CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Wanita misterius


__ADS_3

Di rumah sakit...


Terlihat dokter dan perawat tengah bergegas masuk ke ruangan UGD, mereka langsung melakukan perawatan kepada Siska dan mamahnya.


1 jam kemudian...


Akhirnya dokter keluar dengan raut wajah yang lesu. Benny langsung menghampirinya dan menanyakan kabar tentang mereka. "Maaf pak, kami sudah berjuang tapi takdir berkehendak lain. Ibunya telah meninggal dan yang anaknya sedang terbaring koma!" Ucap Dokter tersebut.


Benny nampak sempoyongan dan tubuhnya ambruk ke lantai. "Maafkan aku, seharusnya aku mengetahuinya dari awal!" Ucap Benny sambil meneteskan air matanya.


Pak Candra menenangkan Benny dan langsung memeluknya. "Yang sabar nak, ini semua bukan salah kamu!" Ucap Pak Candra.


Jeremi nampak terdiam dan melihat mereka yang sedang bersedih, Jeremi langsung duduk di kursi sambil memijat kepalanya. "Siapa yang melakukan ini, kenapa disaat dia mau menyebutkan na anakku dia di tembak!" Batin Jeremi.


Berin dan Jeremi berlari menghampirinya, Berin nampak bersedih saat melihat Benny menangis. "Ada apa ini pah?" Tanya Berin.

__ADS_1


"Mamahnya Siska meninggal! Jawab Pak Candra.


"Meninggal, dan bagaimana dengan keadaan Siska?" Tanya Berin dengan raut cemas.


"Dia sekarang koma!" Ucap Pak Candra sambil melihat kearah berin.


Berin merasa hatinya hancur, saat mengetahui kebenaran kalau Siska adalah adiknya. Tapi hatinya lebih hancur lagi saat melihat kearah Siska di balik kaca. "Siska, kenapa ini semua bisa terjadi? Disaat aku telah melabuhkan hatiku kepadamu, kenapa jadi seperti ini!" Batin Benny sambil meneteskan air matanya.


Jerry langsung menghampiri dan memeluk berin. "Kak, yang tabah!" Ucap Jerry.


Berin langsung menangis di pelukan Jerry, dia tak bisa membendung air matanya. "Menangis lah kak, jika itu bisa membuatmu membaik!" Ucap Jerry sambil mengelus punggungnya.


Terlihat seorang wanita yang tampak cantik dan modis keluar dari mobil. Senyumannya yang terlihat manis dan tatapan mata tajam yang tampak di wajahnya. Dia menggunakan baju yang sedikit terbuka dengan tok pendek serba hitam. "Apakah pekerjaan kalian sudah selesai?" Tanyanya dengan tatapan tajam.


Kedua lelaki yang bertubuh besar dan kekar nampak tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Sudah Bu, semuanya sudah beres!" Ucap mereka.

__ADS_1


Wanita itu nampak tersenyum dan mengangguk puas. "Bagus, ini bayaran untuk kalian!" Ucap wanita itu sambil menyerahkan amplop coklat yang berukuran cukup besar.


Lelaki itu langsung mengambilnya dan membuka amplop tersebut. Kedua lelaki itu nampak puas saat melihat isi amplop tersebut. "Terima kasih Bu, saya senang bisa bekerja sama dengan anda. Kalau ada pekerjaan lagi, anda bisa menelpon saya!" Ucap salah satu lelaki itu.


Wanita itu tersenyum dan melenggang pergi, dia langsung melajukan mobilnya dan meninggalkan mereka. "Jangan salahkan aku, kalian yang mencari mati dengan membocorkan rahasiaku!" Ucap wanita itu sambil tersenyum.


Di kediaman Pak Candra...


Terlihat Benny masuk ke rumah dengan tatapan sendu, dia di kejutkan dengan beberapa koper yang bertengger di ruang tamu. "Koper siapa ini?" Batinnya.


Terlihat Ririn membawa tas dan langsung membawa koper tersebut. Benny yang terkejut langsung. menghalanginya. "Sayang kamu mau kemana?" Tanyanya dengan raut wajah heran.


"Aku mau pergi, aku sudah tidak sanggup lagi hidup bersamamu!" Ucap Ririn dengan nada ketus.


"Sayang, kamu salah paham! Aku bisa jelaskan semuanya!" Ucap Benny sambil memegang tangannya.

__ADS_1


Ririn mengibaskan tangannya dan langsung pergi. Pak Candra menghentikannya dan menjelaskan semuanya kepada Ririn. Ririn langsung melihat kearah Benny dan dia menganggukkan kepalanya. "Iya, sayang semua itu benar. Sarah adalah istriku keponakan Pak Hardi yang pernah aku ceritakan sama kamu." Ucap Benny mencoba meyakinkan.


Akhirnya Ririn bisa tersenyum dan merasa lega. "Ternyata dia sudah berkata jujur, aku janji akan menerima anaknya dan menyayanginya seperti anakku sendiri!" Gumam Ririn sambil tersenyum.


__ADS_2