
Jeremi menghentikan mobilnya dan mereka keluar dari mobil. Terlihat Ririn masih berdiri dan terdiam di depan mobil. Pak Candra yang saat itu sedang emosi langsung menghampirinya. "Hey, kamu sudah gila! Apakah kamu sudah bosan hidup?" Tanya Pak Candra sambil mendorong tubuh Ririn hingga terjatuh.
Seketika Ririn langsung menangis dan memeluk kaki Pak Candra. "Pah, aku minta maaf! Tolong izinkan Berin kembali ke rumah, aku tidak tega melihatnya." Ucapnya.
"Apa yang kamu lakukan, telah membuat aku kecewa? Meskipun kamu telah berjasa besar mengurus Jerry, tapi aku kecewa dengan kelakuanmu!" Ucap Pak Candra sambil mengibaskan kakinya.
Ririn terus memeluk kakinya dengan erat. "Aku tahu, kesalahan ku memang sangat fatal. Tapi walau bagaimanapun Berin adalah cucumu." Ucap Ririn sambil terus menangis.
"Iya, Berin memang cucuku. Tapi aku benar-benar kecewa karena kelakuannya yang telah menculik Laras." Ucap Pak Candra dengan nada tinggi.
Jeremi datang menghampiri dan menenangkan Pak Candra. Dia juga membantu Ririn untuk berdiri. "Pah, kita bicara di tempat lain! Disini banyak orang yang memperhatikan kita." Ujar Jeremi sambil melihat kearah Pak Candra.
__ADS_1
Pak Candra baru tersadar, dia melihat sekeliling dan memang benar semua orang nampak memperhatikan. "Iya, ayo kita bicarakan di mobil!" Ajak Pak Candra.
Jeremi membopong Ririn dan membawanya ke mobil. Dia melihat sekeliling dan mencari keberadaan Berin. "Dimana anakmu?" Tanya Jeremi sambil melihat kearah Ririn.
Ririn menunjukkan jarinya ke arah semak-semak yang tak jauh dari mereka. Jeremi langsung berjalan mengikuti petunjuk Ririn. Dan benar saja, Berin berada di dekat semak-semak dengan keadaan terluka. Wajahnya penuh dengan luka memar dan kepalanya di balut perban. "Nak, ayo kita pulang! Papahmu sudah menunggu!" Ajak Jeremi sambil mengulurkan tangannya.
Berin nampak terkejut dan ketakutan, tubuhnya berjalan mundur. "Maafkan saya Om, saya tidak bermaksud untuk menyakiti Jerry dan Laras." Ujarnya.
Berin menganggukkan kepalanya dan tersenyum, dia meraih tangan Jeremi dan pergi menuju mobil. Pak Candra nampak tidak senang melihat kedatangan Berin ke dalam mobilnya, tapi Jeremi memberikan isyarat kedipan mata. "Ayo masuk!" Ajak Pak Candra dengan nada terpaksa.
Berin masuk ke dalam mobil dan dia duduk di samping Ririn. Jeremi langsung melajukan mobilnya dan tidak ada pembicaraan di dalam mobil. Ririn dan Berin nampak tersenyum kecil, akhirnya rencananya berhasil.
__ADS_1
30 menit kemudian...
Akhirnya mereka sampai di kediaman Pak Candra, mereka turun dari mobil termasuk dengan Ririn dan Berin. Mereka melakukan aktingnya dengan baik, sampai-sampai Jeremi dan Pak Candra tertipu dengan raut wajahnya.
Mereka berjalan masuk dan terlihat di dalam rumah Benny tengah duduk di sofa dengan Jerry. Benny nampak terkejut melihat kedatangan Ririn dan Berin anaknya. Taj terasa air matanya jatuh dan dia langsung memeluk Berin dengan erat. "Nak, kamu kemana saja? Papah sangat merindukanmu!" Ujar Benny.
Berin pun membalas pelukannya dan menangis di pelukan Benny. "Pah, maafkan Berin!" Ucapnya sambil menangis.
Jerry yang melihat Berin langsung berdiri dan menghampiri dengan raut wajah yang kesal. Jeremi meraih tangannya dan menggelengkan kepalanya. Akhirnya Jerry tak bisa berbuat apa-apa, dia terdiam sambil menghela nafas panjang.
"Nak, kenapa dengan wajahmu? Apa yang sebenarnya terjadi!" Tanya Benny dengan raut wajah cemas.
__ADS_1
"Pah, ini semua adalah karma untukku! Aku memang pantas mendapatkannya, karena aku telah menyakiti keluargaku. Terutama Jerry saudaraku!" Ujar Berin sambil menatap ke arah Jerry.