
Lelaki itu nampak tersenyum mendengar Sindy menyebut namanya. "Ayo, aku bantu kamu!" Ucap lelaki itu sambil menyodorkan tangannya.
Mata Sindy nampak berkaca-kaca menatap lelaki yang ada di hadapannya. Terlihat tatapan kerinduan terpancar dari matanya, tapi Sindy menepis semuanya. Sindy langsung menepis tangan Rama dan bangkit sendiri. "Aku tidak butuh bantuan mu." Ucap Sindy sambil bangkit dan berjalan menjauh.
Rama langsung menggenggam tangan Sindy dan memeluknya dari belakang. "Sayang, aku sangat merindukanmu!" Ucap Rama dengan mata yang berkaca-kaca.
Sindy nampak terdiam, tak terasa air mataku jatuh tak tertahankan. "Pergi, aku tidak mau bertemu denganmu lagi!" Teriak Sindy sambil mendorong tubuh Rama sampai terjatuh.
Rama mencoba bangkit dan mengejar Sindy yang berlari dan masuk ke dalam mobilnya. "Sindy, tolong dengarkan aku. Aku minta maaf sama kamu, karena sebelumnya aku pergi dari kamu. Tapi ini semua ku lakukan untuk kebaikan kita, kamu lihat aku sudah seperti yang mamah kamu inginkan. Aku sekarang sudah sukses!" Ujar lelaki itu sambil melihatnya dari jendela mobil.
Sindy tak bisa membendung air matanya, dia terus menatap lelaki itu dari balik kaca mobil. "Aku juga sayang sama kamu, tapi sekarang aku tidak pantas untukmu. Aku sudah tidak suci lagi, dan kamu terlalu sempurna untukku!" Teriak Sindy sambil melajukan mobilnya.
Lelaki itu nampak mengejar tapi tak terkejar. Dia langsung berlari menuju mobilnya dan mengejar mobil Sindy. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dariku lagi." Ucap lelaki itu sambil menyetir.
flashback...
3 tahun yang lalu...
Terlihat di taman 2 sejoli sedang bercengkrama dan tertawa bersama. Mereka adalah Rama dan Sindy, usia mereka hanya berbeda 2 tahun. Keduanya saling mencintai, dan melakukan janji kelingking untuk setia satu sama lain.
Sampai akhirnya bencana pun tiba, mamah Sindy datang dengan 3 bodyguardnya. Rama di pukul habis oleh mereka dan Sindy hanya bisa menangis melihat kekasihnya berlumur dengan darah. "Hentikan! Aku mohon hentikan mah!" Teriak Sindy dengan histeris.
Akhirnya ke tiga bodyguard tersebut menghentikan pukulannya. Mamah Sindy menghampiri Rama yang sudah tidak berdaya di tanah. "Hey pemuda miskin, sudah ku peringatkan untuk menjauhi Sindy! Tapi nyatanya kamu ngeyel dan ini adalah ganjaran untukmu." Ucap mamah Sindy sambil tersenyum jahat.
"Mah, tolong kasihani Rama. Kita saling mencintai, dan aku tidak mau berpisah dengannya." Rintih Sindy sambil menangis.
__ADS_1
Plaakkk...
Tamparan pun mendarat di pipi kanan Sindy, Rama langsung bersujud di hadapan mamahnya. "Tolong jangan sakiti Sindy, ini semua salahku Tante!" Ucap Rama sambil memegang kaki mamahnya Sindy.
Mamah Sindy nampak geram, dia langsung mengepiskan tangannya dan menginjak tangan Rama dengan hill. "Pemuda miskin, sampai kapan kamu terus mengganggu Sindy? Aku sudah pernah bilang sama kamu, jangan pernah dekati Sindy lagi!" Ujar mamahnya.
"Aaaaggghhhh......" Teriak Rama menahan sakit di tangannya.
"Mah, hentikan tangan Rama berdarah!" Ucap Sindy sambil memberontak.
Mamahnya langsung mengangkat sepatu hillsnya dan tersenyum melihat Rama kesakitan. "Ini bayaran yang pantas untukmu!" Ucapnya sambil tersenyum.
"Tante aku mohon, jangan pukul Sindy lagi! Kasihanilah dia, aku mohon Tante!" Ucap Rama sambil terus memohon.
"Tidak mah, aku mencintai Rama. Aku tidak mau berpisah dengannya, aku mohon mah!" Rintih Sindy sambil menangis.
"Sindy, mamah lakukan ini semua demi kebaikan kamu. Mamah pernah mengalami hidup miskin dan mamah tidak mau kamu merasakannya." Ucap mamah dengan nada tinggi.
"Mah, aku rela hidup miskin asalkan bisa hidup bersama Rama." Ucap Sindy sambil menangis.
"Bohong, itu semua bohong. Iya, awalnya memang kamu akan menerimanya karena masih ada rasa cinta. Tapi setelah cinta kamu berkurang, kamu tidak akan tahan dengan suamimu yang miskin dan akhirnya pergi meninggalkan dia," ujar mamahnya sambil tersenyum.
Rama mencoba bangkit dan mendekati mamahnya Sindy. "Tante, aku janji akan membahagiakan Sindy. Tolong berikan aku satu kesempatan untuk membuktikannya." Ucap Rama dengan penuh harapan.
"Baik, kalau kamu terus memaksa! Aku akan memberikanmu kesempatan untuk bisa menikah dengan Sindy, asalkan kamu bisa membawa mahar sebesar 2 milyar." Ucap mamahnya.
__ADS_1
Rama dan Sindy nampak terkejut mendengar nominal yang di minta oleh mamahnya. "Apa mamah sudah gila, dari mana Rama mendapatkan uang sebanyak itu?" Tanya sindy dengan nada kesal.
"Itu bukan urusan mamah, mau dia jual organ tubuhnya atau malah dia menjadi penjahat sekali pun, mamah tidak peduli yang terpenting mahar 2 milyar." Ucap mamahnya Sindy.
"Mamah egois, itu sama saja dengan mamah menjual ku!" Teriak Sindy.
"Terserah kamu mau bilang apa? Mamah tidak peduli, yang terpenting uang!" Ucap mamahnya sambil memainkan tangannya.
Rama yang mendengar semua itu langsung mendekati Mamahnya Sindy. "Baiklah Tante, aku akan menuruti kemauan Tante. Tapi Tante harus janji untuk tidak memukul sindy lagi dan tidak menikahkannya dengan orang lain." Ucap Rama dengan nada serius.
"Oke, Tante janji!" Ucap mamahnya.
Rama menghampiri Sindy dan para bodyguard melepaskannya. "Apa maksudnya ram?" Tanya sindy dengan raut wajah sedih.
Rama tersenyum dan menghapus air mata Sindy. "Sayang, kamu harus janji untuk menungguku! Dan ingat kamu jangan selingkuh, berapa lama pun aku pergi kamu harus ingat aku pasti akan kembali." Ucap Rama.
Sindy langsung memeluk kekasihnya dan menangis di pelukannya. Mamahnya Sindy nampak geram dan memisahkan mereka. "Sudah cukup, sekarang lebih baik kamu pergi!" Ucapnya.
Rama berjalan menjauh dengan langkah kaki yang berat, hatinya serasa hancur meninggalkan Sindy. "Sindy, tunggu aku kembali!" Ucap Rama tanpa menoleh ke belakang.
flash on...
Air mata Rama nampak menetes mengingat masa lalunya bersama Sindy. "Aku kembali sayang, tapi kenapa kamu malah menghindari ku? Padahal aku sangat merindukanmu!" Ucap Rama sambil terus menyetir.
Rama terus mengejar mobil Sindy, sampai akhirnya jalan mulai sepi. Rama langsung menyelip mobil Sindy. Mobil pun akhirnya terhenti, Rama langsung keluar dan menghampiri Sindy. "Sindy, tolong bila pintunya!" Ucap Rama sambil mengetuk pintu mobil Sindy.
__ADS_1