
Jenny terkejut dan bangkit dari tempat duduknya. "Apa Om, Berin adalah anak Om tapi kenapa ingin membuat Berin sakit hati?" Tanya Jenny sambil berdiri.
"Inilah yang aku inginkan, Berin tidak seperti Jerry. Dia lembek dan tak berguna, aku ingin dia bangkit dan menjadi lelaki sejati." Ucap Benny sambil tersenyum.
Jenny menggelengkan kepalanya dan membuang nafas panjang. "Orang aneh!" Gerutu Jenny sambil melenggang pergi.
Benny nampak kesal dan mencoba mengejar Jenny. Tapi sayang, usahanya sia-sia. Jeremi datang menghampiri jenny yang terlihat panik. "Sayang kamu kenapa?" Tanya Jeremi sambil mengelus rambutnya.
"Tidak apa-apa pah, aku hanya ketakutan melihat tikus nakal!" Jawab Jenny.
"Tikus!" Ucap Jeremi sambil mengerutkan keningnya.
"Iya pah, aku serius! Beneran ada tikus kok!" Ucap Jenny mencoba meyakinkan.
Jeremi tersenyum dan mengelus rambutnya kembali. "Iya sayang papah percaya sama kamu. Tapi ingat pesan papah, jika di rumah ini ada yang aneh dan janggal kamu harus memberitahu papah. Dan ingat jangan terlalu dekat dengan orang-orang di rumah ini, kecuali kakakmu dan Laras." Ujar Jeremi.
Jenny termenung, tapi dia menganngukan kepalanya sebagai jawaban. Jeremi pergi meninggalkan Jenny yang nampak masih terdiam.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang aneh dengan keluarga ini!" Batin Jenny sambil melenggang pergi.
Di kamar...
Jeremi nampak melepas jasnya dan langsung duduk di sofa, dengan wajah yang nampak letih melengkapinya. "Aku harus menjaga keluarga ku, aku tidak mau mereka terpisah kembali." Batin Jeremy.
Tok..tok..
Terdengar suara ketukan pintu yang cukup keras. Jeremi langsung berjalan dan mendekati pintu. Dua membuka pintu dan ternyata Ririn tengah berdiri di depan pintu kamarnya. "Rin!" Sapa Jeremi.
Jeremi menutup pintunya dan duduk berjauhan dengan Ririn. "Ada apa?" Tanya Jeremi dengan ketus.
Ririn menatap Jeremi dan bangkit dari tempat duduknya. Dia nampak duduk di samping Jeremi dan langsung menggenggam tangannya. "Lihat aku!" Ucap Ririn dengan nada serius.
Mata Jeremi dan Ririn saling menatap. "Apakah kamu mencintaiku?" Tanya Ririn dengan penuh harapan.
Jeremi melepaskan genggaman tangan Ririn dan bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan menjauh sambil memasukkan tangannya ke saku celana. "Maaf Rin, aku tidak pernah mencintaimu!" Ucap Jeremi.
__ADS_1
Mata Ririn mulai berkaca-kaca, hatinya hancur mendengar semua itu. Ririn langsung bangkit dan berlari ke arah Jeremi, dua mendorong tubuh Jeremi ke atas ranjang. Ririn menindih Jeremi dari atas. "Kamu lihat aku! Apa kekuranganku, apa dosaku? Sampai kamu tidak pernah menoleh dan memberikan cintamu kepadaku!" Ucap Ririn dengan penuh amarah.
"Rin kamu tenang, kita bisa bicarakan ini!" Ucap Jeremi dengan penuh kelembutan.
"Tidak, aku tidak bisa menahan lagi! Kamu tahu, aku selama ini menahan diri untuk tidak mendekatimu. Tapi kamu tidak pernah menoleh dan memberikanku kesempatan." Ucap Ririn sambil mengambil jarum suntik.
"Rin tenang, apa yang kamu pegang itu?" Ucap Jeremi mencoba menenangkan.
Ririn tersenyum dan menancapkan jarum suntik itu ke paha Jeremi. "Rin..!" Teriak Jeremi.
"Maaf, aku hanya ingin mendapatkan tubuhmu meskipun tidak dengan hatimu!" Ucap Ririn.
Pandangan mata Jeremi mulai buram, dia mencoba berontak tapi tubuhnya terasa lemas dan tak berdaya. Yang terlihat hanyalah Ririn yang tersenyum dan sekarang pandangannya pun mulai gelap.
Jeremi tidak sadarkan diri, Ririn tersenyum dan memeluk Jeremi dengan penuh kerinduan. Air mata mulai mengalir, Ririn memainkan jarinya di wajah Jeremi. "Mas, kamu tahu seberapa menderitanya aku mengharapkan cintamu! Kamu tahu pernikahanku terasa hampa dan setiap aku berhubungan dengan mas Benny, aku selalu membayangkan wajahmu." Ujar Ririn.
Ririn membuka kancing baju Jeremi satu persatu, dia nampak tersenyum melihat dada yang atletis dan menggoda. Ririn memainkan jarinya, di dada Jeremi. "Dada ini, dada yang selalu aku rindukan! Dan dengan dada ini, aku ingin merasakan himpitan dari tubuhmu." Ucap Ririn yang semakin melantur.
__ADS_1