
Bagaikan petir di siang hari, itulah yang dirasakan Ririn saat ini. Dengan mata yang melotot, Ia menatap anak semata wayangnya yang bersimpah darah di rangkulannya. "Sayang, mama yakin kamu tidak akan meninggalkan mama seperti ini!" Tuturnya sambil menggoyangkan pipinya.
Tak bergerak, tubuh Berin mulai kaku. Ririn tersenyum sambil menangis. "Tidak... Tidak...ini semua tidak mungkin!" Teriaknya.
Regina menghampiri dan memeluknya. "Yang sabar, saya yakin kamu pasti kuat!" Ucapnya mencoba menenangkan.
Ririn yang mendengar semua itu, malah emosi dan mendorong tubuh Regina kebelakang. Hingga regina terjatuh ke lantai. "Tahu apa kamu! Kamu hanyalah orang luar, kamu tidak akan mengerti apa yang aku rasakan saat ini." Teriaknya dengan tangisan yang histeris.
Regina membulatkan matanya dan bangkit. "Aku memang orang luar, tapi aku juga seorang ibu. Aku bisa merasakan rasanya kehilangan seorang anak, seharusnya kamu menyalahkan wanita yang menjadi alasan utama kematian anakmu." Ucap Regina dengan tegas.
Ririn termenung, Ia melirik ke arah Nadia yang masih terduduk di ranjang dengan balutan selimut. "Nadia...!"
Nadia pun merubah raut wajahnya. Ia terlihat seperti seorang yang teraniaya. Wajahnya yang tampak lugu, di penuhi dengan air mata. "Mbak, saya hanya korban. Anak mbak yang mau memperkosa saya. Apa salah, jika saya mempertahankan tubuh ini hanya untuk suami saya?" Tuturnya dengan Isak tangis yang membuat iba.
__ADS_1
Ririn terdiam, dan Ia berusaha tegar. Akhirnya Jeremi membantu untuk mengurus jenazah Berin. Para pelayad yang mendengar kabar tersebut, berdatangan satu persatu. Dari yang merasa iba atau banyak orang yang berkata tidak-tidak.
Setelah jenazah selesai di mandikan, semua orang nampak membantu mendoakan dengan membaca surat Yasin. Ririn dengan setelah baju hitam, hanya bisa menatap anaknya yang tergeletak di bungkus dengan kain kapan.
Mata Ririn nampak sembab, dan rasanya air mata sudah tidak kering. Laras selalu berada di sampingnya, menjadi penyemangat untuk Ririn. Meskipun Ririn tidak menyukai Laras, tapi hatinya yang rapuh terpaksa untuk menerima.
...
Keesokan harinya..
Mengingat masa kecilnya yang indah bersama Berin. Meskipun setelah dewasa mereka tidak akur, tapi masa kecil yang menyenangkan membuatnya tak bisa melupakan kebaikan Berin.
15 menit telah berlalu, ambulan berhenti dan para warga nampak sudah menunggu mereka. Jenazah langsung di keluarkan dari mobil dan di gotong menuju liang kubur yang sudah di siapkan.
__ADS_1
Perlahan demi perlahan, jenazah Berin di kebumikan. Sedikit demi sedikit, tanah menutupi pandangan mereka dan akhirnya Jenazah sudah tidak terlihat lagi. Setelah selesai mereka memanjatkan doa, dan para warga mulai pergi satu persatu.
Ririn memeluk nisan Berin sambil menangis. "Sayang, maafkan mama!" Tuturnya.
Regina menghampiri dan memeluknya. "Sabarlah, semoga Berin tenang di alam sana. Dan semoga kamu di berikan ketabahan."
"Terimakasih Regina! Maafkan saya, karena sudah marah-marah." Ucap Ririn sambil membalas pelukannya.
"Saya mengerti posisi kamu! Mari kita pulang dan taburkan bunga ini sebagai tanda kasih sayang." Ajak Regina dengan penuh kelembutan.
Ririn menganggukkan kepalanya dan tangannya meraih bunga yang ada di tangan Regina. Dengan air mata, Ririn melepas cintanya kepada anak semata wayangnya.
Setelah selesai, mereka pergi meninggalkan pemakaman. Di dalam mobil, tak ada pembicaraan di antara mereka. Yang ada hanyalah lamunan dan air mata.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, mereka berjalan masuk ke dalam. Terasa sepi dan hening tak seperti biasanya. Itulah yang dirasakan mereka semua, tapi tidak dengan Nadia. Ia nampak tersenyum di kamarnya sambil menghisap rokok. "Akhirnya, hidupku bisa tenang! Satu kali tepuk, dua nyamuk yang mati." Ucapnya sambil tersenyum bahagia.
Disaat Nadia tengah bahagia dengan kemenangan. Tiba-tiba, suasana kamar terasa dingin dan bulu kuduknya mulai berdiri. "Kenapa nih, kok suasananya jadi berbeda?" Tanyanya sambil melihat kanan kiri.