CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Surat wasiat


__ADS_3

Jeremy mengepalkan tangannya dan langsung memukul wajah Benny. "Beraninya kamu berkata seperti itu! Dia adalah papah mu sendiri." Ujar Jeremi.


"Bre**sek! Dasar benalu, seharusnya kamu sadar diri dan keluar dari rumah ini. Aku adalah anak kandungnya dan sekarang papah sudah meninggal, sebaiknya kamu berkemas dan pergi dari rumah ini." Teriak Benny dengan nada tinggi.


Jeremy terdiam, dan melenggang pergi. "Baiklah, kalau itu yang kamu mau! Aku akan pergi dari rumah ini." Jawab Jeremi.


Disaat Jeremi melangkah pergi, terlihat seorang lelaki masuk ke rumah dan wajahnya sudah tidak asing lagi bagi mereka. "Hentikan perkelahian kalian, aku disini untuk menyampaikan wasiat dari Pak Candra." Ujar Pak pengacara sambil membawa tas.


Semua orang yang ada di sana nampak terkejut, Benny langsung mengubah raut wajahnya dengan cepat. "Ternyata Pak Andi, ayo silahkan duduk!" Ajak Benny dengan nada sopan.


Pak Andi menganggukkan kepalanya dan duduk. "Saya minta semua keluarga berkumpul di sini, termasuk dengan menantunya Pak Candra yaitu Jeremi." Ujarnya.


Jerry duduk dan menyuruh Laras untuk memanggil Jeremi. Laras pergi menuju kamar Jeremi dan langsung memanggilnya. "Pah, pengacara kakek ingin bertemu!" Ujar Laras.


Jeremi tertegun dan berjalan ke luar. Sesampainya di ruang tamu, Jeremi langsung berjabat tangan dengan Pak Andi. "Selamat sore Pak!" Sapanya.


"Sore mas, saya kemari ingin menyampaikan wasiat dari almarhum Pak Candra dan saya harap kalian bisa menerimanya." Ujar Pak Andi.


Semua orang menganggukkan kepalanya dan Benny semakin bersemangat dan antusias. "Cepatlah, bacakan wasiatnya. Agar benalu di rumah ini pergi dan tak mengganggu lagi." Ucapnya sambil menatap Jeremi dengan sebelah mata.

__ADS_1


Pak Andi tersenyum dan langsung membacakannya. "Dengan ini saya yang bertanda tangan di bawah atas nama Candra Wijaya berwasiat." Ujar Pak Andi.


"Iya teruskan!" Ucap Benny dengan nada tak sabar.


Pak Andi menganggukkan kepalanya dan melanjutkan kembali membaca surat wasiat tersebut. "Perusahaan yang di kelola Jerry akan menjadi miliknya sekaligus saham-sahamnya." Ujar Pak Andi.


Jerry yang mendengar nampak terkejut. "Apa anda tidak salah membaca?" Tanya Jerry sambil mengerutkan keningnya.


Pak Andi tersenyum dan menggeleng kepalanya. "Tidak, itu memang pantas untukmu karena itu semua kerja kerasmu." Jawab Pak Andi.


Benny semakin geram mendengar semua itu. "Sudahlah lanjut!" Ucap Benny dengan nada ketus.


Benny bangkit dan menatap dengan tatapan kesal. "Tidak, dia hanya menantu! Seharusnya rumah ini jatuh ke tanganku." Ujar Benny.


"Ini sudah wasiat dari Pak Candra dan saya tidak tahu apa-apa!" Jawab Pak Andi.


"Teruskan!" Ucap Benny sambil duduk kembali.


"Tanah dan Vila yang ada di Bogor akan jatuh kepada cucunya yang bernama..." Ucap Pak Andi terhenti oleh ucapan Benny.

__ADS_1


"Tentu saja untuk berin anakku!" Ucap Benny menyela pembicaraan.


Pak Andi menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Bukan! Vila dan tanah tersebut di berikan kepada Jenny sebagai hadiah untuk pernikahannya." Jawabnya.


"Ini benar-benar tidak adil!" Ucap Benny kembali.


"Tolong Pak Benny bisa bersabar dulu! Ini baru sebagian dari surat wasiatnya." Ujar Pak Andi.


"Baiklah, lanjutkan!" Ucap Benny dengan nada ketus.


"Dan untuk tabungan di bank sebesar 500 juta akan jatuh ke tangan Berin dan ibunya. Dan untuk Pak Benny, anda mendapatkan uang sebesar 1 milyar." Ucap Pak Andi.


Brakkk...


Benny menggebrak meja dengan tangannya. "Ini semua tidak adil, saya tahu kamu pasti di bayar oleh si benalu ini untuk membuat surat wasiat palsu." Ucapnya dengan nada tinggi.


Pak Andi tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak ini semua nyata dan atas kehendak Pak Candra sendiri. Pak Candra memberikan alasan untuk anda, karena anda telah menggelapkan uang perusahaan sebesar 2 triliun, dan telah mendapatkan bagian setelah perceraian dengan mbak Ririn." Ujar Pak Andi menjelaskan.


Benny, Berin dan Ririn nampak tidak senang dengan hasil dari wasiat tersebut. Meskipun mereka hanya diam, tapi wajah mereka tidak bisa berbohong.

__ADS_1


__ADS_2