ejeknya sambil mengibaskan tangan ke wajahnya.


"Dasar ******, belum puas kamu menghancurkan keluarga kecilku!" Teriaknya dengan tatapan tajam.


Wanita itu tersenyum. "Rin..! Semua itu bukanlah salahku, suami dan anakmu saja yang bodoh. Atau mungkin, karena aku cantik dan menggoda sampai mereka tak bisa melepaskan pandangannya." Jawabnya dengan nada sombong.


Plakk...


Tamparan keras mendarat di pipi Nadia. "Hey, j****g jaga ucapan mu. Aku tahu, kamu itu sok lugu tapi nyatanya kamu itu licik." Bentaknya.


Nadia mengusap-usap, bekas tamparan yang mendarat di pipinya. "Lebih baik licik daripada bodoh. Aku tahu, selama ini kamu mencintai Jeremi dari dulu sampai sekarang. Bahkan, kamu sedikit pun tidak pernah mendapatkan simpati darinya." Tuturnya.

__ADS_1


Ririn terdiam dan terlihat senyum licik mulai terpancar dari wajah Nadia. "Aku bisa membantumu untuk mendapatkan Jeremi." Bisiknya di telinga Ririn.


__ADS_2