
Laras langsung menyimpan handphonenya ke tempat semula dan akhirnya pintu pun terbuka. "Sayang kamu bicara sama siapa?" Tanya Berin sambil menghampiri.
"Eem, ti.. tidak mas! Aku hanya melihat foto kamu yang sedang tersenyum," ucap Laras sambil mengambil album foto.
"Oooh, aku pikir kamu sedang main di belakangku!" Ucap Berin sambil duduk di sampingnya.
"Masa aku main belakang, lebih baik aku sama kamu yang selalu setia sampai aku bisa melihat," ucap Laras sambil tersenyum.
Berin pun tersenyum dan menggenggam tangan Laras. "Aku bahagia bisa hidup bersamamu!" Ucap Berin sambil mengelus pipi Laras.
Laras melepaskan tangan Berin dari pipinya, dia merubah raut wajahnya dengan tatapan yang sedikit menggoda. "Mas!" Ucap Laras sambil memegang tangan Berin.
"Iya, ada apa?" Tanya Berin sambil mengerutkan keningnya karena merasa aneh dengan sikap Laras.
__ADS_1
"Aku punya satu permintaan untuk kamu, dan aku mohon kamu mau mengabulkannya!" Ucap Laras sambil tersenyum.
"Permintaan!" Ucap Berin sambil mengerutkan keningnya.
"Iya mas, aku mohon kamu izinin aku untuk bekerja." Ucap Laras dengan nada menggoda.
Berin nampak terkejut dan langsung bangkit dari duduknya sambil mengepiskan tangannya. "Tidak, aku tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk bekerja," bentak Berin dengan nada tinggi.
Laras nampak kecewa, dia teringat akan ucapan Jerry yang tidak boleh membuat Berin marah. "Mas, aku hanya ingin bekerja. Lalu apa masalahnya, aku juga akan nurut sama kamu dan kamu boleh mencarikan aku pekerjaannya," ucap Laras sambil memeluk Berin dari belakang.
"Tapi mas, aku tidak punya pengalaman untuk menjadi sekretaris. Dan juga sepertinya pekerjaan itu terlalu berat untuk seorang pemula sepertiku." Ucap Laras sambil melepaskan pelukannya.
Berin langsung berbalik dan menoleh ke arah Laras. "Sayang aku percaya sama kamu, pekerjaan itu akan mudah jika kamu berusaha. Lagi pula seperti otak kamu cukup cerdas." Ucap Berin sambil memegang tangan Laras.
__ADS_1
"Bolehkah aku menolak mas, aku adalah wanita mandiri dan aku tidak bisa terima langsung di atas tanpa merasakan jadi pegawai kecil." Ucap Laras dengan tatapan sendu.
"Ya sudah kalau begitu, kamu jadi karyawan di perusahaanku. Tapi kamu harus janji, jika aku bersama wanita lain kamu tidak boleh marah. Karena itu semua kulakukan hanya demi pekerjaan." Ucap Berin memberi peringatan.
"Oke, aku setuju dan aku percaya sama kamu!" Ucap Laras.
Berin langsung memeluk Laras, dan Laras hanya bisa pasrah. "Cih, dasar lelaki gila. Aku tidak peduli kamu bersama wanita manapun, itu justru bagus karena aku jijik kamu deket-deket sama aku kalau tidak karena terpaksa." Batin Laras yang terus menggerutu.
Berin melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan Laras. Laras pun berbaring di ranjang dengan nafas yang panjang. "Akhirnya aku bisa keluar dari rumah ini, dan aku harus bersabar demi cintaku pada mas Jerry." Ucap Laras sambil meneteskan air matanya.
Laras pun memejamkan matanya, dan membayangkan wajah Jerry yang belum dia ketahui. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya dan mata pun tertutup.
Keesokan harinya...
__ADS_1
Terlihat Laras tengah bersiap, dan menggunakan baju yang telah Berin siapkan sebelumnya. Dia berdiri di depan cermin dan nampak senyuman lebar terpancar dari bibir manisnya. "Pakaian benar-benar cocok sekali." Ucap Laras sambil menggoyangkan tubuhnya.