CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Usulan Ririn


__ADS_3

Ririn langsung mengganti pakaiannya dan memakai pembalut. Perutnya masih terasa sakit dan Berin pun datang membawa air hangat untuknya. "Mah, minumlah! Semoga dengan air ini bisa mengurangi rasa sakitnya." Ujar Berin dengan penuh kecemasan.


Ririn tersenyum dan mengambil air tersebut. "Gluukk..." Terdengar suara tegukan air.


"Terima kasih sayang, mamah tidak tahu kalau tidak kamu didampingi!" Ucap Ririn sambil memegang pipi anak kesayangannya.


Berin tersenyum melihat Ririn yang sudah tidak pucat lagi. Dia duduk di sampingnya dan menatap langit-langit kamar. "Mah, coba saja papah ada bersama kita sekarang ini!" Ujar Berin sambil melamun.


Ririn nampak menoleh ke arah Berin, ada perasaan iba di hatinya melihat anaknya menjadi menderita. "Apakah kamu merindukan papah?" Tanya Ririn.


"Iya, walau bagaimanapun kasih sayangnya telah banyak aku rasakan. Aku merindukan keluarga kita yang serasa hangat dan penuh kasih sayang!" Ujar Berin sambil tersenyum membayangkan masa lalunya.


Ririn hanya bisa terdiam, dia nampak merenungi ucapan anaknya. "Iya, seharusnya aku dulu tidak egois! Aku pergi dari rumah dan meminta cerai karena aku bukan benci sama mas Benny tapi aku tidak tahan harus bersama lelaki yang sangat kucintai. Tapi dia tak pernah membalas cintaku, memang ini semua salahku. Aku mencintai Jeremi dan dia adalah suami dari adik mas Benny." Batin Ririn dengan segala penuh penyesalan.


Ririn mengambil nafas panjang, dia sudah memikirkan semuanya. "Sayang, bagaimana kalau kita kembali ke rumah kakek?" Tanya Ririn sambil melihat kearah berin.


Berin nampak tertegun dan mendengar ucapan Ririn. "Apa mamah serius? Mamah sudah bercerai dengan papah dan aku telah menculik Laras. Apakah mungkin mereka akan bisa menerima kita kembali?" Tanya Berin sambil menatap wajah Ririn.


Ririn menggenggam tangan Berin dan mencoba meyakinkannya. "Kamu percaya sama mamah, mereka pasti akan bisa menerima kita kembali. Dan jika mereka tidak bisa menerima mamah, setidaknya kamu bisa kembali bersama Papah mu." Ucap Ririn dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


Berin menghempaskan tangan Ririn, dia berdiri dari tempat duduknya. "Tidak! Tidak mungkin aku kembali tanpa mamah, aku tidak mau berpisah dengan mamah!" Ucap Berin menolak usulan Ririn.


Ririn bangkit dengan perlahan dan menghampiri anaknya. "Kamu tenang saja, kalau kamu kembali otomatis uang akan mudah untuk kamu dapatkan. Dan kamu bisa membiayai mamah tanpa sepengetahuan mereka." Ucap Ririn mencoba meyakinkan kembali.


"Tap..." Ucap Berin terhenti.


"Sssttt, sudahlah jangan pikirkan mamah. Yang terpenting sekarang adalah kamu harus kembali. Ini semua demi harta kakekku!" Ucap Ririn dengan nada memaksa.


"Baiklah mah, aku akan melakukannya sesuai dengan yang mamah inginkan. Aku melakukan semua ini demi mamah!" Ucap Berin sambil tersenyum.


Ririn langsung memeluk anak semata wayangnya, tak terasa air mata jatuh dan tersenyum. "Sayang, mamah hanya ingin kamu bahagia dan jika mamah kembali dengan papah mu hidup mamah hanya akan terasa hampa." Batin Ririn.


Keesokan harinya...


Akhirnya Ririn dan Berin berkemas dan memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper. "Mah, ayo cepat kita sudah terlambat!" Teriak Berin sambil melihat kearah kamar Ririn.


"Iya, sayang mamah tahu!" Jawab Ririn sambil keluar dari kamar dengan membawa koper yang berukuran besar.


Berin nampak mengerutkan keningnya melihat barang bawaan sebanyak itu. "Apakah pakaian mamah sebanyak itu?" Tanya Berin.

__ADS_1


"Iya sayang, ini juga belum semua!" Ucap Ririn sambil menarik kopernya.


"Mah, kenapa harus di bawa semua? Kita nanti bisa beli lagi pakaian di Jakarta." Ucap Berin.


"Tidak bisa, semua pakaian ini adalah kenangan. Mamah tidak bisa meninggalkannya!" Ucap Ririn sambil menghampiri.


"Kenangan!" Ucap Berin dengan hati yang terus bertanya-tanya.


Berin akhirnya pasrah dengan keinginan Ririn, setelah selesai mereka langsung pergi menuju bandara. Ririn nampak tersenyum dan semeringah di sepanjang perjalanan. "Apa mamah baik-baik saja?" Tanya Berin sambil melihat kearah Ririn.


"Mamah lebih dari baik-baik saja! Mamah bahagia akhirnya bisa bertemu pangeran idaman yang selama ini mamah rindukan." Ucap Ririn sambil melamun.


"Siapa?" Tanya Berin penasaran.


"Jeremi!" Ucap Ririn. keceplosan tanpa sadar.


"Om jeremi!" Tanya Berin dengan nada terkejut.


Ririn melihat kearah berin dan terkejut mendengar pertanyaan Berin. "Maksud mamah papah mu dan semua yang ada di Jakarta termasuk om Jeremi!" Ucap Ririn dengan beribu alasan.

__ADS_1


Berin nampak ragu, dia masih tak percaya dengan jawaban dari Ririn. "Mungkinkah selama ini mereka punya hubungan?" Batin Berin yang terus bertanya-tanya.


__ADS_2