
Ririn membuka surat tersebut dan mulai membacanya.
...Dear sayangku......
Sebelumnya aku minta maaf, karena aku tidak pamit dan langsung pergi meninggalkanmu. Aku tidak tega membangunkan mu yang tengah tertidur pulas.
Oh, iya di samping surat ini ada cek untukmu dan nominalnya cukup besar. Terima kasih atas pelayanan mu di ranjang yang membuatku benar-benar puas, ingin rasanya aku selalu bersamamu tapi aku tidak bisa.
Salam sayang
Broto
Ririn nampak tersenyum dan mengambil cek yang ada di sampingnya. Matanya nampak membulat melihat nominal yang cukup fantastis. "500 juta, tidak salah jika aku memilih dia menjadi calon suamiku." Ujar Ririn sambil tersenyum.
__ADS_1
Ririn langsung berkemas dan pergi menuju rumah sakit, di sepanjang perjalanan hatinya merasa berbunga-bunga karena dia mendapatkan uang dan bisa menyalurkan syahwatnya.
30 menit kemudian...
Ririn akhirnya sampai di depan rumah sakit, dia langsung memarkirkan mobilnya dan segera masuk ke dalam. Ririn menuju ruangan Berin dan langsung masuk. Terlihat wajah Ririn berubah saat melihat Berin yang lebam dan penuh dengan perban. "Astaghfirullah sayang, kenapa kamu jadi seperti ini?" Tanya Ririn sambil meneteskan air matanya.
Berin nampak membuka matanya, dia melihat ke arah suara. "Mah!" Ucap Berin dengan nada lemas.
"Iya sayang, ini mamah!" Jawab Ririn sambil mengelus rambut Berin.
"Iya sayang, kamu sekarang ada di rumah sakit. Mas Broto menemukanmu sudah terkapar di jalanan. Dan dia langsung membawamu kemari." Ucap Ririn sambil tersenyum.
Berin yang mendengar semua itu nampak terkejut dan mengerutkan keningnya. "Bohong, aku seperti ini gara-gara tua Bangka itu. Dan mamah percaya dengan ucapannya." Ucap Berin sambil mencoba bangkit.
__ADS_1
Ririn membulatkan matanya, saat mendengar ucapan berin anaknya. "Apakah kamu yakin mas Broto yang melakukannya?" Tanya Ririn dengan nada ragu.
"Mah, aku masih ingat betul kejadiannya. Aku datang ke rumahnya untuk mencari keberadaan Laras, tapi dia malah menjualnya kepada orang lain. Ini semua gara-gara mamah, aku mencintai Laras tapi mamah lebih memilih untuk memberikannya kepada bandot tua itu." Ucap Berin dengan nada tinggi.
Ririn nampak tertegun, dia langsung keluar dari ruangan Berin. "Brengsek, si Broto sengaja memanfaatkan ku dan menodai tubuhku. Aku tidak akan pernah memaafkan dia." Ucap Ririn sambil mengambil handphonenya.
Dia memanggil Pak Broto tapi hasilnya nihil, dia tak mendapat jawaban. Ririn semakin kesal, dia merasa jijik pada dirinya sendiri karena dia telah menghabiskan malam dengannya. "Jadi dia sengaja ingin mencicipi tubuhku." Ucap Ririn dengan nada kesal.
Dia teringat akan cek yang ada di tasnya, Ririn langsung mengambilnya dan tersenyum. "Tapi setidaknya, cek ini bisa membayar pengorbananku." Ujar Ririn.
Ririn langsung bergegas pergi untuk mencairkan cek yang ada di tangannya. Dia keluar dari rumah sakit dan tak jauh terlihat keberadaan bank. Tak membutuhkan waktu yang lama, Ririn akhirnya sampai dan langsung mengambil antrian.
Akhirnya nomernya di panggil, Ririn langsung maju ke depan dan memberikan cek tersebut. "Saya mau mencairkan cek ini!" Ucap Ririn.
__ADS_1
"Baik mbak, tunggu sebentar!" Ucap pegawai bank tersebut.
Ririn menunggu dengan penuh senyuman, tapi pegawai bank nampak mengerutkan keningnya. "Maaf mbak, cek ini palsu!" Ujar pegawai bank tersebut.