
Regina memeluk Jenny. "Maaf untuk apa sayang!" Ucapnya dengan lembut.
Jenny kembali menangis. "Ram, Rama...!" Ucapnya terbata-bata.
"Memangnya Rama kenapa dan dimana dia?" Tanyanya dengan raut wajah penasaran.
Jenny menatap orang yang sedang berbaring di atas ranjang dengan balutan perban di sekujur tubuhnya. Regina menyadari semua itu dan langsung membulatkan matanya. "Jangan bilang, kalau yang berbaring ini adalah Rama!" Ucapnya dengan nada panik.
"Iya, lelaki ini adalah Rama!"
Dengan seketika, air matanya tak tertahankan. Regina menangis sambil memeluk tubuh Rama. "Kenapa Rama jadi seperti ini?"
"Kemarin siang, Rama janjian sama Papa. Dia ingin membicarakan tentang bukti kejahatan yang menimpa Mama. Tapi sayang, di perjalanan kami di hadang oleh dua orang lelaki yang bertubuh besar sambil melemparkan bensin ke tubuh Rama dan..." Ucap Jenny tak kuasa menjelaskan.
Regina menangis dan mengepalkan tangannya. "Aku tahu, siapa yang melakukan semua ini!" Batinnya.
Jeremi mendekati Regina dan sontak Regina langsung memeluknya. "Mas...!" Ucapnya sambil menangis.
Jenny mengerutkan keningnya, melihat keduanya saling mengutarakan kesedihan. "Sebenarnya, ada hubungan apa papa sama Tante Regina!" Batinnya mulai curiga.
__ADS_1
Akhirnya regina tersadar, jika di ruangan ini mereka tidak berdua. Regina melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya. "Maaf, saya hanya terbawa suasana!" Ucapnya.
Jeremi menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Saya mengerti penderitaan mu, tapi satu hal yang pasti. Di luar sana, ada orang yang tersenyum melihat mu menangis." Ucap Jeremi.
Regina termenung, Ia menyadari semua ucapan Jeremi penuh dengan makna. Disaat mereka terdiam, terlihat seseorang pergi meninggalkan tempat mereka. "Sepertinya ada yang mengintip!" Ucap Jenny.
Jeremi mengejar keluar dan menoleh kanan kiri. "Iya, dugaan ku seperti benar. Pelakunya ada di rumah ini." Batin Jeremi.
Jeremi menghampiri Jenny. "Sayang, apakah kamu masih ingat ciri-ciri orang yang menyerang kalian?" Tanya Jeremi
"Sepertinya 1 orang lagi adalah perempuan. Karena terlihat jelas, tangannya berbeda dengan yang satunya lagi. Dan aku melihat sesaat, perempuan itu menggunakan tato berbentuk cincin di jari manisnya." Jawab Jenny.
"Iya, aku tahu itu. Dan aku curiga dengan Benny dan Nadia istrinya." Ucap Jeremi.
Regina menganggukkan kepalanya dan mendengarkan ucapan Jeremi. "Lalu, apa tang harus kita lakukan?" Tanyanya.
"Kita harus menjaga Rama dengan baik. Jangan sampai kita kehilangan saksi kunci dari masalah yang menimpamu. Dan karena Rama ada disini, jadi kamu bisa tinggal di sini dengan alasan menjaga Rama." Ucap Jeremi.
Regina menyetujui ide dari Jeremi. Tapi terlihat wajah bimbang menghampirinya. "Mas, bagaimana kita jujur kepada Jerry dan Jenny?" Tanya Regina.
__ADS_1
Jeremi menghampiri dan mengelus rambutnya. "Sayang, kalau masalah itu kamu tenang saja! Jangan terlalu di pikirkan, aku tidak ingin kejujuran kita akan menghancurkan rasa cinta jenny kepada Rama."
"Iya mas, itulah yang aku takutkan. Aku takut, Jenny membenci Rama karena kejahatan Mas Irwan. Aku tidak ingin melihat Rama bersedih, dan hatinya terluka." Ucap Regina sambil meneteskan air mata.
"Sudahlah! Percayalah..Aku telah merawat anak kita dengan baik. Aku yakin, mereka akan mengerti dan menerima semuanya." Tutur Jeremi menenangkan.
"Semoga saja!"
"Oh iya sayang, aku ada kabar baik untuk kamu!" Ucapnya sambil tersenyum.
"Apa itu?" Jawab Regina dengan raut wajah penasaran.
"Sebentar lagi kamu akan menjadi nenek, Laras sedang hamil sayang!" Ucap Jeremi sambil mencubit pipi Regina.
"Benarkah?" Tanya Regina dengan bahagia.
Jeremi menganggukkan kepalanya. "Untuk apa aku berbohong!"
Regina langsung memeluk Jeremi dengan erat. "Alhamdulillah, semoga semuanya lancar!"
__ADS_1
"Amin!"