
Jenny dan Jerry berlari dan langsung memeluk Regina dengan erat. Air mata nampak mengalir deras. Regina heran dan menatap Jeremi dengan seribu pertanyaan. Jeremi hanya memberi senyum termanisnya.
"Ada apa ini? Kenapa kalian menangis!" Tanya Regina sambil membelai rambut mereka.
"Mama!" Isak keduanya dengan nada berat.
"Kalian...!" Ucap Regina sambil menatap mereka.
Keduanya menganggukkan kepalanya. Regina tersenyum dan meneteskan air mata. "Kalian sudah mengetahui semuanya?" Tanya Regina tak percaya.
"Hiks...Hiks...! Ma, kenapa? Kenapa mama diam saja! Kami sangat merindukanmu." Ucap Jenny sambil menangis.
"Maafkan mama, sayang!" Jawab Regina dengan pelukan erat dan ciuman yang mendarat di kening mereka.
Jeremi, Laras dan Rama nampak ikut terharu. Mata mereka nampak berkaca-kaca. Jeremi menghampiri anak dan istrinya dan memeluk mereka. "Akhirnya, kita bisa berkumpul lagi! Setelah semua yang kita lalui, hidup dengan kesedihan dan penderitaan." Ucap Jeremi dengan tangisan bahagia.
Regina benar-benar bahagia, Ia tak bisa menyangka. Jika impiannya berkumpul bersama telah menjadi nyata. Kedua anaknya, bisa menerima dia dengan wajahnya sekarang.
__ADS_1
Mereka melepaskan pelukan dan duduk di sofa. Jenny terlihat tidak mau jauh dari Regina, Ia terus memeluk Regina. Regina begitu bahagia, melihat anaknya yang begitu manja. Hal inilah yang selalu, Ia rindukan selama ini.
...
Tak terasa, seharian penuh mereka bercengkrama dan saling tertawa bersama. Setelah melepas rindu, Jeremi membawa penghulu dan menikah kembali dengan Regina. Agar memperjelas hubungannya. Regina begitu bahagia dan begitupun juga dengan yang ada di sana.
Setelah mereka sah kembali menjadi suami istri, anak-anaknya nampak mengerti dan meninggalkan mereka.
Sekarang Jeremi dan Regina tinggal di satu ruangan. Tanpa ada satu orang pun, keduanya nampak canggung. Mereka duduk berjauhan, tingkah mereka bagaimana sepasang pengantin muda.
Regina tersenyum. "Emm, aku baik-baik saja!" Jawabnya malu.
Jeremi tersenyum dan memeluk Regina. "Sayang, 25 tahun sudah aku menunggu! Dan mungkin malam ini adalah malam yang selama ini aku dambakan." Ucapnya.
Regina membalas pelukannya dan meneteskan air mata. Ia tak menyangka, jika malam ini adalah malam pertama setelah sekian lama mereka berpisah.
"Sayang...!" Ucap Jeremi yang menunggu jawaban.
__ADS_1
Regina melepaskan pelukan Jeremi dan menatap wajahnya. Ia memejamkan mata dan menc***m bibir Jeremi dengan lembut. Jeremi nampak tersenyum dan membalas. Pertarungan di dalam mulut pun tak bisa di hindari, keduanya begitu agresif.
Setiap sentuhan dan kecupan membuat mereka terhanyut semakin dalam. Jeremi dan Regina begitu menikmati. Jeremi mendorong tubuh Regina ke sofa. Regina pasrah dan terus melayani setiap sentuhan dari lidah Jeremi.
Lenguhan nampak terdengar dari bibir Regina. Jeremi tersenyum dan melepaskan kecupan manis. "Sayang, apa kamu sudah siap?" Godanya.
Regina memalingkan pandangannya dengan pipi yang merah. Jeremi langsung melakukan aksinya, Ia nampak menyusuri leher jenjang dan memberikan tanda kepemilikan yang tak terhitung jumlahnya.
Setelah puas, Ia mulai membuka pakaian regina dan terlihat B*a putih nampak menutupi bagian gunung kembar yang selama ini Ia rindukan. Jeremi langsung memainkan lid*hnya, di p**cak gunung milik Regina sambil sesekali menghisapnya.
Sekujur tubuh Regina terasa panas, Ia nampak menikmati dengan raut wajah merem melek. Kedua tangannya nampak meremas sofa. D***s***n pun mulai terdengar, Jeremi sudah tidak sanggup untuk bermain lagi.
Jeremi membuka pakaiannya dan segera memasukkan burung ke dalam gua yang sudah lama tidak Ia jamah. Regina nampak menikmati setiap gerakan yang dilakukan Jeremi dengan berirama.
Maju mundur, itulah yang di lakukan. Regina sudah tidak bisa menahan. Ia mulai mencapai puncaknya dan begitupun juga dengan Jeremi. Keduanya nampak terkulai lemas, malam terasa panjang untuk mereka berdua. Entah, sudah berapa ronde mereka bertarung.
Tapi yang jelas, malam ini adalah malam terindah untuk keduanya. Malam yang menjadi saksi, bersatunya dua cinta yang telah terpisah jauh. Akankah semua kebahagiaan ini bertahan, akankah mereka bersatu sampai maut yang memisahkan.
__ADS_1