CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Isi hati


__ADS_3

Regina bangkit dari tempat duduknya dan langsung memeluk Jeremi dari belakang. Jeremi nampak tak bisa berbohong bahwa dirinya sangat merindukan wanita yang dia cintai. Jeremi tak berontak, dia nampak meneteskan air mata merasakan kehangatan dari pelukan Regina.


"Mas tolong percaya sama aku! Aku janji ini semua hanya sementara, setelah Jenny menikah aku akan melayangkan surat gugatan cerai kepada Mas Irwan." Ujar Regina sambil mempererat pelukannya.


Jeremi terdiam dan melepaskan pelukannya. "Semoga saja itu bisa!" Batinnya.


Regina menggenggam tangan Jeremi dan menatap wajahnya. "Sayang, saat ini kita harus bekerja sama. Kita harus bersatu, untuk menghancurkan musuh di rumah kita." Ucapnya dengan penuh keyakinan.


"Iya, aku setuju. Kita mulai dari Ririn." Jawab Jeremi.


"Kenapa harus Ririn, bukannya dia adalah orang yang paling lemah?" Tanya Regina.


Jeremi tersenyum. "Dua memang terlihat lemah, tapi otaknya penuh dengan kemesuman. Kamu tahu, apa yang dia lakukan kepadaku?" Jawabnya.


"Apa yang Ririn lakukan?" Tanya Regina dengan raut wajah penasaran


"Kamu tahu, hampir saja kebujangan Ki di ambil oleh nya. Dia memberiku obat bius dan dengan gilanya dia meraba seluruh tubuhku." Ujarnya.

__ADS_1


"Apa, berani sekali dia? Oh, jadi kamu sek..." Ucap Regina terhenti oleh jari yang menghalangi bibirnya.


"Aku bilang hampir saja, kalau Jerry tidak datang aku tidak tahu apa yang akan terjadi." Jawabnya.


Regina tersenyum dan memeluk Jeremi kembali. "Kamu harus ingat, seluruh tubuhmu hanya milikku dan aku tidak akan pernah mengizinkan wanita lain menyentuhnya." Ucapnya.


Jeremi ikut tersenyum, dia menatap Regina dengan penuh cinta. "Tapi aku ragu terhadapmu!" Ucapnya.


"Kenapa?"


"Aku ragu, selama 20 tahun ini kenapa kamu tidak kembali. Seharusnya kamu bangkit dari kubur, kamu kembali mencari ku." Ucap Jeremi.


Jeremi tertegun dan menatap Regina. "Maafkan aku, aku sudah salah paham. Seharusnya aku tidak berpikir yang tidak-tidak." Ucapnya.


Regina tersenyum dan membaringkan kepalanya di dada Jeremi. "Terima kasih, kamu masih percaya sama aku! Aku rindu situasi seperti ini dan aku rindu kehangatan tubuhmu." Ujarnya.


Jeremi membelai rambut Regina dengan tangannya. Dia nampak mengecup keningnya dan tersenyum. "Aku bahagia kita bisa bersama, meskipun ada tembok penghalang yang harus kita hancurkan." Jawabnya.

__ADS_1


Regina tersenyum dan menatap wajah Jeremi. Dia menggenggam tangannya dengan erat. "Apakah kamu tidak merindukanku?" Tanyanya.


Jeremi menatap wajah Regina. "Aku sangat merindukanmu!" Jawabnya.


"Kenapa kamu tidak melakukan apapun kepadaku, aku ini masih istrimu? Tanyanya.


"Sabarlah, tahanlah nafsumu. Kalau tidak ada tembok, mungkin saat ini kamu sudah habis aku makan. Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi dari kamar sampai aku benar-benar puas dan kamu sudah tak berdaya." Gumam Jeremi.


Regina langsung bangkit dari pelukan Jeremi. "Loh, kok ucapan kamu terdengar seperti kanibal. Kalau aku sampai mati bagaimana?" Ucapnya dengan nada kesal.


"Biarlah, yang penting aku puas!" Jawab Jeremi singkat.


"Kamu jahat..." Ucap Regina sambil memeluk Jeremi dengan nada manja.


Jeremi tersenyum dan terlihat kebahagiaannya mulai kembali. Kicauan burung yang terdengar mengiringi kebahagiaan mereka. Kupu-kupu nampak berlalu lalang dengan pasangannya mewakili kebahagiaan mereka.


Matahari terlihat mulai terbenam, hari pun sudah menjelang senja. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Jeremi dan Regina pergi meninggalkan taman tersebut dan Jeremi mengantarnya. Di sepanjang perjalanan, Regina tak melepaskan pelukan di tangan Jeremi. "Kalau kamu begini terus, bagaimana aku menyetir!" Ucapnya.

__ADS_1


"Biarlah, aku tidak akan melepaskan mu. Aku sangat merindukanmu dan hati ini benar-benar sudah tidak tahan ingin merasakan sentuhan mu." Ucap Regina.


Jeremi menghentikan mobilnya dan terlihat jalanan sepi. Dia menatap Regina dan regina langsung mencium bibirnya dengan lembut. Jeremi melayani keinginannya dan memeluk Regina dengan erat. Keduanya nampak menikmati satu sama lain, jurang pemisah membuat mereka lupa akan usia. Meskipun mereka sudah tidak muda lagi, tapi pertemuan ini serasa mereka masih muda dan kencan buta.


__ADS_2