
Wanita itu terus memperhatikan dari kejauhan, setelah merasa puas wanita tersebut bermaksud untuk pergi. Tapi di saat berbalik, tubuhnya menabrak seseorang. "Aw...!" Rintihnya.
Lelaki itu nampak panik dan langsung membantunya bangkit. "Maaf Bu, saya tidak sengaja." Ujarnya seraya membantu.
Wanita itu bangkit dan tersenyum. "Tidak apa-apa anak muda!" Jawabnya.
Lelaki tersebut membalas senyumnya. Wanita itu nampak memperhatikan wajah yang ada di hadapannya. "Sepertinya saya mengenal kamu!" Ucapnya.
Lelaki itu terdiam, sambil menggaruk kepalanya. "Masa sih Bu!" Jawabnya.
"Iya, saya sering melihat kamu jalan sama Jenny!" Ucapnya.
"Oh jenny. Iya Bu, kebetulan saya teman dekatnya. Memangnya ibu siapa? Saya selama ini baru melihat anda!" Tanyanya.
"Saya ib.. keluarga dekatnya! Dan kebetulan kami terpisah." Ucap wanita tersebut.
"Ooooh...!" Jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.
"Siapa namamu nak?" Tanya wanita tersebut.
"Nama saya Rama Bu." Jawabnya.
Wanita itu tersenyum dan memegangi pipinya. "Nama yang indah, paras yang tampan dan bentuk tubuh yang atletis. Sangat cocok untuk Jenny. Jenny gadis yang baik, tolong jaga dia dan sayangi dia." Ucapnya.
"Pasti Bu! Saya sangat mencintainya. Kalau begitu, mari kita ke sana menemui mereka. Mereka pasti senang melihat ibu ada di sini!" Ajak Rama.
__ADS_1
"Tidak nak, ibu masih banyak urusan. Nanti ibu nyusul tapi tidak sekarang. Kalau begitu ibu pamit dulu, salam untuk semuanya." Ucap wanita tersebut seraya meninggalkan Rama.
Rama terus memperhatikan langkah wanita itu yang semakin menjauh. Di benaknya nampak banyak pertanyaan mengenai wanita itu. "Mungkin lebih baik, aku tanya sama Jenny." Batinnya sambil menghampiri mereka.
Jenny yang nampak melihat Rama semakin mendekat, dia berlari dan memeluknya. Dia nampak menangis di pelukan Rama. "Sayang kamu kenapa?" Tanya Rama sambil mengelus rambutnya.
"Ram, ternyata mamahku masih hidup!" Jawab Jenny.
"Jadi Tante Riana masih hidup, dimana dua sekarang!" Ucap Rama penasaran.
Jenny menggelengkan kepalanya tanpa melepaskan pelukannya. Rama menatap ke arah Jerry. "Mas!" Ucapnya.
"Mamah menang masih hidup, tapi kita tidak tahu dia dimana." Jawabnya.
Jenny menganggukkan kepalanya dan mengajak Rama untuk duduk. Rama menanyakan kabar Jeremi dan menanyakan tentang Riana. Jerry dan Jenny menceritakan semuanya. Rama tertegun dan merasa iba mendengar cerita mereka yang cukup menyayat hati. Dan dua pun teringat dengan wanita yang baru iya temui. "Oh iya mas, tadi aku papasan sama seorang wanita dan dia nampak memperhatikan kalian dari kejauhan." Ucap Rama.
"Wanita! Ucap mereka serempak.
"Iya mas, tadi dia nampak sedih melihat kalian. Dan dia juga berpesan untuk menjaga jenny. Katanya dia keluarga kalian tapi terpisah." Ucap Rama.
Jerry yang mendengar semua itu langsung bangkit dan mencari keberadaannya. "Mungkin itu mamah!" Ucap Jerry sambil berlari melihat sekeliling.
Perasaan Jerry campur aduk, antara senang dan sedih menghampiri hatinya. Senangnya dia merasa mamahnya masih peduli dan memperhatikan mereka dari kejauhan. Tapi sedihnya dia merasa kecewa karena mamah tidak mau menemui mereka.
Tubuhnya lemas dan terduduk di lantai. Dua nampak menangis. Laras langsung menghampirinya dan memeluknya. "Sayang tenangkan dirimu, kamu harus kuat demi adik dan papah. Mamah pasti akan kembali setelah menyelesaikan urusannya. Mungkin kita tidak akan bisa memahami apa yang terjadi di masa lalu. Tapi kita cukup tahu dan mendukungnya." Tutur Laras.
__ADS_1
Jerry menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Iya, aku yakin kita bisa berkumpul kembali." Ucapnya.
"Iya, semoga saja!" Jawabnya.
Dokter akhirnya keluar dari ruangan. Dan Jerry pun bangkit dan menghampirinya. "Bagaimana dengan keadaan papah saya?" Tanya Jerry.
"Keadaannya sudah membaik dan mungkin untuk beberapa Minggu ini Pak Jeremi harus istirahat karena luka di kakinya cukup dalam." Jawab Dokter.
"Syukurlah, apakah kamu bisa menjenguknya?" Tanya Jenny.
"Tentu saja! Kalau begitu saya pergi dulu." Ucap Dokter seraya pergi meninggalkan mereka.
Semuanya masuk ke dalam ruangan. Terlihat mereka nampak iba melihat kaki Jeremi yang di perban. Tatapannya nampak kosong dan raut wajahnya sedih. "Pah!" Ucap Jerry dan Jenny.
Jeremi tersenyum semu. "Papah baik-baik saja! Kalian tidak perlu khawatir." Jawabnya.
Jerry dan Jenny memeluknya. Mereka menangis di pelukan Jeremi. "Pah, Rama tadi berpapasan sama wanita dan dia menyebutkan kalau dua adalah keluarga yang terpisah jauh." Ucap Jenny.
"Benarkah?" Tanya Jeremi sambil melepaskan pelukannya.
Jerry tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya pah, aku yakin wanita itu adalah mamah. Dia juga mengatakan untuk menjaga jenny dan titip salam untuk kita." Ucap Jerry.
Jeremi tersenyum dan tatapan penuh harapan. "Semoga saja, kita bisa berkumpul secepatnya." Ujarnya.
"Amin...!" Jawab mereka serempak.
__ADS_1