
Keesokan harinya...
Kicau burung yang saling bersautan menjadi awal di pagi hari. Regina membuka matanya dan merenggangkan otot-otot yang terasa kaku. "Malam ini, aku tidur lelap banget!" Batinnya.
Regina membuka gorden dan melihat pemandangan di pagi hari yang indah. Ia membuka jendela dan menghirup udara yang masih segar. "Nyamannya!"
Tok...Tok...
Terdengar suara ketukan pintu yang membuat dari luar, Regina berjalan mendekati pintu. "Iya, sebentar!"
Regina membuka pintu dan terlihat nenek tengah berdiri di balik pintu. "Ada apa nek?" Tanya Regina.
Nenek tersenyum. "Nak, ada seorang pria di depan! Dan pria itu yang dimaksudkan oleh Rama." Tuturnya.
"Pria!" Ucap Regina heran.
"Iya, ayo cepat bersiap. Ingat, berdandan lah yang cantik!" Ucap Nenek sambil melenggang pergi.
Regina nampak heran dan bertanya-tanya, siapa lelaki yang ada di depan. Akhirnya Regina pergi ke kamar mandi dan mencuci mukanya. Dengan piyama yang membalut tubuhnya dia berjalan keluar.
Dia berjalan dengan penuh penasaran, dengan mata yang terus tertuju pada lelaki yang sedang berbalik. "Siapa lelaki itu!" Batinnya.
Regina sampai dan lelaki tersebut menoleh. Terlihat dalam seketika raut wajah Regina berubah, tetes air mata mulai mengalir di pipinya. "Jeremi!"
Regina langsung memeluknya dengan erat dan menangis di pelukannya. Jeremi membalas pelukannya dan mencium kening Regina. "Tenanglah! Semua penderitaan mu sudah berakhir." Ucap Jeremi.
__ADS_1
Regina tertegun dan mengangkat kepalanya. "Apa maksudmu?"
"Irwan sudah di tangkap dan ada bukti kejahatan yang memberatkannya." Tutur Jeremi.
"Bukti...!"
"Iya, dan kamu tahu pernikahan kalian palsu. Dan surat nikah itu adalah rekayasa. Dan ternyata, Irwan adalah dalang di balik kematian kamu." Jawab Jeremi.
Regina termenung, dia sedih atau bahagia itu yang dirasanya. "Kamu tahu dari mana aku ada di sini?" Tanya Regina.
"Dari Rama!"
"Rama, sekarang dia ada di mana?" Tanya Regina.
Jeremi termenung, dia duduk sambil menghela nafas panjang. "Dia pergi!"
"Iya, dia tidak berani menghadapi kenyataan. Dia tak berani menampakkan wajahnya kepada Jenny atas perlakuan ayahnya yang membuat jenny kehilangan sosok seorang ibu." Jawab Jeremi.
"Kenapa kamu mengizinkan Rama pergi? Rama tidak bersalah, Rama hanyalah korban!" Teriak Regina sambil menangis.
"Sayang tenanglah! Kita akan cari jalan keluarnya!" Jawab Jeremi sambil memeluknya.
Regina terus menangis, hati serasa tersayat mendengar Rama pergi. Padahal cinta Rama begitu besar kepada Jenny. Dan kepergian Rama adalah alasan kebahagiannya. "Jer, tolong cari Rama!" Ucap Regina.
"Iya sayang, aku janji jenny dan pasti akan bersatu tapi tidak sekarang. Biarkan Rama tenang untuk saat ini." Tutur Jeremi.
__ADS_1
Regina tak bisa menahan air matanya. Rama benar-benar telah mengorbankan dirinya hanya untuk kebebasan dirinya. Regina mengambil handphone dan menelpon Rama.
Tidak ada jawaban, Regina semakin panik dan bangkit dari tempat duduknya. "Aku mohon, tolong kamu cari Rama!" Rintihnya.
"Sayang!" Ucap Jeremi.
"Enggak! Perasaanku tidak enak, hatiku serasa sakit. Aku mohon tolong cari Rama." Ucap Regina.
"Baiklah! Ikut denganku, aku akan membawamu menemuinya." Jawab Jeremi.
Regina menghapus air matanya dan tersenyum. Dia berjalan dan masuk ke dalam mobil Jeremi. Jeremi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Regina nampak tak fokus, dua terus meneteskan air mata.
1 jam telah berlalu...
Akhirnya mereka sampai di kediaman Chandra. Regina nampak menoleh dengan membulatkan matanya. "Kenapa kita ads disini?" Tanya Regina dengan raut wajah heran.
"Kamu ikut saja!"
Regina mengikuti langkah Jeremi dari belakang. Kediaman Candra biasanya ramai tapi sekarang menjadi sepi. Jeremi berjalan masuk ke ruangan belakang. Dan dia membuka pintu dengan perlahan. "Masuklah!"
Regina berjalan masuk, dan terlihat seseorang tengah berbaring dengan balutan perban di sekujur tubuhnya. "Siapa dia?" Tanya Regina.
Disaat Regina berjalan menghampiri. Jenny datang dan langsung memeluknya dengan erat. "Mama..!" Isaknya.
Regina tak mengerti dan menatap Jeremi. Jeremi menganggukkan kepalanya dan Regina membalas pelukannya. "Sayang...!"
__ADS_1
"Mama, aku minta maaf!" Rintihnya.
"Maaf!" Ucap Regina semakin tak mengerti.