
Akhirnya mereka sampai di bandara, tanpa menunggu lama pemberitahuan untuk penerbangan ke arah Jakarta akan segera berangkat. Berin dan Ririn bergegas masuk dan naik ke atas pesawat. Ririn nampak duduk sambil melihat kearah luar dari jendela.
Banyak orang yang dengan tergesa-gesa ataupun berlalu lalang. Ririn nampak termenung, perutnya masih terasa sakit dan mulai mengganggu moodnya. "Kenapa perutnya sakit kembali?" Batin Ririn sambil memegangi perutnya.
Berin nampak menoleh ke arah Ririn yang terlihat tengah menahan rasa sakitnya. "Mamah kenapa?" Tanya Berin dengan raut wajah panik.
"Tidak apa-apa sayang, mamah hanya butuh istirahat!" Ucap Ririn dengan senyum yang semu.
"Mah...!" Ucap Berin.
Ririn menggelengkan kepalanya dan dia tersenyum. "Mamah mau tidur dulu, tolong kami jangan ganggu mamah!" Ucap Ririn menghentikan pembicaraan.
Berin menganggukkan kepalanya dan Ririn pun memejamkan matanya. Berin nampak sedih melihat keadaan mamahnya. "Aku yakin, ini semua bukan karena mamah sedang datang bulan." Batin Berin sambil menatap wajah Ririn yang terlihat pucat.
Di tempat lain...
Sindy dan Rama nampak berjalan dan memasuki kediaman Pak Candra. Sindy terlihat ragu dan Rama memberikan support untuk dirinya. "Ayo masuk, kita harus tahu kebenarannya!" Ajak Rama.
Sindy menganggukkan kepalanya dan mereka berjalan masuk ke dalam. Sindy sudah membulatkan tekadnya untuk mencari keluarganya, setelah mendengar kebenaran dari ibunya. Sindy teringat akan ucapan Jeremi, saat mereka bertemu pertama kali. "Aku yakin, dia adalah ayahku!" Batin Sindy sambil memegang bagian dadanya.
Ting...tong...
Rama memijat bel dan menunggu, terlihat pintu pun terbuka. Nampak seorang wanita tersenyum dan bertanya dengan ramah. "Mau bertemu siapa yah?" Tanya Laras.
"Laras." Ucap Sindy.
Laras tersenyum dan mengerutkan keningnya. "Iya, saya Laras! Maaf nona ini siapa?" Tanya Laras.
__ADS_1
"Aku Sindy, dulu kita sering bertemu tapi waktu itu kamu belum bisa melihat!" Ujar Sindy.
"Ooh, ini mbak Sindy. Ternyata kabar burung itu memang benar, kamu benar-benar cantik sekali." Puji sindy sambil tersenyum.
"Aah, kamu terlalu berlebihan." Ucap Sindy sambil tersenyum.
Sindy nampak tertegun, dia merasa menyesal karena telah berbuat jahat kepada Laras. "Ternyata Jerry pandai memilih istri!" Ucap sindy.
"Terima kasih! Ayo masuk, kita bicara di dalam!" Ajak Laras sambil tersenyum.
Rama dan Sindy menganggukkan kepalanya dan berjalan masuk. Laras menyuruh mereka untuk duduk dan dia segera pergi ke dapur untuk membawa minuman dan cemilan. Setelah selesai menyiapkan, Laras langsung masuk ke ruang tamu dengan membawa nampan dengan 2 cangkir teh dan cemilan. "Silahkan diminum!" Ujar Laras.
"Terima kasih, maaf merepotkan!" Ucap Sindy.
Laras duduk dan melihat kearah mereka. "Ada apa ini? Dan kalian mau bertemu siapa?" Tanya Laras mengawali pembicaraan.
"Kami mau bertemu dengan Pak Jeremi." Ujar Rama menjawab.
Sindy nampak kecewa, wajahnya yang tadinya berseri mulai berubah. "Oh, apakah kamu tahu tentang kembaran Jerry?" Tanya Sindy.
Laras mengerutkan keningnya dan tersenyum. "Setahuku kembaran mas Jerry bernama jenny dan kebetulan disini tidak ada fotonya karena dia diculik saat hari pertama di lahirkan." Ujar Laras menjelaskan.
Sindy nampak terkejut dan tertegun. "Mungkinkah aku ini adalah saudara kembarnya Jerry!" Batin Sindy yang terus bertanya-tanya.
Rama nampak menoleh dan melihat sindy yang nampak melamun. "Percayalah, kita akan bertemu dengan kebenarannya!" Ucap Rama menenangkan Sindy.
"Kebenaran apa?" Tanya Laras penasaran.
__ADS_1
Disaat mereka tengah bercengkrama, Jeremi datang dan Pak Candra datang menghampiri mereka. "Ternyata ada tamu!" Ucap Pak Candra sambil tersenyum.
"Iya pah, ini ada sindy ingin bertemu dengan papah!" Ujar Laras.
Sindy dan Rama langsung berjabat tangan dengan mereka. Jeremi nampak tertegun melihat wajah sindy dan begitupun dengan sindy. "Papah!" Ucap sindy sambil menatap wajah Jeremi.
Jeremi nampak meneteskan air mata saat mendengar dirinya dipanggil papah oleh Sindy. Jerry melepaskan jabat tangan sindy dan Jeremi. "Ada apa ini? Dan kenapa kamu ada di sini?" Tanya Jerry dengan nada ketus.
"A..aku.." Ucap sindy terbata-bata.
"Pergi, aku tidak mau bertemu denganmu lagi. Kamu adalah penghianat di perusahaan dan seharusnya kamu bersyukur aku tidak memasukkan kamu ke jeruji besi." Ucap Jerry dengan nada ketus.
Laras nampak menghampiri dan memegang tangan Jerry. "Mas, kamu jangan seperti itu. Sindy tamu disini dan dia ingin bertemu dengan papah." Ucap Laras dengan penuh kelembutan.
"Tap..." Ucap Jerry terhenti.
"Sudahlah, lebih baik kamu duduk dan mendengarkan keinginan Sindy." Ucap Laras sambil menarik tangan Jerry.
Jerry duduk dengan raut wajah yang kesal, dia terus menatap sindy dengan tatapan tajam. Terlihat sindy hanya bisa menundukkan kepalanya dan Rama terus memberikan support kepada sindy. "Kamu tenang!" Ucap Rama.
"Sebenarnya ada apa ini? Sepertinya ada hal yang penting!" Ucap Jeremi mengawali pembicaraan.
Sindy nampak tertegun dia menatap kearah Rama. "Sebenarnya begini Pak, kami hanya ingin tahu tentang kembaran mas Jerry." Ucap Rama dengan nada sopan.
"Kembaran, apa maksudnya?" Tanya Jeremi tak mengerti.
"Pak saya bertemu dengan anda pertama kali dan anda menyebut saya dengan nama jenny. Waktu itu saya tidak percaya, tapi setelah mengetahui kebenarannya jika saya hanyalah anak angkat. Jadi saya datang kesini, dan saya ingin tahu." Ujar Sindy memberanikan diri.
__ADS_1
Pak Candra dan Jeremi nampak saling menatap. "Siapa nama ibumu?" Tanya pak Candra dengan nada serius.
"Sarah!" Jawab Sindy singkat.