CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Perlakuan Irwan


__ADS_3

Terlihat keduanya menatap dengan penuh cinta, malam sunyi menjadi saksi kebersamaan mereka. "Ternyata kamu masih seperti yang dulu! Agresif..." Ucapnya.


Regina tersenyum dan menatap lekat wajah Jeremi. Dia nampak memainkan jarinya di wajah Jeremi. "Aku agresif karena kamu tidak peka." Jawabnya.


Jeremi yang mendengar semua itu langsung tersenyum dan melajukan mobilnya kembali. Beberapa menit telah berlalu, Jeremi menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Irwan.


Terlihat sosok lelaki tengah berdiri dan memandang mereka dengan tatapan tak suka. Regina keluar dan Jeremi pergi meninggalkan mereka. Regina berjalan tanpa menoleh ke arah lelaki tersebut. "Apakah malam ini kamu bahagia?" Tanyanya dengan tatapan sinis.


"Ya, malam ini adalah malam terindah untuk kami." Jawabnya singkat.


Irwan yang mendengar semua itu langsung menarik tangan regina dan mendorongnya ke tembok. Kini regina telah terpojok, kedua tangannya tergenggam erat olehnya. "Apa yang kamu lakukan?" Teriaknya.


"Aku akan melakukan yang kamu mau!" Jawab Irwan sambil menyusuri leher Regina dengan bibirnya.


Regina terus berontak, sentuhannya membuat dia merasa jijik. "Hentikan!" Teriaknya.


Irwan terus menggerayangi leher Regina sampai mencium bibirnya dengan penuh *****. Regina terus berotak sambil menangis. "Aku mohon..." Ucapnya dengan pelan.


Irwan tersadar dan melepaskan Regina, dua nampak menatap wajah Regina yang penuh dengan air mata. Tangannya nampak berbekas akibat genggam tangan Irwan yang kasar. "Maaf!" Ucap Irwan.

__ADS_1


Regina pergi sambil berlari, hatinya merasa kecewa kepada Irwan yang selalu menjadi kebanggaannya. Dia masuk ke kamar mandi dan langsung mencuci bibirnya dengan kasar. "Aku jijik sama kamu!" Rintihnya.


Irwan mengejar dan mengetuk pintu kamar mandi. "Regina aku minta maaf, aku gelap mata saat itu." Ucapnya.


Regina tak menjawab, dia terus menangis di kamar mandi. Irwan terus membujuk Regina tapi hasilnya nihil.


Rama yang mendengar keributan, langsung datang menghampiri. "Ada apa pah?" Tanya Rama dengan raut wajah penasaran.


"Tidak sayang, mamah sedang marah sama papah karena masalah kecil." Jawab Irwan.


"Masalah kecil!" Ucap Rama.


"Iya, tadi papah hanya mencium bibir mamahmu tapi dia tak terima dan menangis." Ujar Irwan.


Rama mengetuk pintu kamar mandi, dan membujuk Regina. Akhirnya hati regina luluh dan keluar dari kamar mandi. Rama menatap regina yang ada di hadapannya. Regina nampak lusuh, wajahnya penuh dengan air mata. Lehernya penuh tanda kepemilikan yang di tinggalkan oleh Irwan dan tangannya nampak memar bekas tangan.


"Mah, apakah mamah baik-baik saja?" Tanya Rama dengan tatapan iba.


Regina langsung berlari memeluk Rama dan menangis di pelukannya. Rama tak mengerti dan menatap Irwan dengan raut wajah heran. "Mamah kenapa?" Tanya Rama kembali.

__ADS_1


"Mamah ingin ke kamar kamu, mamah jijik sama papah kamu!" Ucap Regina.


Rama membopong tubuh Regina dan membawanya ke kamar. Irwan nampak menatap mereka sambil tersenyum. "Ini baru awal sayang!" Ucapnya.


Di kamar...


Rama membantu regina dan duduk di tepi ranjang. Dia menatap tangan regina yang memar bekas tangan. "Apakah papah yang melakukan ini?" Tanya Rama.


Regina menganggukkan kepalanya. Rama menatap bekas luka. "Sepertinya yang papah bilang benar. Mamah di cium paksa oleh papah. Tapi kenapa harus di paksa?" Tanyanya dalam hati.


Regina menatap wajah Rama yang sedang duduk di hadapannya. "Sayang, mamah sangat menyayangimu. Meskipun kamu tidak lahir dari rahim mamah." Ucap Regina.


Rama terkejut dan menatap regina. Hatinya terkejut mendengar pengakuan dari Regina yang bukan ibu kandungnya. Maklum, regina merawat Rama sejak umur 4 tahun. Ibunya meninggal dunia dan Regina menjadi ibu pengganti.


"Jadi mama..." Ucap Rama terhenti dengan tatapan pilu.


Sssssttttt....


"Mamah tetaplah mamahmu, dan kamu tidak perlu ragu." Ucap Regina.

__ADS_1


Rama langsung memeluknya dengan erat. Terima kasih mah, mamah selalu menyayangiku. Meskipun mamah bukanlah mamahku, tapi kasih sayang mamah benar-benar besar dan aku sangat menyayangi mamah." Rintihnya sambil menangis.


"Rama, kamu anak baik dan mamah beruntung bisa mengurus kamu. Dan ada rahasia yang sudah saatnya kamu tahu!" Ucap Regina.


__ADS_2