
Jerry nampak geram, dia mendengar kabar yang buruk tentang pengajuan perusahaan Berin yang tidak di tanggapi pihak kepolisian. Mereka beralasan bukti yang Jerry berikan tidak cukup dan dia malah berbalik dituntut oleh pihak berin. "Kenapa ini semua bisa terjadi?" Tanya pada asisten pribadinya.
"Maaf bos, semua berkas tidak semua di berikan kepada pihak kepolisian!" Ucapnya dengan nada canggung.
Jerry nampak terkejut mendengar jawaban dari asistennya. "Loh, bukannya saya sudah menyuruhmu untuk memberikan semuanya kepada pihak kepolisian?" Tanyanya sambil membulatkan matanya.
"Maaf bos, sekertaris anda mengambil bukti Berin sebagai bandar narkoba karena anda yang menyuruhnya, bahkan saya bicara sendiri dengan anda!" Ucap asistennya.
"Saya tidak pernah merubah keputusan saya, dan cepat panggil Sindy kemari!" Teriak Jerry dengan nada geram.
Asisten tersebut langsung pergi meninggalkan Jerry dan memanggil sindy untuk ke ruangan Jerry. Sindy terlihat tidak bersalah, dia masih bisa tersenyum menghadap Jerry. "Siang CEO!" Sapanya.
Jerry nampak tak respon, dia melihat ke arah Sindy dengan memberikan tatapan tajam. "Kamu pasti tahu apa kesalahan kamu?" Tanya Jerry.
__ADS_1
Sindy langsung meluncur aksinya, dia mengeluarkan jurus air mata buayanya dan berlutut di hadapan Jerry. "Maafkan saya, saya benar-benar tidak tahu! Suaranya benar-benar mirip sekali dengan anda, dan saya tidak bisa menolak perintah!" Ucapnya sambil menangis.
Jerry nampak tersenyum sambil menyunggingkan bibirnya, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Ternyata Sindy adalah mata-mata dari Berin. Oke kalau begitu aku akan mengikuti permainan kalian!" Batinnya.
"Ya sudah, ini juga bukan kesalahan kamu. Lebih baik kamu kembali ke ruangan kamu!" Ucap Jerry sambil memalingkan pandangannya.
"Terima kasih CEO, aku janji kejadian ini tidak akan terjadi lagi!" Ucap Sindy sambil tersenyum dan beranjak pergi.
Sindy nampak menghapus air matanya, dia tersenyum karena air matanya bisa meluluhkan hati Jerry. "Lelaki mana yang bisa menolak air mataku. Dasar CEO bodoh, tapi walaupun begitu aku jatuh hati padamu." Batin Sindy.
Terlihat Jerry sedang memijat kepalanya, dia benar-benar kesal dengan kelakuan Sindy. Tapi dia akhirnya tahu, siapa yang harus di curigai.
Handphone Jerry nampak berdering, dia melihat panggilan video dari salah satu saingan berat dalam tender kali ini. Jerry langsung mengangkatnya, dan terlihat wajah lelaki itu langsung tersenyum.
__ADS_1
"Selamat siang, CEO muda, tampan dan mempesona!" Sapanya.
Jerry mendelikan matanya, karena merasa jijik mendengar ucapan lelaki itu. Dia tahu, wajah yang ada di hadapannya adalah seorang lelaki tua yang licik dan suka main perempuan.
"Jerry, kenapa kamu seperti tidak suka melihat wajahku?" Tanyanya sambil tersenyum.
"Ah, selamat siang Pak Broto! Apa kabar? Maaf jika penyambutan kurang baik!" Ucap Jerry sambil merubah raut wajahnya.
"Saya baik, bagaimana kalau kita bertemu. Saya jamin, Pak Jerry akan senang dan melupakan masalah untuk sejenak!" Ucapnya sambil tersenyum.
Jerry nampak mengangkat alisnya, dia tersenyum canggung. "Pak Broto bisa saja, tapi maaf sepertinya saya sedang sibuk untuk kali ini!" Jawab Jerry.
Pak Broto langsung mengalihkan handphonenya kepada seorang wanita yang tengah berbaring. "Bagaimana kalau dengan yang ini?" Tanyanya.
__ADS_1
Jerry nampak mendelikan matanya kembali, karena merasa jijik dengan yang di tawarkan Pak Broto. Jerry tanpa pikir panjang langsung mematikan teleponnya dan duduk kembali.
Beberapa menit kemudian, terdengar handphonenya bergetar tanda pesan datang. Jerry langsung melihat handphonenya dan ternyata ada pesan video dari Pak Broto. Jerry nampak malas, dan tak membuka pesan tersebut. "Dasar bandot tua, aku tidak akan pernah Sudi untuk meladeni kamu. Sogokan kamu tidak akan pernah berpengaruh!" Ucapnya dengan nada geram.