CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Meluap


__ADS_3

Jeremi menyunggingkan bibirnya kembali. "Seharusnya kamu bersyukur masih ada di sini dan aku memberikanmu kesempatan untuk membayar semua perbuatan mu di masa lalu." Ucapnya sambil tersenyum ketir.


"Apa maksudmu?" Tanya Ririn dengan mata yang membulat.


"Jangan pura-pura lupa, Karena walau bagaimanapun aku tidak akan pernah melupakan perbuatan mu. Kamu tahu, aku selama ini mengizinkanmu tinggal disini hanya untuk mengawasi kamu agar tidak melakukan hal yang akan merugikan keluargaku." Ujar Jeremi dengan nada kesal sambil menunjukkan jarinya kepada Ririn.


Ririn terdiam dan tubuhnya jatuh, Ririn mengingat kembali semua kejadian yang pernah dia lakukan. "Jadi kamu mengetahuinya?" Tanya Ririn dengan nada pelan.


"Ya, aku mengetahuinya setelah kematian Riana dan penculikan Jenny. Aku membaca diary Riana yang mengatakan semua kebusukan mu dan Benny. Kamu memberikan racun di minuman Riana setiap hari agar bisa membunuh bayi dalam kandungan Riana." Ucap Jeremi sambil berderai air mata.


Ririn akhirnya menangis, dan merasa menyesal dengan apa yang telah di perbuatannya. "Ya, aku mengakui semuanya. Tapi aku saat itu tak berdaya, mas Benny dan Sarah yang menyuruhku dan..." Ucap Ririn terhenti.

__ADS_1


"Dan apa?" Teriak Jeremi sambil mencengkram dagu Ririn.


Ririn nampak kesakitan, cengkraman tangan Jeremi di dagunya semakin keras. Ririn menatap wajah Jeremi yang penuh amarah, dengan mata yang merah melengkapinya wajahnya. Dengan seketika bulu kuduk Ririn mulai berdiri, melihat Jeremi seperti bukan Jeremi yang dia kenal sebelumnya.


"Jer..." Ucap Ririn sambil menahan rasa sakitnya.


"Kenapa, apakah kamu takut melihat aku yang sekarang?" Tanya Jeremi sambil menggeretkan giginya.


Ririn diam terpaku dan memejamkan matanya. Dia tak sanggup melihat wajah Jeremi yang seperti itu. "Lihat aku, jangan pejamkan matamu? Aku seperti ini karena kamu, kamu tahu!! Setiap hari aku melihat wajahmu, dan setiap hari itu pun juga kebencian ku semakin dalam terhadap mu." Ucap Jeremi.


Wajah Ririn nampak terjatuh ke lantai dan Jeremi bangkit. "Mulai sekarang, setiap hari kamu akan merasakan sakit yang dirasa oleh Riana. Rasa sakit karena racun yang telah menggerogoti tubuhnya secara perlahan. Tadinya aku akan melepaskan mu karena kamu telah berjasa kepada keluarga ku, tapi nyatanya kamu tidak pernah berubah. Kamu sengaja membangunkan macan yang sedang tidur ini." Ujarnya.

__ADS_1


Jeremi melenggang pergi dan menoleh kearah Ririn kembali. "Dan ingat, jika kamu ceritakan semua ini kepada siapapun maka jangan salahkan aku jika aku melakukan hal yang sama kepada anakmu." Ujar Jeremi kembali.


Jeremi pergi meninggalkan kamarnya, Ririn nampak menangis dan menyesali semua perbuatannya. "Kenapa aku bodoh? Kenapa aku tidak menyadari kalau Jeremi mengetahui segalanya. Kalau begini caranya, hidupku akan terasa sulit dan aku tidak mungkin akan selamat dari kemarahan Jeremi yang telah di pendam selama 20 tahun." Batin Ririn.


Di tempat lain...


Terlihat Benny masuk ke dalam rumah dengan membawa seorang wanita yang lugu dan polos. Wanita tersebut nampak menggenggam tangan Benny dengan erat sambil tersenyum. "Mas, ini rumahmu?" Tanya wanita itu dengan lembut.


"Iya!" Ucap Benny sambil menganggukkan kepalanya.


Jeremi nampak melihat kearah mereka dan langsung menghampirinya. "Mas, kamu bawa siapa?" Tanya Jeremi dengan wajah datar.

__ADS_1


Benny tersenyum. "Kenalin, ini istriku namanya Nadia. Dia dari Cianjur, dan tolong kamu jangan mempersulitnya." Ucap Benny dengan nada ancaman.


Jeremi nampak menatap wajah wanita itu yang nampak tak asing baginya. Wanita itu mengingatkannya terhadap Riana dan wajahnya nampak mirip dengan Riana. Hanya saja, penampilan dan karakternya yang sedikit berbeda.


__ADS_2