
Semua orang nampak panik melihat regina yang sedang di todong pistol. Lain lagi dengan Jeremi, Ia bangkit dan pergi. Salah satu dari penjahat itu menggertak dengan menodongkan pistol ke arahnya. "Berhenti...! Kamu mau kemana?" Teriaknya.
Jeremi menoleh dan tersenyum. "Aku mau mengambil cek!" Jawab sambil melenggang pergi.
Penjahat itu membiarkan dan menunggu Jeremi. Setelah Jeremi tiba, Ia duduk dengan santainya. "Cepat katakan, kalian mau berapa?" Tanyanya sambil menggenggam pulpen.
"Apa kamu pikir, kami penjahat amatir! Kami adalah penjahat yang setia dan selalu mengerjakan tugas dengan baik." Jawab Ketua penjahat.
Jeremi menyinggung senyumnya. "Aku tahu siapa kalian dan aku juga tahu siapa yang menyuruh kalian. Kalian baginya hanya di jadikan kecoa, yang gagal hanya bisa di injak." Ejeknya.
"Brengsek..! Kamu berani, sepertinya kamu ingin mati." Ancamannya dengan tatapan tajam.
"Kalian tahu, aku adalah seorang bodyguard. Istriku adalah wanita dengan keahlian bertarung melebihi lelaki dan begitupun juga dengan anakku. Bukan hal yang sulit, untuk menghancurkan kalian dalam satu kali tepuk." Tutur Jeremi dengan sombongnya.
Ketua penjahat nampak kesal dan langsung melayangkan pukulan ke wajah Jeremi. Tapi dengan sebelah tangan, Ia menangkisnya dengan mudah. "Apa itu cukup...?" Tanya Jeremi sambil tersenyum.
Akhirnya terjadilah baku hantam, Jeremi dengan mudah menangkis semua serangan. Hingga membuat ketua penjahat kelelahan. Setelah terlihat letih, Jeremi langsung menghujani pukulan di wajah penjahat tersebut hingga terpental ke belakang. "Bagaimana, apakah kalian semua ingin bernasib seperti dia?" Teriak Jeremi dengan tatapan tajam.
Ketiga anak buahnya nampak mundur dan membantu ketuanya untuk bangkit. "Bos, apakah kamu baik-baik saja?" Tanyanya.
__ADS_1
"Kenapa banyak kunang-kunang?" Tanya bosnya yang melantur.
Anak buahnya semakin menciut, bosnya adalah orang yang paling tangguh dan kuat. Tapi dengan pukulan Jeremi, Iya menjadi seperti itu.
Akhirnya anak buahnya memohon ampun dan lebih memilih untuk pergi. Tapi Jeremi tidak mengizinkan, Iya mengulurkan cek ke arah mereka. "Ambillah ini...! Anggap saja sekarang kamu bekerja untukku." Ucapnya.
"Ba..baik!" Ucap salah seorang penjahat yang mengambil cek dengan tangan gemetar.
"Apa yang disuruh wanita itu?" Tanya Jeremi dengan serius.
"D..dia menyuruh kami untuk memperkosa wanita itu dan membuat anda tidak ingin melihatnya lagi." Jawabnya dengan terbata-bata.
Jeremi menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kalau begitu lakukan kepada wanita yang menyuruh kalian. Kalian berempat, dan tenaga wanita itu tidak akan sebanding dengan tubuh kekar kalian. Aku tahu, kalian selalu kesal kepada wanita itu dan lampiaskan lah kekesalan itu pada tubuhnya." Ucapnya.
"Tunggu...!" Teriak Jeremi menghentikan mereka.
"Ada apa tuan?" Tanyanya dengan sopan.
"Aku ingin vidio nya dan ingat aku tidak suka di tipu." Ancamannya.
__ADS_1
"Baik tuan, kami akan melaksanakannya." Jawabnya sambil melenggang pergi.
Jeremi tersenyum dan keluarganya nampak menatap heran. "Mas...apa yang kamu lakukan?" Tanyanya.
"Seperti yang kamu lihat dan dengar!"
"Tapi siapa yang menyuruh mereka dan bagaimana dengan nasibnya!" Ucap Regina yang penasaran.
"Iya pah, apa semua ini tidak terlalu keterlaluan!" Ucap Jenny menyela pembicaraan.
"Sudahlah kalian jangan terlalu polos, wanita itu menyuruh 4 penjahat untuk memperkosa Regina. Dan jika itu terjadi, apa yang akan kalian lakukan?" Tanya Jeremi kepada mereka.
Jerry menganggukkan kepalanya dan menjawab. "Iya, biarkan wanita itu merasakan apa yang dia lakukan. Dia yang tanam, dia juga yang menuai."
"Yah, papa setuju!" Ucap Jeremi.
"Tapi mas, siapa yang menyuruh mereka?" Tanya Regina kembali.
"Nadia!"
__ADS_1
Seketika raut wajah Regina berubah, Iya begitu kesal mendengar nama Nadia. "Ya sudah, biarkan wanita j****g itu merasakan apa yang harusnya kurasakan." Ucapnya sambil mengepalkan tangannya.
Jeremi tersenyum dan mengangguk. "Itu kami ngerti, sekarang yang terpenting adalah kita. Keluarga kita yang tidak boleh di tindas dan disakiti lagi. Sudah cukup kita berpisah dan tersakiti. Sekarang waktunya kita yang berkuasa dan tidak ada yang boleh memisahkan kita." Ucapnya dengan gigih.