CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Wajah Sindy


__ADS_3

Jerry nampak tersenyum dan duduk di sampingnya. "Aku baru saja ke makam mamah, dan sekalian makan siang!" Ucap Jerry sambil tersenyum.


Jeremi nampak memandangi wajah anaknya. "Nak, sepertinya ada yang berbeda dengan wajah kamu?" Tanyanya sambil mengerutkan keningnya.


Jerry nampak memegang wajahnya dan merasa heran dengan ucapan papahnya. "Apanya yang berbeda pah?" Tanya Jerry sambil mengangkat alisnya.


"Kamu terlihat bahagia dan wajah mendung kamu seperti sedang disinari matahari langsung." Ucap Jeremi sambil tersenyum.


Jerry nampak malu dan pipinya memerah. "Apaan sih pah!" Ucapnya sambil memalingkan pandangannya.


Disaat mereka tengah bercengkrama, terdengar suara ketukan pintu yang membuat mereka terkejut. "Masuk!" Ucap Jerry.


Seorang wanita masuk ke dalam ruangan dengan membawa beberapa berkas. "Pak ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani!" Ucap wanita itu sambil tersenyum.

__ADS_1


Jeremi nampak terkejut saat melihat wajah wanita itu, dia teringat kembali akan masa silam yang membuatnya terpisah dengan anak perempuannya. "Jenny!" Ucap Jeremi sambil membulatkan matanya.


Jerry dan sindy nampak terkejut dan langsung menoleh ke arah Jeremi. "Pah, dia sekertaris baruku namanya Sindy bukan jenny!" Ucap Jerry sambil melihat kearah Jeremi.


"Iya pak, nama saya sindy bukan jenny!" Ucap Sindy sambil tersenyum.


"Saya tidak mungkin salah, kamu adalah jenny anakku yang hilang!" Ucap Jeremi kekeh dengan pendiriannya sambil mendekati Sindy.


Jeremi memegang wajah sindy, sindy nampak terdiam dan meneteskan air matanya. Hatinya serasa haru dan sedih melihat wajah Jeremi. "Kamu adalah anakku!" Ucap Jeremi sambil memeluk Sindy.


"Tidak nak, dia adalah adikmu dan papah sendiri yang memberinya nama. Papah masih ingat betul wajahnya, meskipun itu sudah lama sekali!" Ucap Jeremi menjelaskan.


Jerry mengajak Jeremi untuk duduk dan dia mengisyaratkan tangannya kepada sindy untuk pergi. Sindy pun pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan hati yang merasa sedih. "Ada apa ini dengan hatiku, kenapa sentuhan tangannya serasa hangat di bandingkan sentuhan mamah!" Gumam Sindy sambil memegang pipinya.

__ADS_1


Jerry mencoba menenangkan Jeremi dan memeluknya. "Pah tenanglah, aku akan menyelidiki semua tentang sindy dan jika dia memang benar adikku, maka penculikan pasti ada bersamanya. Jangan sampai dia curiga dan membawanya jauh dari kita lagi." Bisik Jerry sambil memeluk Jeremi.


"Iya, papah percaya sama kamu dan tolong segera temukan kebenarannya!" Ucap Jeremi sambil meneteskan air matanya.


Jerry melepaskan pelukannya dan tersenyum, dia menghapuskan air matanya. "Pah! Berjanjilah kepadaku air mata ini tidak akan keluar selain air mata kebahagiaan!" Ucap Jerry sambil mendekati wajah Jeremi.


"Iya nak, papah berjanji! Tolong temukan secepatnya, papah sudah sangat merindukannya!" Ucap Jeremi sambil mendekatkan keningnya kepada kening Jerry.


Jerry menganggukan kepalanya dan tersenyum. "Pasti pah, aku akan mencari tahu semuanya dan aku tidak akan membiarkan penculik itu berkeliaran dengan bebas!" Gumam Jerry sambil mengepalkan tangannya.


Jerry langsung mengajak Jeremi untuk pulang ke rumah. Jerry merangkul pundaknya dan membukakan pintu mobil untuk Jeremi. Jerry langsung melajukan mobilnya dan terlihat Jeremi nampak tertegun dan tak mau bicara.


Hati Jerry merasa sedih melihat keadaan papahnya, dia memegang tangan Jeremi sambil tersenyum. "Pah, jangan seperti ini!" Ucap Jerry sambil tersenyum.

__ADS_1


"Maafkan papah nak! Wajah sindy membuat luka papah terbuka kembali, termasuk dengan kepergian mamahmu!" Ucap Jeremi dengan raut wajah sedih.


"Papah jangan terlalu larut dalam kesedihan lagi, semua yang terjadi telah terjadi. Kita harus memikirkan masa depan, bukan masa lalu!" Ucap Jerry memberikan kekuatan untuk Jeremi.


__ADS_2