
Jerry nampak memalingkan pandangannya, saat mendengar ucapan Berin. "Heh, lucu sekali! Semudah itukah kamu bilang kita saudara." Ujar Jerry dengan mata yang menyeringai.
Berin melepaskan pelukannya terhadap Benny dan berjalan dengan perlahan mendekati Jerry. "Aku tahu, kamu pasti sangat membenciku! Tapi aku sudah menyesali semuanya, aku benar-benar minta maaf atas semua kelakuanku yang membuat kalian berdua terpisah." Ucap Berin sambil tersungkur di kaki Jerry.
Jerry nampak semakin kesal dengan sentuhan di kakinya. "Lepaskan, lepaskan kakiku!" Teriak Jerry sambil mengibaskan kakinya.
Berin nampak tersungkur di lantai dan Benny langsung berlari menghampirinya. "Hentikan, kamu lihat Berin adalah anakku dan kamu juga harus ingat, Ririn membesarkan mu dan menyayangimu." Ucap Benny dengan nada tinggi.
Jerry nampak terdiam dan menatap ke arah Laras. Laras menggelengkan kepalanya dan menggenggam tangan Jerry. "Om, tolong bicara ini! Mas Jerry berkata seperti itu karena Berin memang jahat dan..." Ucap Laras terhenti oleh ucapan Benny.
"Cukup, ini semua gara-gara kamu! Kalau kamu tidak datang ke rumah ini, mungkin Berin dan Jerry tidak akan bertengkar seperti ini. Dan keluarga ku tidak akan hancur!" Teriak Benny sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
Laras tersentak dan tak bisa membendung air matanya, dia langsung berlari pergi meninggalkan ruang tamu. Jerry menatap Benny dengan tatapan kesal dan tajam. "Inget Om, Laras adalah istriku. Dan ucapan Om, telah melukai hatiku juga. Semua ini bukan karena Laras, tapi semua ini karena kelakuan anak Om yang tidak menghargai perempuan. Persis seperti om kan!" Ucap Jerry sambil pergi meninggalkan mereka.
Benny nampak kesal, dua menggenggam erat tangannya. "Brengsek, beraninya anak ingusan itu berkata seperti itu!" Batin Benny sambil mengeretkan giginya.
Pak Candra berjalan mendekati Benny dan membantu Berin untuk bangkit. "Nak, jangan perpanjangan permasalahan ini! Papah tidak mau, hubungan kalian hancur dengan ucapan mu." Ucap Pak Candra dengan nada lembut.
"Kenapa papah malah nyalahin aku? Kenapa papah tidak membela Berin?" Tanya Benny sambil membulatkan matanya.
Berin bangkit dan mendekati Pak Candra. "Pah, aku ini anak papah dan Jerry hanyalah seorang cucu. Dan papah lihat lelaki itu, dua hanyalah di rumah ini." Ucap Benny sambil menunjukkan jarinya ke Jeremi.
"Benny!" Teriak Pak Candra sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Kenapa pah, kenapa papah tidak pernah menyayangiku? Aku selalu di perlakukan tidak adil di rumah ini dan bahkan Berin tidak pernah merasakan kasih sayang dari papah!" Ucap Benny dengan nada di tekan.
Plakk...
Tamparan keras mendarat di pipi kanan Benny. Pak Candra tak bisa mengontrol emosinya dan meluapkan semua kekesalannya. "Kamu tahu, papah berusaha untuk menjadikan lelaki yang berguna dan bahkan papah memberikan perusahaan untuk kamu pegang. Tapi kamu lihat hasilnya, perusahaan itu bangkrut dan kamu tidak bisa berbuat apa-apa." Ujar Pak Candra.
Benny terdiam dan tak bergerak. "Papah berusaha agar kamu bisa menjadi lelaki yang bertanggung jawab seperti Jeremi. Tapi kamu tetaplah kamu, lelaki pemabuk yang hanya bisa menghamburkan uang dan bermain perempuan." Ujar Pak Candra kembali.
Tangan Pak Candra nampak gemetar, Jeremi menghampirinya dan merangkul Pak Candra. "Pah, tolong kontrol emosinya! Aku tidak mau papah drop lagi." Ucap Jeremi dengan raut wajah cemas.
"Dan kamu mas, aku memang benalu di rumah ini. Tapi setidaknya benalu ini, menyayangi pohon yang membantunya hidup. Tidak seperti kamu, buah yang seharusnya nikmat untuk disantap malah dibuang karena digerumuti ulat." Ujar Jeremi kembali dengan tatapan tajam.
__ADS_1