
Ririn membalas pelukannya dan menggosok rambut Berin dengan tangannya. "Iya sayang, mamah akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu," ucap Ririn.
Ririn hanya bisa memendam kesedihannya di dalam hati sendiri, dia merasa kasihan kepada anaknya karena tidak di sayangi oleh kakeknya dan tidak mendapatkan hak yang sama dengan Jerry. Di hatinya sekarang hanya ada rasa sakit hati dan dendam yang terus membara.
Sebenarnya di dalam lubuk hati Ririn yang paling dalam, dia masih mempunyai perasaan dan harapan yang besar kepada Jeremi. Hanya saja Jeremi tidak pernah mau menodai cinta sucinya kepada Riana. Terkadang Ririn selalu memberikan godaan kepada Jeremi tapi dia tidak pernah meresponnya.
Ririn mempunyai maksud lain membesarkan Jerry dan memberi kasih sayang kepadanya yaitu Jeremi dan harta warisannya. Tapi ternyata pengorbanannya sia-sia, yang dia dapatkan hanya rasa kecewa dan menderita.
Di tempat lain...
Terlihat Jerry dan Jeremi memasuki rumah sakit, para suster yang melihatnya nampak heran melihat kedatangannya. "Maaf pak, bisa saya bantu!" Ucap suster tersebut.
"Saya mau menemui Laras, apakah sekarang dia sudah bisa melihat?" Tanya Jerry dengan raut wajah bahagia.
"Laras!" Ucap suster tersebut sambil melihat kearah temannya.
__ADS_1
Jerry yang merasa heran dan ada yang janggal langsung memberikan tatapan tajam. "Apa yang kalian sembunyikan?" Tanya Jerry.
Kedua suster itu nampak tak bisa menjawab, dia hanya saling menyenggol satu sama lain. Jerry yang merasa geram melihat semua itu langsung mencengkram dagu salah satu suster tersebut. "Katakan apa yang kalian sembunyikan?" Tanya Jerry.
Suster tersebut langsung meneteskan air matanya dan menahan rasa sakit. "Aw, sakit!" Rintihnya.
Jeremi mencoba melerai dan menenangkan anaknya. "Nak tenanglah jangan seperti ini!" Ucap Jeremi.
Jerry langsung melepaskan cengkeramannya, dan berlari menuju ruangan Laras. Matanya terbelalak dan tak bisa berkata-kata apa-apa. Tubuhnya serasa lemas dan terjatuh ke lantai. "Laras!" Teriak Jerry.
Jeremi yang mendengar teriakkan Jerry langsung menghampiri dan memeluk Jerry. "Nak tenanglah!" Ucap Jeremi.
Dokter dan suster pun datang menghampiri dan menjelaskan semuanya. Dokter terus meminta maaf karena keteledorannya. "Saya benar-benar minta maaf mas, lelaki itu membawa KTP atas nama anda. Saya tidak bisa melakukan apapun!" Ucap dokter tersebut.
"Ya sudah dokter, lagi pula semua ini sudah terjadi. Apakah di sini ada CCTV?" Tanya Jeremi sambil melihat ke kanan dan kiri.
__ADS_1
"Ada pak, kebetulan di ruangan mbak Laras ada CCTV yang sengaja di pasang!" Ucap Dokter tersebut.
Jerry yang mendengar semua itu langsung bangkit dan menggoyangkan tubuh dokter tersebut. "Cepat bawa saya ke ruangan CCTV!" Perintah Jerry.
"Baik mas, ayo ikuti saya!" Jawab Dokter tersebut.
Mereka langsung pergi ke ruangan CCTV, dokter menyuruh pegawainya untuk melihat rekaman CCTV beberapa hati kebelakang. Jerry terus memperhatikan latar monitor, dia terkejut saat melihat sosok lelaki yang membawa Laras pergi. "Berin!" Ucap Jerry sambil mengepalkan tangannya.
Jerry langsung mengambil handphonenya di saku celananya dan menelpon Berin. Raut wajahnya nampak geram saat mendengar nomernya sedang tidak aktif. "Brengsek, aku gak akan pernah membiarkanmu hidup tenang!" Ancam Jerry sambil mengepal handphonenya.
Jeremi dan Jerry langsung pergi meninggalkan rumah sakit. Jerry menyuruh beberapa orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Berin. Dia terus memikirkan Laras sambil memijat kepalanya. "Laras!" Rintih Jerry.
"Seharusnya ini semua tidak terjadi, ini semua salah kakek," ucapnya dari belakang.
Jerry dan jeremi langsung menoleh ke arah suara. "Papah!" Ucap Jeremi.
__ADS_1
Pak Candra langsung duduk di samping mereka dengan tatapan sendu. "Maafin kakek yah nak!" Ucapnya.
"Kakek ini semua bukan salah kakek, Berin pasti marah sama aku karena telah membuatnya babak belur," ucap Jerry sambil menggenggam tangan Pak Candra.