CEO TAMPAN SANG PUJAAN

CEO TAMPAN SANG PUJAAN
Kebahagiaan di pagi hari


__ADS_3

Tak terasa, hari telah menjelang pagi. Kicau burung dengan riang saling bersahutan. Jeremi terlihat masih terlelap, dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Sedangkan Regina sudah tak nampak lagi, Ia sudah bangun dan setelah mandi langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


Hening, itulah kata yang saat ini terlihat. Tak ada seorangpun yang berada di sana. Yang tersisa hanyalah Jeremi dan Regina. Kedua anaknya nampak mengerti dan memberikan waktu yang panjang untuk kedua orang tuanya.


Regina nampak sedang memasak, Ia terlihat tersenyum sendiri mengingat kejadian di malam tadi. Ia begitu bahagia, karena bisa bersama lagi dengan keluarga kecilnya.


Setelah selesai masak, Regina kembali ke kamar dan bermaksud untuk membangunkan suaminya. Sesampainya di kamar, Regina hanya tersenyum dan duduk di tepi ranjang. Ia terus menatap wajah Jeremi yang selama ini di rindukan. "Pagi sayang!" Sapanya sambil mencium kening Jeremi.


"Eeemmm...!" Jawab Jeremi yang masih mengantuk.


Regina tersenyum dan mencubit hidung Jeremi. Jeremi nampak kesulitan untuk bernafas dan akhirnya membuka mata. "Kamu kenapa sih? Memangnya kamu sudah tidak menginginkanku. Jika aku mati, lalu bagaimana dengan nasib kamu." Ucap Jeremi dengan kesal.


Regina tersenyum. "Memangnya, ada orang yang mati karena di sumbat hidung?" Tanya Regina.


"Ada..!" Jawab Jeremi sambil bangkit.


"Dimana?" Tanya Regina.


"Disini!" Ucap Jeremi sambil menarik tubuh Regina. Ia langsung menindihnya dari atas. "Sekarang kamu harus bertanggung jawab, salah kamu karena telah membangunkan macan tidur."


"Ah.. hentikan mas!" Teriak Regina yang merasa geli karena mendapati Jeremi yang menyusuri lehernya.


"Diam, biarkan aku membuatmu puas!" Jawab Jeremi yang terus melakukannya.

__ADS_1


Akhirnya aksi panas terjadi lagi. Di pagi hari, mereka melakukan olahraga yang nikmat dan melelahkan. Keduanya nampak menikmati, tak ada yang bisa menghalangi keduanya. Meskipun usia mereka sudah tidak muda lagi, tapi perpisahan yang begitu lama menjadikannya seperti pengantin muda.


Setelah mereka cukup lelah, keduanya berbaring dan Jeremi memeluk tubuh Regina. "Sayang, terima kasih karena kamu telah kembali." Ucapnya sambil menatap wajah Regina.


Regina tersenyum dan menatap balik. "Aku yang harusnya berterima kasih, karena kamu telah setia dan menungguku." Jawab Regina.


Jeremi mencium kening Regina. "Sayang, apakah kamu mau memakai nama kamu yang dulu?" Tanya Jeremi.


Regina menggelengkan kepalanya. "Loh.., memangnya kenapa? Aku lebih suka nama Riana dari pada Regina." Tanya Jeremi heran.


"Mas, Riana bagiku sudah mati dengan kisah kelam dan pilu. Aku ingin hidup baru, berkumpul bersama kamu dan anak-anak kita. Aku ingin kita bahagia di kehidupan ini, menimang cucu dan menua bersama." Jawab Regina dengan mata yang berkaca-kaca.


"Baiklah! Kalau itu yang kamu mau." Jawab Jeremi sambil mengangguk.


30 menit telah berlalu...


Mereka keluar dengan bersamaan, terlihat wajah Jeremi begitu segar. Sedangkan Regina nampak mengerutkan wajahnya karena merasa sakit di area sensitifnya. Tapi Regina mencoba menahan, apapun yang Jeremi inginkan akan Ia lakukan. Itu semua, sebagai balasan untuk penantian Jeremi selama puluhan tahun.


Setelah selesai menggunakan pakaian, mereka keluar dari kamar dan sarapan bersama. Regina melayani Jeremi seperti biasanya. Sedangkan Jeremi hanya menatap dengan senyuman.


Disaat mereka tengah menyantap makanan, terlihat anak dan menantunya datang dan menghampiri. Mereka nampak tersenyum, melihat leher Regina yang penuh dengan tanda merah. "Sepertinya, mama semalam tidak tidur nyenyak!" Ucap Jenny.


"Memangnya kenapa?" Tanya Regina heran.

__ADS_1


"Iya, aku lihat leher mama di gigit nyamuk hingga meninggalkan tanda merah yang besar." Jawab Jenny.


Regina nampak malu dan menutupi lehernya dengan kerah baju. Jerry dan lainnya nampak tersenyum bahagia. Laras nampak memberikan isyarat kepada jenny agar tidak menggoda kedua orang tuanya. Jenny berhenti dan duduk di samping Regina. "Ma, aku lapar! Aku mau di suapin." Ucapnya manja.


"Iya sayang, kamu mau makan sama apa?" Tanya Regina lembut.


"Apa saja?"


Regina menyuapi Jenny dengan lembut. Jerry nampak memonyongkan bibirnya karena merasa iri. "Heh... sudah besar masih mau aja di suapin!" Ucapnya ketus.


Jeremi tersenyum dan mengambil sendok yang sudah berisi makanan. "Jangan iri sama adik kamu, ayo buka mulutnya kapal akan masuk." Ucapnya sambil memainkan sendok nya.


"Papa..!" Teriak Jerry kesal.


"Ayo makan!" Ucap Jeremi.


Jerry langsung menyantap makanan yang ads di sendok sambil tersenyum. Jeremi langsung menggosok rambut Jerry. "Anak pintar!" Ucapnya.


Mereka nampak tertawa bahagia. Arti keluarga benar-benar terasa. Disaat kebahagiaan yang dirasa, tiba-tiba pintu di dobrak dengan kasar. Nampak 4 orang lelaki dengan tubuh kekar masuk sambil menodongkan pistol. "Jangan bergerak, kalian sudah di kepung." Teriaknya.


Jeremi dan keluarga nampak terkejut dan mengangkat tangan. Mereka menghampiri, sambil menodongkan pistol di kepala Regina. "Ikut kami, jika tidak peluru ini akan menembus otakmu!" Ancamannya.


"Siapa kalian? Dan apa yang kalian inginkan!" Teriak Jeremi.

__ADS_1


"Kami hanya menjalankan tugas, jika kalian tidak berontak maka kalian aman. Kami hanya membutuhkan wanita gatel ini." Jawab salah seorang penjahat.


__ADS_2