
Beberapa hari kemudian...
Terlihat kediaman Pak Candra nampak ramai, semua orang yang bersiap dan merapikan barang-barang yang ada. "Kamu taruh bunga itu disana!" Ucap Jenny sambil menunjukkan jarinya ke pojok ruangan.
Ruangan yang tertata rapih, dengan hiasan yang indah melengkapinya. "Kurasa semuanya sudah siap!" Ujar Laras.
"Iya kak, terima kasih karena telah banyak membantuku. Oh iya, bagaimana dengan masakan dari restoran yang kita pesan?" Tanya Jenny.
"Tenang! Semuanya sudah siap, kakak sudah menatanya si meja makan." Jawab Laras sambil mengedipkan matanya.
Jenny akhirnya bisa bernafas lega, semua keinginannya akan terkabul. Kedatangan keluarga Rama akan menjadi awal dari hidupnya yang baru.
Jeremy nampak menghampiri dan terlihat Ririn hanya memonyongkan bibirnya. "Kamu kenapa?" Tanya Jeremi ketus.
"Aku baik-baik saja! Oh iya mas, bagaimana kalau aku yang menjadi pendamping mu untuk mewakili Riana!" Ucap Ririn dengan semangat.
"Tidak usah! Lebih baik mengatakan yang sebenarnya dan ingat, aku tidak ingin ada masalah di acara lamaran ini." Ucap Jeremi memberi peringatan.
Ririn nampak mendelikan matanya sambil menyunggingkan bibirnya, melihat Jeremi yang pergi menjauh. "Lihat saja nanti, bukan aku yang membutuhkanmu tapi kamu." Batinnya.
__ADS_1
Akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 09:00. Acara lamaran akan segera di mulai dan terlihat keluarga Rama datang sambil membawa beberapa cendra mata. Tak lupa semua keluarga ada di sana kecuali Benny.
Pakaian yang rapi dan elegan nampak melekat di tubuh keluarga Jeremi. Dan Jenny sebagai primadona menjadi wanita tercantik dengan gaun yang indah dan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi.
Mereka duduk bersama dan terlihat mata Jeremi sedikit membulat melihat ibu dari Rama yang tak lain adalah Regina. Dan ayahnya adalah sahabatnya Dokter Irwan.
Jeremi nampak sungkan dan menyapa mereka meskipun hatinya sedikit kecewa. Regina tersenyum dan memeluk Jenny. "Jadi ini calon menantuku. Cantik, mamah suka dan stek melihatnya." Ujar Regina.
"Terima kasih Tante, saya turut senang mendengarnya." Jawab Jenny.
Irwan memeluk Jeremi dan menyapanya dengan penuh senyuman. "Jeremi kita memang berjodoh. Kita bersahabat lama dan sekarang kita akan menjadi besan." Ucapnya sambil tersenyum.
"Iya wan! Akhirnya aku bisa tenang memberikan Jenny kepada orang yang tepat." Ucap Jeremi sambil tersenyum.
Setelah selesai mereka makan bersama dan terlihat bahagia. Ririn nampak menyunggingkan bibirnya karena merasa kesal dan risih. Hatinya masih kecewa atas penolakan Jeremi.
Setelah selesai makan, Regina mengajak Ririn dan Nadia untuk bercengkrama bersama. Ririn dan Nadia nampak tak bisa menolak dan ikut bergabung di halaman belakang.
"Sepertinya kita memang berjodoh, kemanapun kalian lari aku akan selalu menjadi bayangan kalian." Ucap Regina mengawali pembicaraan.
__ADS_1
Nadia dan Ririn nampak saling menatap. Mereka tak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh Regina. "Apa maksud anda?" Tanya Nadia.
Regina menyunggingkan senyumnya. "Wajah polos tidak berarti hati juga ikut polos. Aku tahu kamu, tapi kamu tidak akan pernah tahu aku." Ujar Regina kembali.
Ririn kesal dan menggelengkan kepalanya. "Apa maksudmu? Kita baru kenal, dan kamu seolah-olah mengenal kami." Ucap Ririn ketus.
"Terserah...! Aku pastikan kalian tidak akan lama lagi tinggal di sini dan aku pastikan kalian akan membayar semuanya dengan tuntas tanpa ada satupun yang tertinggal." Jawab Regina sambil melenggang pergi.
...Ririn dan Regina nampak menyunggingkan bibirnya. Kata-kata yang keluar dari mulut Regina nampak membuat mereka kesal dan mengepalkan tangannya. "Sepertinya kitaharus berhati-hati dengan wanita itu." Ujar Ririn sambil mendelikan matanya....
Di tempat lain...
Terlihat Jeremi dan Irwan tengah mengobrol berdua. Mereka nampak menceritakan masa lalunya sewaktu kuliah dulu dan mereka nampak tertawa bersama.
Di tengah pembicaraan, terlihat raut wajah Irwan berubah. Dia nampak melihat kiri kans dan memastikan tidak ada orang yang mendengarnya. "Jer, aku ingin memberitahu rahasia besar kepada mu!" Bisiknya.
Jeremi nampak mengerutkan keningnya dan melihat kearah Irwan. "Rahasia! Rahasia apa?" Tanyanya.
"Rahasia 20 tahun lalu, dan semua rahasia keluarga ini." Ujarnya.
__ADS_1
Deg...
Jantung Jeremi berdegup kencang dan rasa sakitnya benar-benar sangat terasa. Dia nampak memegang bagian dadanya. Irwan melanjutkan kembali ceritanya. "Ririn, Benny dan Sarah adalah awal dari kehancuran hidupmu." Bisik Irwan kembali.