
Pak pengacara pergi meninggalkan kediaman Pak Candra. Jeremi mengantarnya sampai depan rumah. Setelah Pak Andi pergi, Jeremi langsung masuk ke dalam rumah dan duduk kembali di ruang tamu.
Benny nampak kesal dan memalingkan pandangannya. "Sudahlah mas! Jangan di pikirkan, kita semua adalah keluarga dan Mas bisa tinggal di sini seperti biasa." Ujar Jeremi mengawali pembicaraan.
Benny menyunggingkan senyuman. "Benalu, sekarang serasa menjadi anak emas. Meskipun begitu aku tetap tidak rela, kalau kamu ingin kita menjadi keluarga seperti dulu, kembalikan apa yang telah kamu dapatkan dari papah ku." Ucap Benny.
Jerry geram mendengar semua itu, dia langsung bangkit dari tempat duduknya. "Sudahlah Om, kenapa harus berdebat untuk masalah seperti ini. Kakek baru saja di semayamkan, apa tidak malu dan merasa sedih untuk nya. Kakek benar dengan memberikan rumah ini kepada papah, karena kalau yang mendapatkannya mungkin sekarang kami sudah di tendang dari rumah ini." Lanjut Jerry dengan tatapan tajam.
"Terserah, yang terpenting aku tidak pergi dari rumah ini. Itupun kalau kalian tahu diri!" Ucap Benny sambil melenggang pergi.
Jeremy dan Jerry nampak menggelengkan kepalanya seraya kepergian Benny. Jerry menatap wajah Berin yang nampak menundukkan kepalanya. "Kak Berin, kakak bisa bekerja kembali di perusahaan. Aku tidak akan melarangnya dan semoga saja kita bisa kembali seperti dulu." Ujarnya.
Mata Berin nampak berkaca-kaca, dia terharu mendengar ucapan Jerry. Dia melangkah dan langsung memeluknya. "Terima kasih Jerry, setelah apa yang aku lakukan kamu masih bisa menerimaku disini. Aku janji, setelah ini aku tidak akan mengecewakanmu." Ucap Berin sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
Jerry membalas pelukannya dan tersenyum. "Iya kak, semoga kita saling menjaga!" Jawab Jerry.
Berin dan Jerry melepaskan pelukannya dan tersenyum. Akhirnya Laras datang menghampiri dan tersenyum. "Mas, dan semuanya. Ayo kita makan dulu, karena seharian ini kalian pasti belum makan!" Ajak Laras.
Sindy mendekati Laras dan langsung menangis di pelukannya. "Maafkan aku! Karena aku juga turut andil untuk memisahkan kalian berdua." Ucapnya dengan nada tersedu.
Laras membalas pelukannya dan tersenyum. "Sudahlah, semua itu sudah berlalu. Sekarang kamu adalah adikku dan aku pasti akan selalu memaafkan mu." Jawab Laras.
Sindy dan Laras tersenyum bahagia. "Oh iya kak, mulai sekarang panggil aku Jenny karena nama itu adalah nama yang di berikan papah untukku." Ujar Sindy.
Laras dan Jerry menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Ya sudah, ayo kita makan!" Ajak Laras kembali.
Mereka akhirnya berjalan menuju meja makan termasuk Ririn dan Berin. Jeremi keluar dari kamar dan langsung ikut makan bersama. Terlihat makanan yang banyak dan terlihat lezat membuat perut mereka meronta-ronta. "Cepatlah, aku sudah tidak sabar untuk memakannya!" Ujar Berin sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya, silahkan makan dan jangan lupa berdoa dulu!" Ucap Jeremi sambil mengambil makanan.
Mereka mengambil makanan satu persatu, Jeremi terlihat bahagia. "Ya Allah, semoga saja kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir! Semoga saja, tidak akan ada masalah yang membuat kita terpecah." Batin Jeremy sambil menatap ke arah mereka.
"Laras, masakan kamu enak sekali!" Ujar Ririn sambil makan dengan lahap.
"Eem, itu benar! Pasakkan kak Laras enak banget, aku harus belajar masak nih!" Ucap Jenny dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Ah, sudahlah kalian terlalu banyak memuji!" Jawab Laras yang nampak malu.
"Beneran enak, aku memang tidak salah pilih istri. Sudah cantik, ramah, pinter masak pula." Puji Jerry sambil melihat kearah Laras.
Mereka nampak tersenyum bahagia, dan terlihat sepasang bola mata nampak melihat kearah mereka dengan tatapan kesal. "Tersenyumlah sepuas hati kalian, karena setelah ini tidak akan ada lagi senyuman di rumah ini, selain senyuman ku karena bahagia melihat kalian menderita." Batin Benny dengan senyum ketir.
__ADS_1