
Satu Minggu telah berlalu, Rama tak kunjung sadarkan diri. Regina selalu bersamanya dan menemani sekaligus merawatnya. Disaat Regina tengah melihat wajah Rama, seorang wanita datang menghampiri dan wanita itu ialah Nadia.
Dengan langkah anggun, Nadia berjalan. Polesan di wajahnya terlihat persis seperti Riana. "Kapan kamu akan pergi dari sini?" Tanyanya.
Regina menoleh sambil menyunggingkan bibirnya. "Aku akan disini selama anakku ada disini!" Jawabnya.
Nadia duduk di sofa sambil melihat tangan di dadanya. "Alasan! Aku tahu, kamu sengaja melakukan semua ini terhadap anakmu agar kamu bisa mendekati Jeremi dengan mudah."
"Untuk apa aku menyakiti anakku sampai seperti ini, hanya untuk mendekati Jeremi. Jika memang berjodoh, kita pasti agar bersama." Jawab Regina dengan santai.
Nadia terpancing emosi dan bangkit dariari duduknya. Ia nampak mengangkat tangannya seperti ingin menampar, tapi sayang Regina menangkisnya dengan mudah. "Kenapa kamu marah?" Tanyanya sambil mengangkat alis.
"Lepaskan tanganku!"
"Untuk apa? Untuk membuatmu leluasa menamparku." Ucap Regina dengan sombongnya.
__ADS_1
Nadia menggerakkan tangannya dan berontak. Tapi sayang, genggaman tangan Regina begitu erat sampai sulit untuk melepaskan diri. Dan akhirnya, Nadia mempererat berontak di tangannya. Regina melepaskan genggamannya dan membuat Nadia terjatuh ke lantai.
"Lancang sekali kamu! Ingatlah, aku adalah Riana Candra istri dari Jeremi. Meskipun kami belum bisa bersatu, tapi yakinlah seberat apapun cobaan yang menghalangi kami pasti akan tetap bersama." Teriaknya sambil berlari.
Regina tersenyum. "Dasar wanita j****g, berani sekali mengaku menjadi diriku. Selama aku di rumah ini, tidak ada yang bisa menyentuh suamiku." Batinnya.
...
Di tempat lain...
Disaat itu, seorang lelaki datang menghampiri dan memeluknya dari belakang. "Kenapa sayang, kamu marah-marah?" Tanyanya.
"Lepas!" Ucap Nadia dingin.
Lelaki itu nampak tersenyum, dan menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Lelaki tersebut, mencumbui dengan penuh *****. Nadia yang kesal langsung mendorong tubuhnya. "Lepaskan, aku jijik sama kamu!" Teriaknya.
__ADS_1
Lelaki tersebut nampak kesal, mendengar kata jijik yang di lontarkan oleh Nadia. Dengan tatapan dingin, lelaki itu langsung menampar wajahnya hingga pipinya bengkak.
Nadia menangis dan meminta ampun kepada-nya. "Maafkan aku mas, aku minta maaf!" Rintihnya.
Lelaki itu bangkit dengan tatapan keji. "Kamu disini sebagai pengganti. Ingat aku tahu siapa kamu, dan semua rahasia besar mu ada di tanganku." Ucapnya sambil melenggang pergi.
Nadia bangkit dan memegangi pipinya yang serasa bengkak. "Brengsek, bapak sama anak sana saja! Kenapa aku harus terjebak, diantara mereka berdua." Tuturnya.
Nadia yang wajahnya terlihat lugu, sekarang bagaikan penjahat yang penuh dengan dendam. Amarahnya semakin meluap, dan tak bisa di hindarkan lagi. Dia berjalan dengan langkah yang tak beraturan. "Aku tidak suka di permainkan seperti ini, aku harus membungkam mulut 2 lelaki itu." Batinnya.
Dia berjalan dan pergi ke kamarnya, tak lupa dia membersihkan tubuhnya ke kamar mandi dan setelah selesai, dia pergi menuju lemari pakaian dan mencari baju tidur dewasa yang tipis dan terbuka.
Setelah selesai, dia berjalan menuju hadapan cermin dan melihat pantulan wajahnya. "Sudah, dengan begitu kita bisa mulai." Batinnya sambil tersenyum.
Dia mengaktifkan kamera dan membuat rekaman video. Dengan tubuhnya yang molek, dia meraba seluruh tubuhnya dengan sendiri. Dengan ******* yang cukup keras dia berkata. "Mas, kemarilah aku sudah tidak tahan!" Lirihnya.
__ADS_1
Setelah selesai membuat Video, dia nampak tersenyum dan mengirimkan Vidio tersebut kepada suami ke dua. "Oke, sekarang kita tinggal menunggu umpan di makan." Ucapnya sambil tersenyum puas.