CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Kemarahan Jeremi


__ADS_3

Ririn tersenyum dan melirik ke kancing celana Jeremi. Dia langsung melepas kancingnya dengan perlahan. "Mungkin kalau ada orang yang melihat, aku seperti wanita yang haus ****. Tapi sebenarnya tidak, aku hanya mengambil hak ku yang tertunda." Ujar Ririn sambil tersenyum.


Perlahan Ririn mulai membuka resleting celana Jeremi dengan perlahan dan terlihat mata Ririn mulai membulat melihat gundukan panjang yang terhalang oleh ****** *****. "Eeem...besar sekali!" Ucapnya sambil menjulurkan lidahnya.


Ririn nampak semakin bergairah, syahwatnya sudah tidak bisa di bendung lagi. Dia langsung membuka kancing bajunya dan bersiap untuk melakukan aksinya. Disaat Ririn tengah duduk di atas perut Jeremi, terdengar ketukan pintu yang membuatnya terkejut.


Tok..Tok...


Ririn nampak panik dan kesal. "Bre*gsek !!! Siapa lagi yang menggangu?" Gerutu Ririn sambil turun dari tubuh Jeremi.


"Pah..pah!" Teriak Jerry sambil mengetuk pintu.


Ririn nampak panik dan bersembunyi, sedangkan Jerry masuk ke dalam karena tak mendengar sautan dari dalam. "Pah...!!" Teriak Jerry sambil menghampiri Jeremi yang tengah berbaring di ranjang.


Jerry nampak heran dengan keadaan Papahnya yang telanjang dan resleting celananya terbuka. Jerry menggoyangkan tangan Jeremi dan mencoba membangunkan Jeremi. "Pah, pah!!!" Ujarnya dengan nada panik.


Jerry langsung mengambil selimut dan menutupi tubuh Jeremi. Tak lupa, Jerry mengambil minyak angin dan mendekatkannya ke hidung Jeremi. "Pah sadarlah!" Lirih Jerry.

__ADS_1


"Eeem..." Jawabnya sambil membuka mata perlahan.


"Alhamdulillah, papah sudah sadar!" Ucap Jerry sambil tersenyum.


Jeremi nampak kebingungan, dia bangkit dari tidurnya dan langsung duduk sambil memijat kepalanya. "Apa yang terjadi?" Tanyanya.


"Aku juga tidak tahu, pas aku masuk papah sudah seperti ini!" Jawab Jerry.


Jeremi termenung, dia mencoba mengingat kembali kejadian sebelumnya. Tapi sayang, pikirannya tidak bisa berfungsi dengan baik. Dia tak bisa mengingat kembali kejadian sebelumnya.


Jerry menggenggam tangan Jeremi. "Sudahlah pah, yang penting papah tidak apa-apa!" Ujarnya seraya menenangkan.


Terlihat Ririn masih bersembunyi di balik gorden rumah. Dia terus mengatur nafasnya agar tidak di ketahui oleh Jerry. Melihat Jerry pergi, akhirnya Ririn bisa bernafas lega. Dia berjalan keluar dan menghampiri Jeremi. "Mas!" Ucap Ririn sambil tersenyum.


Jeremi terkejut. "Kamu ngapain di sini, kenapa kancing baju kamu terlepas seperti itu?" Tanya Jeremi dengan heran.


Ririn tersenyum dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Kamu lihat, aku berbaring disini dan kamu di atasnya. Mungkin itu bisa menjadi kebahagiaan untuk kita berdua." Ujar Ririn.

__ADS_1


"Gila...kamu wanita gila!!" Teriak Jeremi sambil bangkit.


Jeremi langsung pergi meninggalkan ranjangnya. Ririn tersenyum dan mengejar Jeremi. Pelukannya mendarat di punggung Jeremi. "Mas, ayolah! Aku sudah tidak tahan lagi." Ucap Ririn.


Ririn meraba seluruh tubuh Jeremi sambil menciuminya. "Mass..." Desah Ririn yang sudah sangat bergairah.


Sentuhan Ririn membuat Jeremi nampak kesal, tangannya nampak mengepal dengan erat. "Hentikan.." Teriak Jeremi sambil mendorong tubuh Ririn.


Ririn pun akhirnya terjatuh ke lantai, tapi itu semua tidak membuat dia menyerah. Ririn langsung menyerang Jeremi dengan kecupan yang mendarat di bibir Jeremi. Jeremi sangat kesal dan langsung menampar pipi Ririn dengan sangat keras.


"Menjijikkan, kamu wanita yang menjijikkan! Jadi kamu yang telah membuat aku seperti ini." Teriak Jeremi.


"Mas, kenapa kamu menamparku!" Teriak Ririn sambil menangis.


Jeremi menyunggingkan senyumnya. "Kenapa, kenapa?" Ucap Jeremi sambil meraih tangan Ririn dan membawanya di hadapan cermin.


"Kamu lihat, kamu lihat..! Lihatlah wajahmu yang menjijikkan ini, apakah wanita seperti mu pantas untuk menggantikan Riana di hatiku. Tidak...itu semua tidak mungkin!" Ucap Jeremi dengan penuh amarah.

__ADS_1


Air mata Ririn jatuh, melihat wajahnya di cermin. "Setelah apa yang kulakukan untuk keluargamu, apakah aku benar-benar tidak pantas untukmu!" Tanya Ririn.


__ADS_2