
Pak Candra dan Jeremi nampak terkejut mendengar nama Sarah yang di ucapkan sindy. "Apakah kamu yakin namanya Sarah?" Tanya Pak Candra sambil melihat kearah sindy.
"Iya, aku yakin! Mamah banyak melakukan kejahatan, dia melakukan operasi wajah untuk mengelabui musuh-musuhnya. Dan sekarang dia tengah merencanakan sesuatu kepada keluarga kalian." Ujar Sindy sambil menundukkan kepalanya.
Jerry tercengang, dia mengeretkan bibirnya. "Cukup, aku tahu modus kamu. Kalian jangan pernah mempercayai ucapan wanita ini. Wanita ini bermuka dua, dan dia adalah wanita jahat." Teriak Jerry sambil berdiri dan menunjukkan jarinya ke arah sindy.
Sindy menangis dan memeluk Rama. Dua tak bisa berkata-kata mendengar ucapan Jerry. "Pak tolong bantu kami, Sindy sengaja datang kesini untuk mencari keluarganya. Sindy yakin kalau Pak Jeremi adalah ayahnya." Ujar Rama dengan nada lembut.
Jerry semakin kesal mendengar ucapan Rama. "Kamu adalah lelaki bodoh, mempercayai ucapan wanita penipu ini." Ucap Jerry dengan nada tinggi.
Jeremi memberikan tanda dengan tangannya kepada Jerry untuk menghentikan ucapannya. Jeremi mendekati Sindy dan membelai rambutnya. "Kamu yakin kalau aku adalah ayahmu." Ucap Jeremi.
Sindy nampak menatap wajah Jeremi dan menatapnya dengan penuh harapan. "Aku yakin, karena mamah sangat membenci keluar kalian. Dan bahkan mamah ingin aku mendekati Jerry untuk membalaskan dendamnya." Ujar Sindy menjelaskan.
__ADS_1
Jeremi tersenyum dan duduk di samping sindy. Hatinya serasa bahagia dan penuh harapan. "Aku juga berharap kamu adalah anakku yang kucari selama ini. Boleh kulit foto wajah mamahmu." Ucap Jeremi dengan penuh kelembutan.
Sindy menganggukkan kepalanya dan mengambil handphonenya di dalam tas. "Ini om foto mamah sebelum operasi." Ucap Sindy sambil menyerahkan handphonenya.
Jeremi mengambil handphonenya dan dia melihat foto yang ada di dalamnya. "Sarah!" Ucap Jeremi.
Pak Candra yang mendengar semua itu langsung menghampiri dan melihat foto yang ada di handphonenya Sindy. Mereka saling menatap dan tersenyum. "Nak, bagaimana kalau kita ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA?" Tanya Pak Candra sambil melihat kearah Sindy.
Sindy melihat kearah Rama dan menatapnya. Rama menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Iya." Jawab Sindy.
Jerry tak menjawab dia masih kesal di dalam hatinya. Laras tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Jerry. "Mas, kalau Sindy adikmu bagaimana kamu akan marah seperti ini?" Tanya Laras dengan nada manja.
"Aku tidak yakin, jika dia adikku! Bagaimana bisa aku punya adik yang jahat seperti itu?" Ucap Jerry dengan nada ketus.
__ADS_1
"Mas, kamu berpisah lama dan Sindy mendapatkan didikan yang salah oleh musuh keluarga ini. Dan jika dia benar adikmu, maka kamu harus bisa menerimanya dan memaafkan kesalahannya karena dia tidak tahu mana yang benar dan salah." Ujar Laras menjelaskan.
Jerry membuang nafas panjang dan tersenyum. "Aku janji kalau dia benar-benar adikku, aku akan memaafkannya! Dan jika dia terbukti berbohong, aku tidak akan melepaskannya." Ucap Jerry dengan tatapan tajam.
Laras tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, aku setuju! Dan jika kamu melanggar janjimu pas..." Ucap Laras terhenti oleh ucapan Jerry.
"Iya, iya aku tahu kamu akan bilang apa. Dan aku tidak suka diancam dan jika dia bukan adikku maka kamu harus bertanggung jawab." Ucap Jerry dengan tatapan mata tajam.
"Tanggung jawab!" Ucap Laras dengan nada terkejut.
"Iya, kamu harus bertanggung jawab untuk memuaskan ku dan menyetujui apa yang aku minta dalam semalam." Bisik Jerry ke telinga Laras.
"Oke, aku setuju dan jika kamu melanggar janjimu itu akan terjadi sebaliknya. Aku tidak akan melayani mu, dalam waktu satu bulan." Ucap Laras sambil tersenyum.
__ADS_1
"Oke, aku setuju!" Ucap mereka melakukan janji kelingking.