CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Janjian


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Irwan menepati janjinya untuk tidak memberitahukan semua kejadian yang menimpa dirinya. Sedangkan Rama saat itu tak banyak bertanya karena dia tidak mau ikut campur.


Kediaman Irwan...


Terlihat Regina tengah memainkan handphonenya. Wajahnya nampak bimbang sambil melihat nomer handphone yang ada di hadapannya. Akhirnya dia memutuskan untuk menelpon seseorang di handphonenya.


Tut...Tut...


Terdengar suara nada sambung, Regina nampak menggigit jarinya dan menunggu jawaban. Akhirnya handphonenya tersambung.


"Hallo..." Suara dari balik telpon.


"Mas, kita perlu bicara! Aku tunggu kamu di taman kota." Ujar Regina.


"Maaf aku tidak bisa, aku belum siap bertemu denganmu." Jawabnya.


"Mas, aku mohon! Aku akan menjelaskan semuanya." Ucap Regina dengan nada memaksa.


"Baiklah, 1 jam lagi kita bertemu disana!" Ucapnya sambil menutup telponnya.

__ADS_1


Regina tersenyum dan bergegas sambil bersiap. Tak lupa dia menggunakan sedikit riasan di wajahnya. Setelah merasa puas, Regina membawa tasnya dan keluar dari kamarnya.


Di ruang tamu terlihat Irwan menghentikan langkah Regina. "Kamu mau kemana?" Tanyanya.


"Aku mau bertemu Jeremi!" Jawab Regina ketus.


"Aku tidak mengizinkan mu, lebih baik kamu masuk ke kamar." Perintah Irwan.


Regina menatap wajah Irwan dengan tatapan kesal. "Aku tidak suka kamu melarang aku seperti ini. Kita memang suami istri, tapi semua itu hanya perjanjian. Aku menjadi ibu untuk Rama dan kamu menjadi pelindung untukku sementara." Ujar Regina sambil melenggang pergi.


Irwan meraih tangan Regina. "Aku mohon jangan pergi! Lihat aku, kurang apa aku? Selama 20 tahun ini aku menjadi suami yang baik untukmu. Tapi dengan satu hari kamu menghancurkan rumah tangga kita." Ujar Irwan.


"Cukup! Jika aku tahu, semua akan jadi seperti ini. Mungkin aku akan berpikir kembali untuk menerima pertolonganmu." Ucap Regina sambil menepiskan tangannya.


Beberapa menit kemudian...


Mobilnya terhenti dan regina keluar dari mobil tersebut. Dia berjalan masuk ke dalam taman, tempat pertama kali dia menggoda Jeremi saat menjadi bodyguardnya. Regina nampak tersenyum mengenang masa lalunya yang indah.


Semuanya nampak sudah berubah, tapi kenangan di benaknya masih teringat jelas. Regina nampak risau, Jeremi belum datang. Dia nampak melihat kiri kanan dan mencari keberadaannya. Tapi Jeremi tak kunjung datang, hatinya mulai goyah dan menundukkan kepalanya. "Mungkin aku sudah terlalu keterlaluan, tapi aku tidak tahu semuanya akan seperti ini." Ucap Regina.


"Kalau semua orang akan mengetahui masa depan, mungkin kita akan bisa menatanya di masa lalu." Ucap seseorang dari belakang.

__ADS_1


Regina menoleh dan langsung berlari bermaksud untuk memeluk Jeremi. Tapi sayang tangannya di halangi oleh Jeremi. "Kita sudah tidak bisa seperti ini!" Ujarnya.


Regina mulai meneteskan air mata. "Kenapa kamu jadi dingin seperti ini?" Tanyanya.


Jeremi duduk dan menatap langit hijau. "Semuanya sudah berlalu, wajahmu telah berubah. Dan begitupun dengan kehidupanmu." Ucap Jeremi.


Regina mendekati Jeremi dan menggenggam tangannya. "Kamu lihat, wajahku memang berubah. Tapi tidak dengan hatiku, aku masih Riana yang dulu yang selalu mencintaimu." Jawab Regina dengan berlinang air mata.


Jeremi melepaskan genggaman tangannya. "Apakah kamu tahu, saat ini ungu rasanya aku memelukmu dan menciumi mu. Tapi sayang, hati ini benar-benar tak bisa menerima semua kenyataan. Jika kamu bukanlah miliki lagi, kamu telah menjadi istri orang lain." Ucap Jeremi.


"Sayang...!" Ucap Regina.


"Cukup! Andai saja aku bisa memilih, aku lebih memilih kamu meninggal dari pada aku melihat kamu bersama orang lain." Ucapnya.


"Mas..!" Ucap Regina dengan tetesan air mata.


"Tidak, saat ini aku tidak bisa menerimamu. Karena bagai manapun kamu adalah istri sah dari Irwan." Jawab Jeremi.


"Mas, pernikahan kita hanya pura-pura. Dan tolong kamu percaya sama aku, aku tetap mempertahankan tubuhku hanya untukmu." Ucap Regina mencoba meyakinkan.


Jeremi bangkit dan tersenyum ketir sambil meneteskan air mata. "Apakah kamu pernah melihat surat nikah pura-pura?" Tanya Jeremi.

__ADS_1


Regina terdiam dan menundukkan kepalanya. Jeremi tersenyum kembali. "Tidak, kamu sekarang adalah istri Irwan dan Riana sudah meninggal dan itupun menjadi akhir dari pernikahan kita." Jawab Jeremi sambil menghapus air matanya.


__ADS_2