
Brrakkk...
Jeremy menggebrak meja dengan sangat keras, hati dan pikirannya benar-benar tak menentu. "Tidak mungkin, saya dan keluarga menyaksikan penguburannya!" Ucap Jeremi dengan nada keras.
Pengurus menggelengkan kepalanya dan menatap kearah Jeremi. Jeremi langsung mengambil handphonenya dan memanggil nama Jerry.
Teleponnya langsung tersambung dan terdengar suara Jerry di balik telpon.
"Hallo pah!"
"Jerry, cepat ketempat pemakaman mamahmu!" Ucapnya Jeremi dengan nada serius.
"Memangnya ada apa pah?" Tanya Jerry.
"Sudahlah jangan banyak bertanya, papah tunggu kamu disini!" Ucap Jeremi sambil menutup telponnya.
Jeremi keluar dari tempat pengurus dan duduk di luar. Tiba-tiba, matanya tertuju pada seorang wanita yang lagu nyekar ke makam Pak Candra. Jeremi penasaran dan langsung menghampirinya. "Anda siapa?" Tanya Jeremi ketus.
Wanita itu nampak terkejut dan menoleh ke arah Jeremi. Mata Jeremi nampak membulat melihat wajah wanita itu, dengan paras cantik dan menawan. "Mas...!" Ucap wanita tersebut.
Jeremi tersadar dan melihat wanita itu. "Kami siapa dan kenapa kamu nyekar di makam papah saya?" Tanya Jeremi kembali.
"O..oh, maaf mas! Mungkin saya salah makam dan kebetulan namanya sama hanya bin saja yang berbeda!" Jawab wanita itu sambil tersenyum.
Jeremi nampak mencari nama nisan yang sama dengan Pak Candra, tapi hasilnya nihil. Jeremi nampak menatap wanita itu dengan tatapan tajam. "Sebenarnya, siapa kamu?" Tanya Jeremi.
Wanita itu nampak tak bisa berkata-kata dan melenggang pergi. Jeremi menggenggam tangan wanita itu untuk menghentikan langkahnya. "Siapa kamu? Karena saya tahu, papah tidak punya kerabat lagi. Dan apa hubungannya kamu dengan papah, saya lihat kamu begitu sedih saat membelai nisannya." Tanya Jeremi.
__ADS_1
Wanita itu mencoba berontak, tapi sayang tenaga Jeremi lebih kuat. Akhirnya wanita itu menyerah dan berdiri tepat di hadapannya. "Lihat aku, apakah kamu mengenaliku?" Tanya wanita itu.
Jeremi nampak menatap lekat-lekat wajah wanita tersebut, matanya yang indah menginginkannya kepada Riana. Disaat Jeremi termenung dan terus menatap wajah wanita itu, Jerry datang menghampiri dan memanggil namanya. "Pah!" Ucap Jerry.
Jeremi berbalik dan melihat kearah Jerry dan wanita itupun akhirnya pergi. Jeremi menoleh dan terlihat kekecewaan nampak jelas di wajahnya. "Siapa wanita itu? Apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui!" Batinnya yang terus bertanya-tanya.
Jerry menghampiri dan memegang pundaknya. "Sebenarnya ada apa ini pah? Kenapa suara papah terdengar panik!" Tanya Jerry.
"Iya pah, tolong jangan buat kami penasaran!" Ucap Laras dengan wajah cemas.
Jeremi membuang nafas panjang. "Papah mau tanya sama kamu, dimana makam mamahmu?" Ucap Jeremi.
Jerry dan Laras nampak saling menatap, karena tak mengerti dengan apa yang dia maksud. "Maksudnya pah?" Tanya Jerry.
"Sudahlah, cepat tunjukkan dimana makam mamahmu!" Ucap Jeremi ketus.
"Iya, itu juga yang jadi pertanyaan. Malah, papah sudah bicara dengan pengurus di TPU ini tapi katanya tidak ada makam atas nama Riana." Jawab Jeremi.
"Tidak mungkin, sebenarnya apa yang terjadi! Malah makam mamah menjadi saksi pertemuanku dengan Laras!" Ucap Jerry sambil menggelengkan kepalanya.
Terlihat penjaga makam datang menghampiri melihat mereka kebingungan. "Sebenarnya, beberapa tahun ke belakang semua makam di sini banyak yang dibongkar termasuk dengan makam yang ada di sini." Ucapnya.
"Memangnya kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Jerry tak mengerti.
Pak pengurus mengajak mereka ngobrol di tempatnya. Jeremi, Laras dan Jerry mengikuti dari belakang. Sesampainya di tempat mereka langsung duduk dan istri pengurus nampak memberikan air putih untuk mereka. Istri pak pengurus nampak ikut bergabung duduk bersama mereka.
"Begini mas, di TPU ini ada beberapa masalah. Pemerintah menggali semua makam fiktif dan termasuk makam atas nama Riana." Ucapnya.
__ADS_1
"Tidak mungkin, saya melihat jelas istri saya masuk ke dalam liang lahat dan menguburkannya." Ucap Jeremi sambil menggelengkan kepalanya.
Jerry mengelus punggung dan menenangkan Jeremi. Istrinya mulai mengawali pembicaraan. "Iya mas, saya menjadi saksi kalau tidak salah 20 tahun yang lalu ada tragedi pencurian makam. Di hari yang sama, makam atas nama Riana telah di bongkar orang yang tak bertanggung jawab." Ucapnya.
"Jadi maksud ibu, makan mamah saya di bongkar saat kami pergi meninggalkan pemakaman?" Tanya Jerry dengan raut wajah penasaran.
"Iya mas, dan kami sebagai pengurus takut membicarakan ini semua kepada pihak keluarga dan memutuskan untuk menutup kembali makam tersebut." Ujar istri pengurus.
Jeremi begitu kesal mendengar semua itu dan bangkit dari tempat duduknya. "Kalian... kalian benar-benar tidak punya perasaan. Seharusnya kalian memberitahu kami, jangan hanya diam saja seperti ini. Mungkin kalau kami tidak mengetahui, kalian akan diam untuk selamanya!" Teriak Jeremi dengan penuh rasa kecewa.
Jerry menenangkan Jeremi kembali dengan pelukan. "Pah, tenanglah!" Ucap Jerry.
Jeremi tak bisa membendung air matanya, dia
menangis di pelukan Jerry. Pak pengurus nampak menatap iba dan masuk ke dalam rumahnya. Dia nampak mengambil handphonenya. "Mas, handphone ini sengaja saya simpan selama ini! Di dalamnya ada bukti, untuk kejadian yang menimpa makan istrimu." Ucap pengurus sambil memberikannya kepada Jerry.
Handphonenya nampak usang dan rusak, dia mengambil memori card dan memasukkan ke handphone. Jeremi, Jerry dan Laras nampak menyaksikan rekaman video amatir yang berdurasi cukup panjang.
Terlihat di rekaman tersebut, seorang lelaki nampak tengah menggali makam Riana. Setelah cukup lama, lelaki tersebut mengeluarkan jenazah Riana dan terlihat jelas membuka penutup wajah Riana dan membuka sumbatan hidungnya. Dan terlihat, jenazah Riana bangkit dengan batuk yang terus menerus.
Jeremi nampak meneteskan air mata dan hatinya nampak tersenyum. "Jadi mamahmu masih hidup! Tapi kalau benar, kenapa dia tidak menemui papah dan siapa lelaki itu?" Ucap Jeremi yang terus bertanya-tanya.
"Tenanglah pah, jangan berburuk sangka. Semua ini adalah konspirasi untuk menjauhkan papah dengan mamah. Tapi aku juga tidak tahu, kenapa mamah tidak kembali dan menemui kita." Ucap Jerry dengan tatapan sendu.
Jerry dan Jeremi termenung melihat semua itu, sedih dan bahagia bercampur aduk di hati dan pikiran mereka. Laras bangkit dan menenangkan mereka berdua. "Mas, pah! Jangan terlalu menyalahkan mamah, bisa saja sekarang ini mamah mengetahui sesuatu dan tidak ingin membuat kalian berada di dalam bahaya." Ujar Laras.
Jeremi dan Jerry nampak menatap wajah Laras. "Itu semua ada benarnya, tapi mungkin saja mamah kecewa karena papah tidak bisa melindungi adikmu dan dia tidak mau memaafkan papah." Ucap Jeremi sambil meneteskan air matanya kembali.
__ADS_1
Disaat mereka tengah bersedih dan menyalahkan diri, gumpalan kertas tepat datang di hadapan mereka. "Kertas apa ini?" Tanya Jerry sambil membukanya.