CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Hukuman


__ADS_3

Akhirnya Pak Candra tersenyum dan memeluk Jeremi. "Papah bahagia, akhirnya kita bisa berkumpul bersama lagi." Ujar Pak Candra sambil meneteskan air mata.


"Iya pah, semoga saja ini adalah akhir dari penderitaan keluarga kita." Jawab Jeremi sambil tersenyum.


Mereka melepaskan pelukannya dan melihat kearah Sindy dan Jerry. Jerry dan Sindy pun berjalan menghampiri. Pak Candra menggenggam tangan Jerry dan meletakkan di atas tangan Sindy. "Semoga kalian berdua bisa akur, lupakanlah masa lalu dan jalani kehidupan ini bersama karena kalian adalah saudara." Ujarnya.


"Iya kakek! Aku minta maaf kak, atas semua kelakuanku di masa lalu." Ucap Sindy sambil menatap wajah Jerry.


"Iya, aku akan berusaha memaafkan mu dan melupakan semuanya." Ucap Jerry dengan senyum masam.


Sindy pun melihat kearah Laras dan langsung memeluknya. "Ras, aku minta maaf karena udah buat kalian susah." Ujar Sindy.


Laras membalas pelukannya dan tersenyum. "Iya, tidak apa-apa! Yang lalu biarlah berlalu dan sekarang kita adalah keluarga." Ucap Laras.


Pak Candra dan Jeremi tersenyum melihat anak-anaknya bisa akur. "Oh iya, Sindy kami mau pakai yang mana?" Tanya Jeremi.

__ADS_1


"Eem, aku ingin mengganti nama ku. Mungkin nama Jenny bisa menjadi awal baru dari hidupku." Jawab Sindy sambil tersenyum.


"Syukurlah, papah bahagia mendengarnya akhirnya anak-anak papah berkumpul kembali Jerry dan Jenny." Ucap Jeremi.


Sindy pun tersenyum bahagia, akhirnya dia mendapatkan kebahagiaan yang selama ini dia impikan. "Ya Allah, semoga saja hidupku bisa berubah." Batin Sindy.


Pak Candra melihat kearah Rama dan menghampiri. "Kapan nak?" Tanya Pak Candra singkat.


Rama nampak heran dan tak mengerti dengan pertanyaan Pak Candra. Termasuk dengan semua orang yang ada di sana. "Kapan apa kek?" Tanya Rama.


Rama nampak tersenyum, dia nampak bahagia mendengar pertanyaan tersebut. Tapi hatinya sedang dilema karena Sindy belum menerima cintanya kembali. "Eem, mungkin..." Ucap Rama terhenti karena ragu.


"Eem, mungkin seminggu lagi kita akan bertunangan." Jawab Sindy sambil melihat kearah Rama.


Rama nampak terdiam dan melihat kearah Sindy. Dia benar-benar tak percaya dengan apa yang dia dengar. "Apakah kamu serius?" Tanya Rama.

__ADS_1


"Iya, aku benar-benar serius! Dari dulu kamu adalah pujaan hatiku dan sampai saat ini kamu juga adalah pahlawan dalam hidupku." Ujar Sindy sambil tersenyum puas.


Rama tersenyum dan matanya nampak berkaca-kaca, dia berjalan mendekati Sindy dan bermaksud untuk memeluknya. Tapi sayangnya, tangan Jeremi dengan sigap berada di tengah. "Eits, jangan dulu kalian belum resmi." Ucap Jeremi sambil tersenyum.


Semua orang tersenyum dan mereka sangat gembira. Pipi Rama nampak memerah karena malu. "Maaf Om, aku hanya teplek." Jawab Rama sambil menggaruk kepalanya.


...


Keesokan harinya...


Hari sidang untuk Sarah di mulai, Pak Candra dan keluarga telah berada di persidangan. Sarah berjalan masuk dengan tatapan penuh kebencian.


Persidangan pun di mulai, hakim ketua membacakan semua tentang kejahatan-kejahatan Sarah. Sarah saat ini sudah tidak bisa mengelak, karena semua bukti sudah memberatkan dirinya.


"Karena kejahatan yang di lakukan Sarah sudah terlalu banyak dan tidak bisa di toleransi maka kamu memutuskan Saudara Sarah mendapatkan hukuman seumur hidup atau hukuman mati." Ujar Hakim ketua sambil mengetuk palu.

__ADS_1


__ADS_2