CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Jebakan Nadia


__ADS_3

Setelah beberapa menit menunggu, terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Nadia tersenyum dan berbaring di ranjang dengan pose terbaiknya. "Masuk!" Teriaknya dengan nada merdu.


Pintu pun terbuka, seorang lelaki masuk dan langsung menatapnya. Dengan senyuman mesum terpancar dari wajahnya. Nadia tersenyum dan menggigit bibir bawahnya seraya menggoda.


Sambil menunggu lelaki tersebut mendekat. Nadia meraih ponselnya yang sedari tadi di sampingnya. Dia memanggil seseorang, setelah handphonenya tersambung Nadia tersenyum licik.


Lelaki itu, langsung menindih tubuh Nadia dari atas. "Apa kamu merindukanku sayang?" Tanyanya sambil memainkan bibir Nadia dengan tangannya.


"Ah...mas! Jangan..." Teriaknya.


Lelaki itu tak menghiraukan, Ia langsung melakukan aksinya dan menghujani leher Nadia dengan tanda cinta. "Merintihlah sayang, aku senang mendengarnya!"


Nadia tersenyum dan mengeluarkan jurus-jurusnya. Dengan segala cara, Ia berteriak seperti orang yang sedang tersakiti dan dianiaya. Padahal, kenyataan Ia sedang menikmati semua sentuhan di area sensitifnya. "Mas, tolong hentikan." Rintihnya.


...


Dibalik telepon...

__ADS_1


Lelaki itu tak bicara, Ia nampak mengepalkan tangannya yang mendengar suara Nadia seperti wanita yang tersakiti. Lelaki tersebut, langsung melempar handphonenya dan berlari menuju kamar Nadia. Dengan kesal, Ia berjalan dan dengan hati-hati membuka pintu.


Dan tubuhnya seketika mematung, dengan mata yang membulat merah mawarnai ekspresi wajahnya. Ia melihat jika istrinya sedang di gagahi oleh anaknya sendiri. Nadia yang menyadari kedatangan Benny langsung mengubah ekspresi wajahnya. "Mas, aku mohon hentikan! Aku adalah ibu tirimu." Rintihnya.


Berin tak berhenti, dia semakin beringas memainkan aksinya. Dan di saat itu pun, Berin mempercepat aktivitasnya karena dia sudah mau mencapai puncaknya. Benny langsung menarik pundak anaknya dan melempar tubuhnya. Alhasil, air **** menyembur keluar dari tempatnya.


Nadia langsung menutupi tubuhnya dengan selimut. "Mas, tolong aku! Berin memaksaku untuk melayani ***** bejatnya." Ucapnya sambil menangis.


Benny yang emosi, langsung menghujani bogem mentah di wajahnya. Dengan begitu ambisi dan *****. Setelah melihat wajah Berin yang penuh dengan darah, Benny berhenti dan hatinya masih merasa kurang puas.


Ia, menarik rambut anaknya dan membenturkan kepalanya ke ujung ranjang yang tajam. Nadia nampak panik dan berteriak. "Tolong...Tolong...!" Teriaknya sambil menangis.


Benny yang kesal, langsung menampar wajah Ririn. "Ini semua adalah hukuman untuk anakmu dan siapapun yang ikut campur akan bernasib sama seperti dia." Teriaknya.


Jeremi dan Jerry langsung menghampiri dan mencoba melepaskan genggaman di rambut Berin. Tapi sayang, hasilnya nihil dan Jeremi terpaksa melakukan kekerasan kepada Benny. Ia memukul wajah dan perut Benny.


Akhirnya Benny melepaskan tangannya dan langsung menyerang Jeremi dengan ganas. Jeremi yang begitu mahir dengan ilmu bela diri, langsung mengelak dan menangkis.

__ADS_1


Jeremy tak mau memperkeruh suasana, akhirnya Jeremy memutuskan untuk melakukan kuncian di tangan dan kakinya sampai Benny tak bisa bergerak. Jerry mengambil air dan langsung membasahi wajah Benny. "Om sadarlah!"


Benny mulai tenang, setelah melakukan perlawanan yang menguras tenaganya. Ririn dan Laras langsung menghampiri Berin yang sudah tak sadarkan diri. Kepalanya penuh dengan darah segar yang mengalir. Ririn begitu histeris dan Nadia nampak tersenyum kecil.


Dia meraih bajunya dan menghampiri mereka. "Semua ini salahku, aku benar-benar minta maaf!" Lirihnya sambil menangis.


Ririn yang terlihat emosi, langsung berbalik menyerang Nadia dan mencakar wajahnya. "Puas kamu, melihat anakku seperti ini! Jangan sok lugu, aku tahu wanita seperti dirimu." Ucapnya.


Regina yang baru datang langsung menghampiri mereka dan menghalangi Ririn. "Hentikan, jangan seperti ini! Kita telpon ambulan secepatnya." Imbuhnya.


Ririn tersadar dan langsung memeluk anaknya kembali. Regina menelpon ambulans dan polisi kemari. Sedangkan Benny yang baru saja sadar akan kesalahannya, langsung menangis dan menghampiri anaknya yang sudah tak berdaya.


"Maafkan papa, nak!" Ucapnya sambil memeluk Berin.


Ririn menampar Benny, dengan pukulan yang cukup keras. "Kenapa kamu melakukan semua ini? Kenapa kamu tak mendengar penjelasan anakmu terlebih dahulu." Ucapnya dengan pertanyaan yang terus menerus.


"Aku gelap mata, aku menyesal." Jawabnya sambil melihat tangannya yang penuh dengan darah.

__ADS_1


Disaat mereka tengah emosi, polisi dan pegawai ambulan datang menghampiri. Polisi langsung memborgol tangan Benny dan Benny tak berontak.


Sedangkan perawat langsung melakukan pertolongan pertama di tempat kejadian. Tapi sayang, raut wajah kecewa nampak jelas menghiasi raut wajahnya. "Maaf pak, Bu! Pasien sudah tak bernyawa, dia sudah meninggal." Ucapnya dengan ragu.


__ADS_2